REVIEW: Performa Chelsea Di Musim 2013/14

Tampil sebagai unggulan awal di semua kompetisi musim ini, Chelsea justru tak mendapat satu gelar pun.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter
Pulangnya Jose Mourinho ke Stamford Bridge tentu menghadirkan angin segar bagi Chelsea. Masa-masa keemasan pun diharapkan datang musim ini, ditambah dengan harapn selangit yang dilantunkan oleh para fans di awal musim. The Blues bahkan sempat jadi unggulan juara di tengah musim, walau Mourinho sendiri tak pernah menganggap timnya sebagai favorit, hanya mengibaratkannya sebagai kuda kecil.

Namun semuanya tak berjalan sesuai harapan. Mereka yang berharap muluk kiranya terbentur cukup keras ketika mendarat di kenyataan. Dalam konteks The Blues, kenyataan dan harapan berbanding terbalik.

Bagaimana tidak, Chelsea asuhan The Special One ini justru menutup musim mereka tanpa gelar. Sempat tampil meyakinkan di awal dan tengah musim, satu per satu kompetisi yang mereka ikuti lepas begitu saja. Di penghujung musim, badai cedera dan inkonsistensi justru menghantui dan menyingkirkan mereka Liga Champions plus perburuan gelar Liga Primer Inggris.

Mengecewakan memang, bagi klub sekelas Chelsea. Namun, jika melihat perjalanan mereka dari awal hingga akhir musim, ada sedikit titik cerah untuk musim depan.

Mourinho selalu datang membawa sensasi. Sempat terlibat persaingan di papan atas hingga tengah musim, ia sama sekali tak menjagokan timnya jadi juara Liga Primer. Namun semuanya itu tampak seperti omong kosong ketika melihat permainan Chelsea di lapangan. Si kuda kecil jelas memperlihatkan permainan dengan hasrat menang yang besar di setiap laganya.

71 gol mereka cetak musim ini, jumlah gol terbanyak ketiga setelah Manchester City dan Liverpool. Pencapaian yang luar biasa tentunya, mengingat mereka tak punya penyerang tajam. Soal pertahanan, mereka jelas unggul dari siapapun karena hanya kebobolan 27 gol, khas Mourinho, efek kecerdasan taktik The Special One.

Kebijakan transfer musim dingin mereka pun bukan main. Mendatangkan Nemanja Matic dan Mohamed Salah jadi satu hal yang tepat seiring Chelsea melanjutkan perjuangan di Liga Champions dan Liga Primer. Secara tidak langsung, ini menunjukkan "hasrat" Mou untuk meraih dua gelar.

Hal tersebut dipertegas dengan performa gemilang melawan klub empat besar. The Blues menggilas Arsenal (0-0, 6-0), Liverpool (2-1, 2-0), dan Manchester City (2-1, 1-0). Chelsea pun sempat memuncaki klasemen, tapi Mou menganggap itu semua hanyalah khayalan semata.

Tak lama setelah memuncaki klasemen, nubuat Mou malah menjadi nyata. Chelsea seolah kehilangan gairah juaranya. Kekalahan dari Sunderland di Stamford Bridge menjadi titik kejatuhan yang fatal karena gelar juara menjauhi mereka, ditambah dengan tersingkirnya mereka di semi-final Liga Champions. Puncaknya, hasil imbang tanpa gol kontra Norwich resmi mengakhiri perburuan gelar mereka.

Tentu jadi tugas yang berat untuk menentukan siapa yang terbaik di Chelsea. Mereka punya Eden Hazard, Willian, Oscar, Ramires, Petr Cech, dan tentunya Gary Cahill. Namun kalau bicara soal pengaruh, masih belum ada yang bisa mengalahkan kharisma John Terry di lapangan hijau.

Ya, sang kapten jadi sosok penting di lini belakang Chelsea, bahkan segenap skuat. Duetnya dengan Gary Cahill di jantung pertahanan sukses membawa Chelsea jadi tembok terkokoh di Liga Primer.

Namun prestasi Terry tak hanya berhenti di situ. Selain kharisma dan komando di lini belakang, ia juga jadi sosok penting dalam proses membangun serangan. Hal ini terbukti bagaiamana ia selalu jadi titik awal serangan dengan melakukan 1708 umpan dalam semusim. Akurasinya pun bukan main, 90%, lebih banyak dari semua pemain reguler di Chelsea.

Tampil dalam 34 laga Liga Primer musim ini juga jadi bukti nyata perang sang kapten dalam rancangan Mourinho. Niscaya, perpanjangan kontrak tidak akan menjadi penyesalah jika melihat performa Terry musim ini.

Sebenarnya ada begitu banyak momen mengesankan bagi Chelsea, mengingat mereka tak terkalahkan dalam pertemuan dengan klub empat besar lainnya. Secara head to head, Chelsea unggul dari Arsenal, Liverpool, bahkan Manchester City.

Adapun, momen paling spesial bagi laskar Mourinho baru terjadi di pekan ke-36. Ya, momen di saat mereka dihantam badai cedera sekaligus kelelahan karena melakoni semi-final Liga Champions, tapi mampu jadi pengganjal bagi harapan juara Liverpool. Saat itu, asa juara mereka pun menjadi semakin terang.

Tampil dengan sebagian besar pemain cadangan, Mou menerapkan "parkir bus" di Anfield. Brendan Rodgers pun kelabakan dan momen terpelesetnya Steven Gerrard menggenapi tawa Mou malam itu, seiring Demba Ba mencetak gol pembuka. Willian menggandakan keunggulan di menit akhir dan Chelsea akhirnya menang dua gol tanpa balas di Anfield yang katanya angker.

Sekilas tidak ada yang salah dari Chelsea. Mencetak 71 gol dan hanya kebobolan 27 gol dalam semusim tentu menjadi pencapaian yang hebat. Namun ketika melihat lebih dalam, tahulah, ke-71 gol itu adalah hasil karya para gelandang Chelsea. Trio penyerang mereka, yakni Fernando Torres, Demba Ba, dan Samuel Eto'o, hanya mencetak 19 gol musim ini.

Dengan kata lain, lini depan mereka jelas tidak efektif. Dalam beberapa kesempatan, mereka terlalu membebani gelandang mereka dengan tugas ganda: menciptakan peluang dan mencetak gol. Bahkan, Mourinho sempat mengatakan dirinya tidak punya penyerang. Hal ini pun menjadi sorotan dan Chelsea butuh penyerang tajam untuk membenahi performa musim depan. Paling tidak, mendekatnya Diego Costa sudah jadi solusi.

Selanjutnya adalah mentalitas. Memang, Chelsea tak dijangkiti masalah ini dalam laga-laga melawan tim besar. Hal tersebut terbukti dengan rekor tak terkalahkan dari klub empat besar lain di musim ini. Adapun, mereka justru harus membenahi mentalitas mereka ketika melawan klub papan tengah ke bawah.

Sebagaimana diketahui, enam kekalahan yang ditelan Chelsea, kecuali kontra Everton, disebabkan oleh klub menengah ke bawah. Parahnya lagi, mereka harus ditahan imbang tanpa gol oleh Norwich City di Stamford Bridge, di laga krusial musim ini. The Special One perlu membenahi hal ini dan tentunya belajar bagaimana "mengalahkan" taktiknya sendiri di musim depan.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics