REVIEW: Performa Liverpool Di Musim 2013/14

Apakah Liverpool bisa dikatakan menuntaskan musim ini dengan Happy Ending?

OLEH MOHAMMAD YANUAR Ikuti @mohammadyanuar di twitter
Liga Primer Inggris resmi berakhir tadi malam. Manchester City yang akhirnya bisa menjadi juara di musim ini, mengungguli Liverpool, Chelsea dan Arsenal di posisi berikutnya.

Namun Manchester City bisa dikatakan tak tampil dominan. Gelar juara bahkan harus ditentukan hingga akhir laga di musim ini.

Adalah Liverpool yang menjadi salah satu tim yang memberikan perlawanan sengit. Sejak awal musim hingga pekan ke-38, Liverpool terus membayangi, bahkan sempat memuncaki klasemen, hingga akhirnya terpeleset di pekan-pekan krusial.

Secara target, Liverpool sudah memenuhi ambisi mereka di awal musim, menembus zona Champions. Hanya saja, bonus tambahan, meraih titel Liga Primer Inggris, gagal diraih.

Liverpool mengawali musim dengan baik. Stoke City dan Aston Villa menjadi korban, dan demikian juga Manchester United. Namun setelahnya, ada sedikit inkonsistensi permainan, yang membuat posisi Liverpool di klasemen mengalami fluktuasi.

Di bulan Desember, Liverpool menunjukkan tren menjanjikan. Norwich City, West Ham, Tottenham dan Cardiff City dibantai dengan skor telak. Hasil itu disebut menjadi modal bagus bagi Steven Gerrard dkk melakoni dua laga penting melawan rival utama Chelsea dan Manchester City. Namun Liverpool gagal memenuhi ekspektasi dan akhirnya kalah 2-1 secara beruntun.

Kekalahan dari Chelsea pada 29 Desember menjadi kekalahan terakhir Liverpool. Sepanjang 2014, The Kop sama sekali tak tersentuh kekalahan, yang membuat posisi mereka menunjukkan tren stabil dengan kecenderungan meningkat. Puncaknya adalah di pekan 32, dengan menundukkan Tottenham 4-0, yang membawa mereka memuncaki klasemen. Kemenangan 3-2 atas Manchester City membuka kans Liverpool menjadi juara.

Akan tetapi, di pekan 26, Liverpool takluk 2-0 di Anfield dari Chelsea. Situasi ini menjadi keuntungan tersendiri buat Citizen. Liverpool gagal bangkit di pekan berikutnya dan terpaksa mengakui kekalahan mereka dari City di balapan ke tangga juara tadi malam.

101 gol dilesakkan Liverpool di musim ini dan sepertiganya berasal dari pemain yang di enam laga pertama musim ini absen karena sanksi skors, Luis Suarez.

Sulit untuk tidak menghubungkan pemain Uruguay tersebut dengan sukses Liverpool di musim ini. Di saat Daniel Sturridge belum bisa menunjukkan konsistensi, Suarez maju sebagai andalan dan melesakkan 31 gol dan 12 assists, terbanyak kedua setelah Steven Gerrard dengan 13 assist.

Karena kontribusinya itu, sejumlah asosiasi menobatkan Luis Suarez sebagai pemain terbaik di musim ini. Tak bisa banyak dibantah mengingat Luis Suarez sudah memberikan banyak dan menjawab ekspektasi publik dengan sangat baik.

Dua kemenangan atas Manchester United dan Tottenham Hotspur, dua raksasa Inggris, bisa menjadi salah satu momen terbaik di musim ini. Tapi, yang paling mengesankan adalah ketika menundukkan Manchester City di Anfield dengan skor 3-2.

Bukan hanya karena berujung pada torehan tiga angka, tapi juga membuka kans juara Liverpool pada saat itu. Steven Gerrard bahkan sangat antusias menyambut kemenangan tersebut dan melakukan team talk di tengah lapangan sesaat seusai laga.

Sayangnya, di momen-momen terakhir, terutama, semuanya menjadi musnah menyusul kekalahan dari Chelsea dan hasil seri melawan Crystal Palace.

Sudah diakui Brendan Rodgers, kekurangan paling besar di timnya adalah pada sektor pertahanan. Lini belakang timnya dinilai tidak menunjukan kualitas tim papan atas Liga Primer Inggris.

Selain itu, kualitas antara tim utama dan cadangan memiliki perbedaan yang amat kentara. Dengan musim depan Liverpool menjalani kompetisi yang lebih padat, sudah sepatutnya Rodgers bisa menyeimbangkan tim, sehingga memudahkannya melakukan rotasi pemain untuk menghindari kelelahan.

Selain itu, mendatangkan pemain yang tepat bisa menjadi momen kunci untuk Liverpool menyudahi dahaga gelar juara mereka di musim depan.

Namun demikian, pertanyaan apakah Liverpool bisa menyatakan musim ini berakhir dengan happy ending atau tidak, sepertinya harus dilihat target awal mereka. Dengan fokus menembus zona Liga Champions, bukannya meraih gelar juara, Liverpool boleh merayakan musim ini sebagai suatu keberhasilan.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics