REVIEW: Performa Bayern Munich Di Musim 2013/14

Terlepas dari eliminasi memalukan di tangan Real Madrid di Liga Champions, Bayern Munich layak berbangga dengan pencapaian secara keseluruhan musim ini.

OLEH DEDE SUGITA Ikuti di twitter
Untuk klub sekaliber Bayern Munich, ditambah pelatih sekelas Pep Guardiola, sukses di segala kompetisi menjadi tuntutan yang wajib dipenuhi, terlebih menyusul pencapaian paripurna treble winners musim lampau di bawah asuhan Jupp Heynckes.

Karenanya, sekalipun berhasil merengkuh empat dari maksimal enam trofi, tak bisa dimungkiri, tersisa kekecewaan bagi kubu Bavaria musim ini, terutama akibat kegagalan mempertahankan titel Liga Champions usai dipermak Real Madrid lewat agregat 5-0 di semi-final.

Biarpun demikian, Die Roten tetap layak berbangga atas performa mereka secara keseluruhan. Mereka tak cuma memecahkan rekor demi rekor di Bundesliga -- termasuk kemenangan beruntun, unbeaten streak, dan raihan juara tercepat -- tapi juga mengukir tinta emas di panggung Eropa dengan menorehkan sepuluh kemenangan tanpa putus, melampaui rekor sebelumnya milik Barcelona pada 2002/03.

Musim pun berakhir manis dengan keunggulan 2-0 atas Borussia Dortmund di final DFB-Pokal akhir pekan kemarin, yang memastikan Bayern mengemas double domestik kesepuluh sepanjang sejarah.

Menyusul peralihan tongkat kepelatihan dari Heynckes ke Guardiola, Bayern tampak belum menyerap sempurna kehendak sang bos anyar dan mengawali kampanye dengan kekalahan 4-2 di tangan Dortmund di laga DFL-Supercup alias Piala Super Jerman. Tapi setelahnya mereka menunjukkan progres pesat.

Delapan partai pertama Bundesliga, dari Agustus hingga Oktober, ditandai dengan enam kemenangan tanpa pernah takluk, dan di periode yang sama Bayern juga memaksa Chelsea menyerah lewat adu penalti di Piala Super UEFA.

Raksasa Bavaria kemudian tampil makin beringas dengan melahap 11 kemenangan berurutan di semua ajang -- dalam prosesnya juga melewati rekor kemenangan konsekutif Barcelona di Liga Champions -- sebelum ditundukkan Manchester City 3-2 di Allianz Arena pada Desember. Di bulan yang sama, anak-anak Guardiola menambah satu lagi silverware, yaitu Piala Dunia Antarklub, usai mengempaskan Guangzhou Evergrande di semi-final dan Raja Casablanca di partai pamungkas.

Kendati rekor kemenangan di UCL terputus, tidak demikian di pentas domestik. Franck Ribery cs. terus berlari kencang melibas lawan demi lawan hingga menyemen status Deutscher Meister di putaran ke-27 usai menundukkan tuan rumah Hertha Berlin 3-1. Hasil laga pada 25 Maret itu menandai rekor 19 kemenangan liga berturut-turut, plus 52 partai tak terkalahkan, dan yang utama, memperbarui rekor juara tercepat musim lalu.

Sayangnya, sukses dan peak performance yang datang terlalu dini itu malah berakibat fatal buat ambisi klub di panggung Eropa. Terlihat jelas bahwa motivasi Die Roten menurun setelahnya. Mereka diimbangi Hoffenheim 3-3 di kandang setelah memimpin 3-1 lalu kehilangan unbeaten streak usai dibekap tuan rumah FC Augsburg, juga dipermalukan Dortmund 3-0. Walau tantangan Manchester United di perempat-final Liga Champions dapat dilewati dengan keunggulan agregat 4-2, Bayern tidak berkutik di hadapan Real Madrid di putaran selanjutnya. Kekeraskepalaan Guardiola untuk selalu mengusung possession football menghadapi setiap lawan diterpa kritikan deras. Untunglah Bayern bisa cepat bangkit hingga akhirnya menyudahi musim secara positif dengan mengangkat trofi DFB-Pokal di Berlin.

Kapten Philipp Lahm tampil mengilap dalam peran barunya sebagai gelandang jangkar, tapi Arjen Robben paling pantas dikedepankan sebagai individu terbaik dalam skuat Bayern sepanjang musim ini.

Lantaran dikenal sebagai pemain egois sementara Guardiola menjunjung tinggi kolektivitas tim, Robben semula diprediksi bakal menjadi salah satu personel yang tersisih dari Allianz Arena seiring kedatangan pria Catalan itu. Tak dinyana, yang terjadi justru sebaliknya.

Pahlawan Bayern saat merebut trofi Liga Champions di Wembley musim lalu ini kian mengukuhkan peran vitalnya dalam tim. Terpenting, di tengah kemerosotan performa Franck Ribery mendekati pengujung musim, bintang Belanda ini terlihat amat menonjol karena mampu menjaga konsistensi permainan di level tinggi.

Selain posisi reguler sebagai inverted winger di sisi kanan, Robben juga beberapa kali diinstruksikan Pep memainkan peran false nine, termasuk di final DFB-Pokal, dan nyaris tak pernah mengecewakan. Bahkan Robben kembali menjadi pahlawan buat Bayern dalam laga di Berlin akhir pekan lalu dengan memecahkan kebuntuan lewat aksinya menjebol gawang Roman Weidenfeller di masa perpanjangan.

Total, Robben terlibat dalam kreasi 38 gol dari 45 penampilan di semua ajang musim ini, dengan rincian 21 kali masuk papan skor secara langsung sementara sisanya berupa sumbangan assist. Tak heran bila Guardiola memberikan pujian tinggi untuknya. "Robben mungkin merupakan penyerang terpenting Bayern musim ini. Dia pemain berkelas dunia dan saya sangat puas dengan performanya," demikian sanjung sang bos.

Banyak highlight dalam perjalanan Bayern musim ini, contohnya saja pada spieltag 6 Bundesliga saat mereka menggulung Schalke 04 empat gol tanpa balas di Veltins Arena, atau ketika Guardiola secara mengejutkan menggunakan strategi bola-bola panjang di Signal Iduna Park pada pekan ke-13 untuk mengakali gaya counter-pressing pasukan Jurgen Klopp dan mengemas kemenangan telak 3-0.

Namun, di antara total 56 laga yang dilakoni skuat Bavaria selama kampanye 2013/14, momen teristimewa tersaji tatkala mereka mendominasi Manchester City di Etihad Stadium pada matchday 2 fase grup Liga Champions.

Dengan The Eastlands kala itu telah memamerkan keperkasaan di kandang di ajang domestik dengan mengepak rekor 100 persen dalam empat laga awal (tiga di Liga Primer Inggris dan satu di Capital One Cup), memanen 15 gol dan hanya kecolongan sekali, di hadapan sang kampiun bertahan Eropa skuat Manuel Pellegrini justru seperti diajari cara bermain sepakbola.

Bayern memegang dominasi permainan nyaris di sepanjang laga dan menunjukkan kombinasi memikat antara tiki-taka ala Guardiola dan performa bertenaga yang membawa mereka meraja di tiga kejuaraan musim lalu. Tembakan keras Franck Ribery pada menit ketujuh yang gagal dihadang sempurna oleh Joe Hart, plus dua gol Thomas Muller dan Arjen Robben dalam selang empat menit di babak kedua menjadi bukti konkret kedigdayaan Bayern, sebelum City membuat gol hiburan lewat kaki Alvaro Negredo.

Seperti telah disinggung di awal artikel, prestasi overall Bayern pada 2013/14 ini masuk kategori positif, bahkan mengesankan, dan klub mana pun bakal menyambut bahagia masuknya empat trofi tambahan ke dalam lemari piala mereka hanya dalam rentang setahun.

Hanya, seperti juga telah disebutkan sebelumnya, Die Roten pasti terpukul dengan kandasnya impian menjadi tim pertama yang mempertahankan titel Liga Champions di era modern, apa lagi itu diwarnai dengan kekalahan kandang paling telak Bayern di turnamen ini -- juga kekalahan kandang terbesar klub di semua kompetisi dalam 35 tahun.

Namun segala kritikan yang menghunjam deras ke arah Guardiola pascaeliminasi Bayern di UCL terlalu prematur. Siapa pun lawannya, eks bos Barcelona ini tak akan berpaling dari possession football, tapi anggapan bahwa ia terlalu naif dan tak punya variasi taktik jelas keliru. Setidaknya partai Bundesliga di Signal Iduna Park telah membuktikan kesediaan Guardiola untuk melakukan modifikasi permainan demi memetik hasil positif. Pun dengan laga final DFB-Pokal, lagi-lagi melawan Dortmund, ketika Bayern tampil dengan skema tiga pemain belakang.

Dengan kepastian datangnya Robert Lewandowski, dan Guardiola telah melewati musim yang diakuinya "tersulit" dalam karier kepelatihannya dengan cukup baik, Bayern layak menatap kampanye depan dengan optimisme tinggi.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics