REVIEW: Performa Barcelona Di Musim 2013/14

Sempat mengawali musim dengan kukuh di pucuk klasemen, Blaugrana mengakhiri musim tanpa gelar mayor.

OLEH DEWI AGRENIAWATI Ikuti di twitter
Selalu mendapat minimal satu gelar dalam empat musim beruntun membuat entrenador Gerardo Martino dibebani tugas berat saat ditunjuk sebagai arsitek menggantikan Tito Vilanova. Apalagi, Martino tak punya jam terbang di Eropa karena merumput di Camp Nou adalah kesempatan pertamanya berkarier di Benua Biru.

Hasilnya, meski sempat mendominasi La Liga di awal kampanye, The Catalans justru oleng di paruh kedua bahkan mereka sempat tercecer ke peringkat tiga klasemen. Tidak hanya itu, Lionel Messi cs juga tereliminasi di Liga Champions oleh tim kompatriot, Atletico Madrid, kemudian kalah di final Copa del Rey versus Real Madrid.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada hal positif yang bisa dipetik dari perjalanan Blaugrana sepanjang musim 2013/14. Rangkaian 21 kemenangan di awal kampanye serta membungkam Madrid di dua partai liga menjadi sisi positif tersendiri buat Blaugrana. Martino juga bukannya tak memberikan apa pun kepada Barca, karena dia berhasil mempersembahkan gelar Supercopa de Espana di awal kompetisi.

Barcelona mengawali era Martino di Camp Nou dengan hasil positif di Supercopa de Espana. Sebagai kampiun La Liga musim lalu, The Catalans bersaing dengan juara Copa del Rey Atletico Madrid untuk memperebutkan gelar “pemanasan”. Barca sukses menahan Los Rojiblancos 1-1 pada pertemuan pertama di Vicente Calderon dan meski hanya mampu imbang tanpa gol pada leg kedua di Camp Nou - di mana Messi gagal mengeksekusi penalti - The Catalans berhak menggondol trofi ke-11 berkat peraturan gol tandang.

Kemenangan masif tujuh gol tanpa balas saat menjamu Levante menjadi awal indah bagi Barca untuk langsung duduk di pucuk klasemen Liga. Azulgrana melaju kencang hingga meraup delapan kemenangan beruntun sebelum rekor tiga angka dihalangi Osasuna yang menahan tanpa gol. Meski begitu, Barca tetap kokoh di posisi teratas hingga 21 pekan dan mengantungi 54 poin dari paruh musim pertama.

Anak-anak asuh Martino mulai inkonsisten di paruh musim kedua, setelah Messi dihantam badai cedera. Gaung Messi-dependencia pun kembali menggema, meski akhirnya Blaugrana dan La Pulga sama-sama bangkit membungkam kritik.

Di level Eropa, penampilan Blaugrana tak bisa dibilang jelek. Mereka keluar sebagai juara Grup H yang dihuni AC Milan, Ajax Amsterdam dan Celtic dengan raihan 13 angka, hanya sekali seri dan kalah dari enam pertandingan. Mereka kemudian menghancurkan raksasa Liga Primer Inggris Manchester City dengan agregat 4-1.

Dipertemukan Los Rojiblancos di fase perempat-final, tim Catalan dibayang-bayangi rekor buruk tanpa kemenangan di musim ini. Benar saja, setelah ditahan 1-1 di Camp Nou, Barca harus angkaki koper dari kompetisi primer Eropa menyusul gol tunggal Koke di menit kelima.

Hujan kritik kembali membahasi Barcelona pascaeliminasi. Keputusan tim yang bersikeras dengan gaya tiki-taka lagi-lagi mendapat sorotan karena skema yang berjalan sempurna di era Pep Guardiola dianggap usang. Problem di luar lapangan juga tampaknya ikut mengganggu konsentrasi para pemain, mulai dari masalah transfer Neymar sampai kabar meninggalnya mantan pelatih mereka, Tito Vilanova, setelah dua setengah tahun berjuang melawan kanker.

Blaugrana sempat mendapat keberuntungan jelang berakhirnya kompetisi setelah Los Blancos kalah 2-0 dari Celta Vigo yang memaksa mereka keluar dari pacuan gelar. Laga penutup di Camp Nou akhir pekan lalu pun menjadi pertandingan paling menegangkan untuk memperebutkan gelar. Sayang, meski unggul lebih dulu lewat sepakan cantik Alexis Sanchez, tandukan Diego Godin di awal babak kedua memupus impian Blaugrana mereguk gelar paling mengesankan.

Tak bisa dimungkiri, nama Messi tetap berada di urutan terdepan jika bicara soal pemain terbaik Barca sepanjang musim lalu, meski kehadiran Neymar dari Santos disebut-sebut bakal membuat kedua pemain ini tidak akur.

La Pulga tetap menjadi sumber gol The Catalans dan kembali memecahkan sejumlah rekor individu. Pada 1 September, Si Kutu mengepak hat-trick ke-23 sepanjang kariernya saat menghadapi Valencia dan dengan gol ini dia menjadi pemain yang mengantongi 100 gol tandang, tertinggi sepanjang sejarah liga. Gol demi-gol terus ditorehkan pemain kelahiran 24 Juni 1987 hingga menempatkannya finis di posisi dua top skor musim ini di belakang Cristiano Ronaldo dan kini bertengger di posisi kedua pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Liga dengan 243 gol, selisih tujuh dari Telmo Zarra yang sampai saat ini masih menduduki peringkat teratas.

Prestasi Blaugrana yang melenggang hingga ke perempat-final Liga Champions juga tak lepas dari peran kapten Argentina. Di laga pembuka versus Ajax, dia langsung mengukir hat-trick dalam kemenangan 4-0 dan menutup kompetisi dengan delapan gol sekaligus menggenapkan torehan 67 gol, defisit empat dari Raul Gonzalez.

Messi sempat dihantam cedera dalam kemenangan 4-1 melawan Real Betis yang memaksanya absen hingga Januari 2014. Ini merupakan cedera ketiganya musim ini, tapi meski sempat kesulitan mengembalikan performa terbaik La Pulga membuktikan kapasitasnya. Tiga gol dalam satu laga melawan Osasuna menahbiskannya sebagai bomber tersubur sepanjang sejarah Barca, mengalahkan Paulino Alcantara, di semua kompetisi termasuk persahabatan. La Pulga juga kembali menebar teror ke gawang Madrid dengan memborong tiga gol dalam kemenangan 4-3 di Santiago Bernabeu dan menjadi top skor di El Clasico.

Meski gagal mengamankan trofi mayor di musim ini, tak sedikit momen indah yang dialami Blaugrana. Skor telak 7-0 atas Levante di laga pembuka contohnya atau saat mereka tak menghajar The Citizens di fase knock-out Liga Champions.

Tapi, sepanjang perjalanan kampanye 2013/14, drama tujuh gol dalam El Clasico jilid II di Santiago Bernabeu pantas mendapat perhatian utama. Ketika itu, Los Merengues tengah asyik memuncaki tabel sementara Blaugrana sedang kencang-kencangnya dihantam kritik.

Layaknya duel klasik lain, antusiasme publik telah terasa bahkan beberapa hari sebelum kick-off dimulai. Laga dengan tempo tinggi pun terjadi sejak menit awal, dengan Andres Iniesta membuka skor hanya tujuh menit sejak kick-off. Namun, buruknya pertahanan The Catalans harus dibayar mahal dengan kecolongan dua gol dalam radius empat menit setelah umpan-umpan Angel Di Maria dimaksimalkan oleh Karim Benzema sebelum Messi kembali membuat skor imbang 2-2 tiga menit sebelum turun minum.

Pelanggaran yang dilakukan Dani Alves terhadap Cristiano Ronaldo pun membuat wasit menunjuk putih, meski dari tayangan ulang tampak Alves menjatuhkan bintang Portugal di luar kotak. Terlepas dari itu semua, CR7 sukses membawa tuan rumah unggul 3-2 menyusul sepakan kerasnya dari titik 12 pas yang gagal dibendung Victor Vales.

Dua penalti diberikan sang pengadil lapangan kepada tim tamu, pertama akibat pelanggaran Sergio Ramos kepada Neymar yang berbuah kartu merah untuk sang kapten Madrid, lalu tak berapa lama giliran Xabi Alonso yang bersenggolan dengan Andres Iniesta. Dua hadiah penalti dieksekusi dengan sempurna oleh La Pulga.

Gagal menyabet gelar mayor musim ini - sekaligus kepergian Gerardo Martino usai laga terakhir - jelas bukan hal yang diharapkan tim sekelas Blaugrana. Maklum, mereka terbiasa memasang target juara di tiga kompetisi yang diikuti.

Tapi, situasi ini justru bisa menjadi bahan evaluasi The Catalans memasuki musim baru. Menunjuk mantan pelatih Celta Luis Enrique bisa dikatakan awal baik untuk memompa kembali semangat para pemain, apalagi dia juga bukan orang baru di Camp Nou.

Sebagai pria yang pernah mengecap manisnya kejayaan bersama Blaugrana saat masih aktif sebagai pemain, Enrique diharapkan mampu mengembalikan kejayaan raksasa Catalan seperti sebelumnya. Satu hal yang sifatnya sangat wajib diperbaiki adalah lini belakang, yang dianggap sebagai titik lemah tim terutama dalam situasi bola mati. Barca kerap keteteran saat lawan melakukan serangan balik cepat, apalagi dalam mengantisipasi bola mati seperti yang terjadi di laga penutup akhir pekan lalu.

Dengan kepergian Carles Puyol akhir musim ini, Barca praktis tak punya duet tetap di jantung pertahanan. Tandem Gerard Pique dan Marc Bartra belum paten, sementara Javier Mascherano terus diisukan ke Napoli. Membidik bek di jendela transfer musim panas ini bakal jadi target utama The Catalans.

Di bawah mistar, penjaga gawang Marc-Andre ter Stegen sudah dikonfirmasi kedatangannya dari Borussia Monchengladbach untuk menggantikan Victor Valdes yang juga memutuskan hengkang.

So, dengan kemungkinan beberapa muka baru serta pelatih anyar “berdarah” Barca, harapan besar kembali mengukuhkan hegemoni di kompetisi domestik dan Eropa musim depan mengapung tinggi.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics