REVIEW: Performa Arsenal Di Musim 2013/14

Dari yang tadinya berstatus pejuang juara, akhirnya dahaga trofi itu pun berlanjut. Periode pengujung musim dirangkum Arsenal dengan berjuang hebat mengklaim posisi empat besar.

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Arsenal membuat kejutan di awal musim ini dengan berhasil mendatangkan superstar Real Madrid Mesut Ozil. Transfer dengan mahar mancapai €50 juta ini sekaligus memecahkan rekor pembelian termahal klub.

Selain dalam rangka menjawab kerinduan fans akan sosok bintang di tim, diangkutnya Ozil adalah bentuk harapan agar The Gunners bisa mengakhiri dahaga juara mereka yang lamanya sudah menyentuh angka sedekade.

Di periode awal musim, pasukan Arsene Wenger tampak menjanjikan. Segala sesuatunya seolah berjalan sesuai rencana. Dalam beberapa bulan mereka nyaman duduk di tampuk tabel Liga Primer Inggris meninggalkan rival-rivalnya. Namun di tengah kegemilangan itu, "penyakit" lama Arsenal pada akhirnya kambuh: inkonsisten dan krisis cedera.

Pelan-pelan, performa mereka merosot di paruh kedua musim, sementara para pesaing juara seperti Manchester City, Liverpool dan Chelsea sanggup menjaga kualitas terbaiknya. Alhasil, Arsenal 'dipaksa' kembali ke habitat, rela tidak rela jelang berakhirnya musim Per Mertesacker cs pada prosesnya kembali 'hanya' berjuang finis di empat besar secara susah payah bersaing dengan Everton.

Tabuh genderang dimulainya musim EPL ditandai Arsenal dengan kekalahan 3-1 dari Aston Villa. Suara pesimistis pun menggelora di pekan pertama. Namun setelahnya, The Gunners bak kesetanan. Dari total 19 laga sepanjang paruh pertama musim, 13 kemenangan sukses diklaim, termasuk ketika memenangkan Derby London Utara kontra Tottenham [1-0] dan Liverpool [2-0]. Catatan yang akhirnya menempatkan Arsenal juara setengah musim.

Hanya saja, enam hasil tak memuaskan sisanya diperoleh dari menghadapi beberapa tim besar. Ironisnya hasil ini justru menentukan langkah berikutnya Arsenal. Di kaki Manchester United, kubu Emirates menyerah 1-0 dan di periode Desember tiga hasil tak maksimal secara berturut-turut dipetik kala ditahan Everton [1-1], digilas Manchester City [6-3] dan diredam Chelsea tanpa gol. Meski tetap menjadi raja separuh musim, catatan di atas buntutnya membuat laju Arsenal di pergantian tahun rawan tersalip: City mengintip posisi teratas dengan jarak satu angka, disusul Chelsea [dua poin] dan Everton [lima poin].

Petaka akhirnya datang ketika Arsenal menutup periode Januari dengan hasil seri lawan Sunderland [1-1], yang lantas memuluskan jalan The Citizens ke puncak tabel menyusul kemenangan bombastis mereka atas Tottenham, 5-1. Perjuangan di paruh kedua musim pun terasa tambah sukar lantaran beberapa nama penting silih berganti mengalami cedera [Theo Walcott, Mesut Ozil, Aaron Ramsey, Jack Wilshere dan Thomas Vermaelen].

Hati para Gooners kian teriris menginjak periode Februari-Maret lantaran harus menyaksikan timnya dipukul Liverpool [6-1], Stoke City [1-0], Chelsea [6-0] dan puncaknya kekalahan dari Everton [3-0] yang membuat Arsenal berada dalam situasi seperti ini: jangankan juara, bisa meraih tiket terakhir ke Liga Champions saja sudah syukur. Beruntung, gap satu poin dengan Everton akhirnya bisa dijaga skuat Wenger yang sukses menyapu bersih lima laga pamungkas dengan raihan tripoin.

Terkejut dengan penampilan Aaron Ramsey di musim ini? Wajar. Pasalnya, bila mengamati rekam jejaknya dalam beberapa musim ke belakang, gelandang Wales ini tak lebih dari seorang pemain kaca yang acapkali hilir-mudik masuk ruang perawatan gara-gara cedera. Tapi sebagian besar kampanye 2013/14 dilalui midfielder 23 tahun ini dengan cerita manis. Bahkan boleh dibilang musim ini adalah yang terbaik sepanjang karier Ramsey.

Untuk ukuran seorang gelandang, torehan sepuluh gol tentu jadi satu catatan yang luar biasa. Malah jumlah ini barangkali bisa bertambah andai Ramsey tidak absen selama periode awal tahun hingga akhir Maret. Bersama Olivier Giroud [15 gol], mereka berdua adalah topskor Arsenal 2013/14.

Kontribusi Ramsey tak berhenti di situ. Dia merupakan bagian dari kunci permainan umpan-umpan pendek ala 'Arsenal way'. Total 1515 umpan dengan persentasi sukses mencapai 84,4 persen, di mana setiap laga menghasilkan umpan kunci dengan rasio 1,4 menjadi buktinya. Wajar bila kemudian dirinya menjadi pemain keempat terajin dalam mendistribusikan bola setelah Mikel Arteta, Mesut Ozil dan Santi Cazorla. Di luar gol, secara keseluruhan musim ini ditutup Ramsey dengan catatan delapan assist, kedua terbaik setelah Mesut Ozil [9].

Di antara sederet kontribusinya itu, dua gol [vs Hull dan Norwich City] dan tiga assist [satu vs West Ham dan dua vs Hull] kemudian menentukan laju Arsenal ketika menyapu bersih lima pertandingan terkahir dengan tripoin untuk memastikan keluar sebagai 'pemenang' tiket terkahir ke Liga Champions, mengalahkan Everton.

Terlepas dari keberhasilan mereka menduduki posisi puncak dalam beberapa bulan di musim ini, Arsenal tak punya banyak momen spesial. Dua kemenangan di Derby London Utara? Mungkin lebih tepat bila menyebut hasil di laga itu sebagai ajang adu gengsi.

Selebihnya, seperti dijelaskan di atas, Arsenal tak cukup tangguh ketika dihadapkan pada laga-laga masif.

Rasanya, momen terbaik Arsenal justru datang ketika menghadapi tim-tim semenjana di lima laga terkahir liga. Pasca-dikalahkan 3-0 oleh Everton pada 6 April lalu, Arsenal seketika terancam absen di Liga Champions untuk pertama kalinya sejak ditangai Wenger [1996] lantaran posisi mereka di empat besar dibayang-bayangi The Toffes dengan jarak satu angka menguntit di belakang. Namun, kenyataan inilah yang menjadi istimewa, bahkan terbilang dramatis.

Seakan tak mau memberi nafas bagi pasukan Roberto Martinez, dengan hausnya Arsenal membabat habis secara sempurna lima partai penutup dengan mencatatkan produktivitas gol 12-1 [West Ham United 3-1; Hull 3-0; Newcastle 3-0; west Bromwich Albion 1-0; dan Norwich 2-0]. Lukas Podolski menjadi aktor penting di balik kebangkitan tim berkat empat gol dan satu assist-nya dari lima pertandingan ini.

Harapan itu pun pupus. Kira-kira ungkapan ini sepertinya mewakili hati segenap para loyalis The Gunners melihat petualangan Arsenal sepanjang musim ini. Dari yang tadinya memiliki kesempatan juara, tiba-tiba lenyap ditelan bumi. Apa pasal? Lagi dan lagi inkonsistensi dan badai cedera berbicara.

Dua hal yang sudah seharusnya menjadi PR besar bagi Wenger dalam beberapa musim ini. Sejumlah pihak sempat menyoroti bagaimana metode latihan Arsenal yang dianggap salah. Salah satunya adalah Raymond Verheijen, seorang pelatih kebugaran sepakbola. Dia secara vokal menilai Wenger melatih anak-anak asuhnya bagai "marinir". Penilaian ini bukannya tak mendasar. Buktinya, pemain-pemain yang rentan cedera seperti Aaron Ramsey, Theo Walcott, Jack Wilshere sampai Thomas Vermaelen hampir di setiap musim selalu dirundung cedera. Jelas ada yang salah dengan kebijakan latihan fisik ala Wenger.

Sudah seharusnya The Professor membenahi fondasinya dulu, baru berbicara tampil konsisten. Sebab, bagiamana mau tampil stabil jika sumber daya manusianya tak memiliki kapasitas tenaga yang mumpuni? Untuk tim sekaliber Arsenal, peluang menjadi juara sebetulnya tetap terpelihara bila merujuk pada materi pemain yang mereka miliki. Musim ini pun sejatinya tak bisa dipandang buruk-buruk amat. Asal, hal-hal yang sifatnya elementer segera dibenahi.

Seperti dikatakan Mikel Arteta, wakil kapten Arsenal, mestinya gelar Piala FA musim ini bisa menjadi lecutan semangat sekaligus momentum kebangkitan Arsenal untuk 'naik kelas' mejadi juara EPL musim depan.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics