Resep Kebangkitan Fiorentina Di Tangan Paulo Sousa

Tangan dingin Paulo Sousa berhasil mengangkat kinerja La Viola menembus papan atas dan bahkan bersaing lebih jauh dalam perburuan scudetto Serie A.

Sejak pertama kali Paulo Sousa mendarat di Artemio Franchi, Fiorentina telah menikmati periode kebangkitan yang luar biasa dengan sejumlah pemain seperti terlahir kembali serta mampu memberikan performa terbaik.

Padahal, sebelumnya ada banyak keraguan yang meliputi mengenai kapasitas pelatih asal Portugal itu saat pertama kali tiba di Toscana. Nada-nada sumbang muncul dikarenakan Sousa pernah menjadi bagian dari skuat Juventus - yang merupakan rival La Viola - saat masih berstatus sebagai pemain.

Namun segala bentuk keraguan akhirnya memudar dan justru berubah menjadi suasana suka cita, sebagaimana pria 45 tahun tersebut menunjukkan sentuhan dinginnya dengan mampu membawa Fiorentina bisa meraih posisi capolista pentas Serie A Italia musim ini, untuk kali pertama dalam kurun waktu 16 tahun terakhir.

Determinasi tinggi serta sistem metodis adalah pendekatan yang diterapkannya sejauh ini, sebagaimana yang diungkapkan Sousa saat awal ditunjuk menangani Fiorentina: "Itu merupakan perpaduan dari gaya [Fabio] Capello, [Luciano] Spaletti dan Luis Enrique."

Jejak keberhasilan Sousa tak hanya didasarkan pada pergerakan timnya yang begitu aktif di bursa transfer musim panas kemarin. La Viola total mendapatkan dana pemasukan sebesar €16 juta dan mengeluarkan dana belanja senilai €17.6 juta, mendatangkan sejumlah pemain di antaranya Nikola Kalinic dan Jakub Blaszczykowski yang menjadi tulang punggung tim saat ini.

Tak berlebihan rasanya jika menyebut kelihaian Sousa dalam memodifikasi taktik Fiorentina menjadi pokok suksesnya sejauh ini. Bagi mantan pelatih Basel tersebut, keberadaan dua sosok gelandang bertahan dan satu playmaker adalah keharusan dalam taktiknya. Adapun perubahan awal yang dilakukannya yakni mengubah formasi tiga gelandang peninggalan pelatih sebelumnya, Vincenzo Montella menjadi formasi favoritnya 4-2-3-1 dengan mengandalkan dobel pivot.

Peran Borja Valero lebih krusial di dalam skema tersebut, di mana gelandang asal Spanyol itu menjadi salah satu pengatur serangan tim dengan diberikan kebebasan ruang untuk berkreasi dari lini kedua. Pemain lain yang juga tak kalah penting adalah Josip Ilicic, jarang mendapat kepercayaan di bawah komando Montella, kini pemain 27 tahun itu berkembang dan tampil gemilang kala ditempatkan sebagai penyerang lubang. Tak hanya Ilicic, sejumlah pemain lain seperti Milan Badelj, Matias Vecino, Mati Fernandez juga menikmati peran mereka.

Perubahan fundamental lainnya yang dilakukan Sousa adalah dengan berani mendepak Mario Gomes, yang merupakan andalan lini depan selama beberapa musim terakhir. Penyerang asal Jerman itu dinilai tak cocok untuk masuk dalam skema Sousa, di mana tim kini lebih memiliki gaya sepakbola tiki-taka yang dikombinasikan dengan pressing dinamis pada lawan. Sebagai gantinya, kini Sousa mengandalkan Kalinic sebagai pengganti Gomez.

Kelebihan lainnya yang dimiliki oleh pria asal Portugal tersebut adalah memiliki kepercayaan terhadap penggawa muda Fiorentina. sejauh musim ini berjalan beberapa youngster singgah di skuat utama tim, di antaranya penyerang Khouma Babacar, bek menjanjikan Ricardo Bagadur serta gelandang serang Fernando Bernadeschi yang belakangan namanya menarik perhatian deretan klub papan atas Eropa termasuk Barcelona.

Meski tak terlalu buruk, Sousa menilai barisan belakang pasukannya masih memerlukan pembenahan. Selepas kecolongan dengan penjualan Stevan Savic ke Atletico Madrid musim panas lalu, Sousa selebihnya bertindak langsung dalam mencegah kepergian Facundo Roncaglia menuju Olympique Marsellie dan mendatangkan Davide Astori dari Cagliari. Dua keputusan krusial tersebut menjadikan Fiorentina kini menjadi tim dengan pertahanan terbaik ketiga di Serie A.

Sousa juga merupakan pelatih dengan penganut pemahaman garis pertahanan tinggi, taktik itu membutuhkan seorang penjaga gawang yang bisa berfungsi sebagai sweeper, seperti yang diperankan Manuel Neuer di Bayern Munich. Sejauh ini Ciprian Tatarusanu menjadi andalannya, namun juga tak menutup mata pada potensi Luigi Sepe yang dinilainya punya kelebihan dalam memainkan dan menahan bola dengan kakinya.

Jika sebelumnya sering dikatakan bahwa pelatih terbaik hanya akan mampu meningkatkan kemampuan tim paling banyak 10 persen. Namun sepertinya itu tidak terjadi pada Fiorentina dan Sousa, dengan status tim yang saat ini tengah bersaing dalam perburuan scudetto musim ini dan bukan tidak mungkin pencapaian maksimal mampu digenggam klub asal kota Florence itu di akhir musim ini.