REVIEW: Performa Paris Saint-Germain Di Musim 2013/14

Merebut dua gelar domestik, memecahkan rekor poin, mencetak sejarah sebagai satu-satunya tim dengan kemenangan terbanyak, jadi satu kisah apik klub ibu kota sepanjang 2013/14.

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Paris Saint-Germain untuk kali kedua secara berturut-turut kembali mengangkat trofi Ligue 1. Gelar juara ini bahkan digenggam dalam kondisi tiga laga tersisa.

Semakin lengkap, karena musim ini Les Parisiens sanggup mengawinkan prestasi di liga ini dengan raihan Coupe de la Ligue usai mengalahkan Olympique Lyon 2-0 di final.

Tak berhenti sampai di situ, dua laga sisa kemudian dilahap klub ibu kota dengan menghasilkan sebuah rekor baru: di journee 37 PSG berhasil memecahkan rekor poin tertinggi dalam sejarah dengan mendulang 86 poin usai menumpas Lille 3-1, mengelabui rekor 84 poin yang selama ini dipegang Lyon. Serta partai pamungkas ditutup PSG dengan menjadi satu-satunya tim yang mampu meraih kemenangan paling banyak dalam satu musim, yakni 27 kali, berkat keberhasilan menundukkan Montpellier.

Secara keseluruhan, anak-anak Laurent Blanc melalui petualangan liga edisi kali ini dengan tanpa banyak hambatan. Sempat mendapat ancaman serius dari AS Monaco di masa pembuka musim, pada akhirnya status kepemimpinan di klasemen mampu dikudeta Thiago Silva cs dengan stabil selama 28 pekan.

Di periode awal musim PSG bak kehabisan bensin karena dua laga pertama dilewati dengan hasil tak memuaskan, yakni ditahan Montpellier dan Ajaccio dengan skor 1-1. Butuh kesabaran bagi klub ibu kota, sebab AS Monaco, yang disebut-sebut bakal penantang serius PSG dalam perburuan juara, benar-benar menunjukkan ancamannya. Hal ini tidak lepas dari manuver klub kerajaan yang telah mempersenjatai pasukannya dengan materi pemain kelas kakap sebelum memulai musim.

PSG harus rela melihat klub yang baru saja promosi itu start kencang dengan mendomasi Ligue 1 di sembilan laga pertama liga, sebelum di journee 10 angin segar akhirnya berpihak pada sang jawara bertahan. Dengan hasil seri 2-2 yang dipetik Monaco kala bentrok Sochaux, kemenangan telak 4-0 atas Bastia praktis menjadi penanda bagi rival terdekatnya itu kalau inilah PSG yang sesungguhnya. Sejak pekan kesepuluh, Zlatan Ibrahimovic dkk. berlari sendirian di puncak tanpa sedikit pun tergelincir ke posisi kedua hingga garis finis musim. Konsistensi dan stabilitas tim menjadi kunci pentingnya.

Blanc, pelatih yang baru masuk musim ini menggantikan posisi Carlo Ancelotti, perlahan-lahan menemukan keseimbangan yang diperlukan tim untuk kembali menjadi juara. Meski sempat secara mengejutkan dipukul Evian TG 2-0 di pekan ke-16, yang sekaligus memutus catatan 26 laga beruntun tak terkalahkan di Ligue 1, banyaknya raihan tiga angka yang mampu dipetik membuat PSG memiliki stok poin yang cukup untuk tetap menjaga jarak dari kejaran Monaco.

The Red And White sebagai penantang juara sempat memupuk asa ketika menunda gelaran juara PSG di pekan ke-32 berkat kemenangan 1-0 atas Rennes. Harapan itu semakin membumbung tinggi tatkala dua penguasa Ligue 1 ini terpisah gap sepuluh angka dengan enam partai tersisa berkat 'bantuan' dari Lyon yang berhasil mengalahkan PSG 1-0 seminggu setelahnya. Namun memasuki journee 36, AS Monaco terpeleset kala ditahan imbang Guingamp 1-1. Kendati di pekan yang sama PSG tersungkur dari Rennes 2-1, dengan jarak poin ketika itu terpaut tujuh angka, praktis dua laga terakhir sudah tak ada artinya lagi bagi Monaco untuk bisa menyalip anak-anak Parisiens.

Istilah tua-tua keladi makin tua makin jadi diperlihatkan secara nyata oleh sang bomber kawakan.

Torehan 26 gol dan 16 assist menempatkannya sebagai topskor dan pengumpan terbanyak di Ligue 1 sepanjang musim ini. Catatan ini sudah cukup bagi Ibracadabra untuk kemudian mengantarnya menutup musim dengan meraih prestasi pribadi, yakni gelar Pemain Terbaik Prancis 2013/14.

Boleh dibilang, ini adalah musim terbaik striker 32 tahun itu. Secara keseluruhan, total 41 gol dikoleksi Ibra dari semua kompetisi yang dijalani PSG selam satu musim komplet.

Lebih jauh lagi, bersama PSG, Ibra berhasil memecahkan rekor gol tertingginya untuk satu klub ketika dia mencetak gol ke gawang Valenciennes di journee 25, torehan yang membuatnya ketika itu resmi menghimpun 67 gol, menyalip catatan 66 golnya kala berseragam FC Internazionale. Di pengujung musim, 76 gol menjadi total sumbangsih yang diberikannya dari 92 penampilannya bersama klub ibu kota sejauh ini.

Pekan kedelapan menjadi momen yang mungkin tak terlupakan bagi PSG. Saat Blanc yang sedang berusaha menemukan formula tepat bagi timnya demi kembali ke habitat sebagai dominator Ligue 1, mereka dihadang laga Le Classique kontra Olympique Marseille.

Saat itu, poin Monaco dan PSG sama 18, di posisi dua teratas. Kekalahan bisa membuat PSG tertinggal tiga poin. Tanda-tanda bakal tersandung pun sudah terlihat ketika anak-anak Elie Baup membuka keunggulan di menit ke-34 melalui Andre Ayew dari titik putih. Sekilas, Les Phoocens tampak bermain penuh percaya diri. Namun, di pengujung 45 pertama Maxwell sukses membuat publik Stade Velodrome terdiam sejenak ketika umpan silang dari Gregory van der Wiel dimanfaatkan dengan baik oleh fullback Brasil itu untuk menyeimbangkan kedudukan.

Kemenangan terasa berat diraih lantaran Thiago Motta dikartu merah sedari menit ke-37. Tapi di babak kedua, PSG menemukan ritme mereka hingga akhirnya datanglah sebuah momen yang membuat loyalis OM kian senyap. Zlatan Ibrahimovic dijatuhkan di kotak terlarang pada menit ke-66 dan yang dilanggar sendiri yang lantas maju sebagai eksekutor. Penalti Ibra meluncur mulus, kedudukan 2-1 ini kemudian bertahan sampai peluit akhir berbunyi.

Rengkuhan tripoin ini vital, karena akhirnya tetap memposisikan poin mereka sama dengan Monaco, yang di pekan kesembilan juga menang 2-1 atas AS Saint-Etienne. Lebih dari itu, rasanya tak ada yang lebih spesial kecuali tentu kemenangan di laga sekelas Le Classique di hadapan penonton musuh.

Dua musim berturut-turut menjadi juara di ajang domestik sudah menggambarkan betapa mapannya klub ibu kota ini. Tak ada keraguan, bahkan pelatih Olympqiue Lyon Remi Garde pernah di satu kesempatan menyebut PSG saat ini bak lokomotif sepakbola Prancis.

Dari seluruh performa mereka sepanjang kampanye 2013/14, nyaris tak ada celah untuk mengkritisi mereka berkat stabilitas tim dan performa konsisten para penggawanya.

Tak perlu lagi ada aktivitas belanja mewah, karena sebetulnya materi pemain yang dimiliki PSG saat ini sudah lebih dari cukup. "Untungnya", di akhir musim UEFA secara resmi mengeluarkan hukuman terkait aturan financial fair play pada PSG, yang lantas akan membatasi anggaran belanja mereka untuk musim depan.

Yah, sejatinya komposisi pemain yang dimiliki Blanc memiliki potensi besar di setiap lini. Untuk bersaing di pentas Eropa pun mereka sudah punya kapabilitas yang memadai. Tengok saja dalam dua musim berturut-turut, mereka selalu tersingkir di babak perempat-final 'hanya' karena kalah aturan gol tandang. Artinya, PSG bukan lagi tim kemarin sore. Hal-hal yang mungkin setidaknya perlu dijadikan PR oleh Blanc untuk musim depan adalah bagaimana dia memelihara mental anak-anak didiknya, menempa semangat keberanian pasukan dan membuat keharmonisan tim tetap terjaga utuh. Jika tiga aspek ini bisa diperbaiki, bukan tak mungkin, berita treble gelar bisa menjadi satu kisah menggemparkan bagi publik sepabkola dunia.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics