Risiko Besar Bayangi Rencana Pembangunan Stadion Baru Barcelona

Rekonstruksi Camp Nou, meski diperlukan Barcelona, akan mendatangkan beberapa risiko besar menyangkut pembiayaannya.

Les Corts, stadion lama Barcelona, jadi terasa terlalu kecil karena popularitas luar biasa Ladislao Kubala dan, separuh abad kemudian, daya pikat Lionel Messi mengakibatkan hal serupa terjadi lagi. Klub berencana meng-upgrade Camp Nou, namun untuk melakukannya mereka harus mengambil risiko besar.

Pada 1961 silam, Barca menjual striker Spanyol Luis Suarez ke Internazionale guna membantu mendanai pembangunan Camp Nou. Suarez saat itu menjadi pemain termahal dunia dan turut meringankan beban finansial klub untuk membangun stadion sepakbola terbesar di Eropa. 55 tahun berselang, Barcelona pastinya ingin menghindari de javu.

Terlepas dari megahnya ukuran Camp Nou saat ini, remodelling dan rekonstruksi arena legendaris tersebut jelas diperlukan demi mempertahankan posisi klub di deretan terdepan kelompok elite sepakbola dunia. Seperti halnya markas Bayern Munich Allianz Arena dan Emirates Stadium milik Arsenal, renovasi rumah ini akan mendatangkan pemasukan signifikan bagi klub dengan boks eksekutif VIP, yang tidak ada di venue terkini.

Tak ada yang meragukan kebijakan skema semacam ini. Pada periode kekuasaan mereka, dua mantan presiden Joan Laporta dan Lluis Nunez pernah mempresentasikan proyek untuk Camp Nou baru dengan teknologi modern terbaik dan segala kenyamanan yang ada di stadion abad XXI.

Namun, terdapat risiko-risiko penting yang terlibat. Tidaklah berlebihan untuk berasumsi bahwa pembiayaan €600 juta kemungkinan besar akan menempatkan klub di bawah tekanan finansial untuk bertahun-tahun ke depan dan oleh karena itu Barca harus benar-benar cermat dalam mengelola pengeluaran tersebut.

Sepertiga dari total angka tersebut akan didanai oleh penjualan hak penamaan untuk Camp Nou baru, dengan Barca tak bisa menggunakan bujet tersebut buat pembelian pemain karena mereka berkonsentrasi membayar biaya renovasi. Sepertiga lagi akan berasal dari kredit bank, sementara Barca akan berusaha menutupi €200 juta sisanya dari kas mereka sendiri. Tetapi ongkos pembiayaan konstruksi semacam ini umumnya tak bisa diprediksi dan kemungkinan juga akan meningkat, sehingga ruang untuk improvisasi akan sangat kecil.

Barca memenangi dua titel liga tak lama setelah hijrah ke Camp Nou namun, menyusul penjualan Suarez pada 1961, The Catalans tak pernah mengangkat trofi Primera Division lagi sampai 1974, dengan Johan Cruyff jadi bintang di lapangan. Dalam 20 tahun pascakonstruksi Camp Nou, Blaugrana cuma mengklaim tiga titel liga dan terpaksa berpisah dengan rising star dalam diri Suarez, satu-satunya pemain Spanyol yang pernah memenangi Ballon d’Or juga satu-satunya yang berkibar di tengah kecemerlangan Kubala dan Alfredo Di Stefano pada periode tersebut.

Memang itu era yang berbeda, tetapi kali ini Barcelona juga dibayangi risiko gagal memenuhi ongkos pembiayaan. Belum tercapainya kesepakatan sponsorship seragam baru untuk musim depan juga berimbas kepada The Catalans yang belum bisa menggelar negosiasi ulang dengan Nike untuk beragam kit tim. Dan pada kesepakatan-kesepakatan tersebut bersandar pula perpanjangan kontrak Neymar, yang ditunda sejak akhir musim lalu namun esensial demi memagari striker Brasil itu, yang dipandang sebagai suksesor jangka panjang untuk Messi sebagaimana Suarez dulu untuk Kubala pada 1960-an.

Cerita itu sudah dikenal luas. Suarez sendiri mengakuinya dalam interviu dengan Goal pada Februari lalu. Ia dipaksa meninggalkan klub untuk menuju Inter supaya The Catalans bisa mengkover pembiayaan proyek awal Camp Nou.

Sepakbola telah berubah sejak saat itu, begitu pula Barcelona, dengan Blaugrana sekarang ini menjadi salah satu klub terkaya di dunia. Namun yang belum berubah adalah kebutuhan untuk mendapatkan dana dan Camp Nou baru, meski diperlukan, mendatangkan beberapa risiko implisit yang tak bisa diabaikan.