Riwayat Antonio Conte Akan Pupus Pragmatisme Chelsea

Salah jika Anda berpendapat permainan Chelsea akan semakin pragmatis, seiring kepemimpinan Antonio Conte musim depan.

"Mendatangkan pelatih bertipe sama dari Mourinho ke Conte tak masuk akal bagi saya. Bila para pemain tak mengeluarkan kemampuan terbaik saat diasuh Mourinho, Conte yang punya kesamaan tipe dengan Mourinho, Chelsea akan kembali terjatuh bila sesuatu tak berjalan baik," ungkap mantan bomber Chelsea, Chris Sutton, seperti dikutip BBC Radio 5 Live.

Bagi Anda yang tak benar-benar mengenal sosok Antonio Conte, pasti sepakat dengan opini kritis Sutton. Lebih kejam, mungkin Anda menilai penunjukan sang juru taktik pada Senin (4/4) lalu, membuat masa depan Chelsea yang tampak keruh bakal semakin pekat.

Sejatinya wajar saja, karena Conte memang seorang Italiano . Ia lahir, besar, berkarier sebagai pesepakbola, sejalan dengan karier kepelatihannya, hanya di satu negara, Italia! Ya, negara yang sepakbolanya dikenal dengan filosofi catenaccio. Suatu sistem taktik yang menjadikan pertahan sebagai Dewa, demi renggut kemenangan.

Filosofi pragmatis itulah yang belakangan membudaya di Chelsea. Pemahaman taktik yang jelas bertolak belakang dengan gaya bermain Liga Primer Inggris ala kick 'n' rush . Para suporter dan sang pemilik, Roman Abramovich, sejatinya merasa tak puas tapi urung bisa protes karena gelontoran gelar sanggup dihadirkan lewat cara bermain macam itu. Namun ketika kini segalanya jadi runyam di luar bayangan, penunjukkan Conte pun dianggap sebagai kesalahan.

Padahal kenyataannya, Conte merupakan pengecualian. Ia tak pernah suka diajak bertahan. Tujuan utamanya di lapangan entah ketika masih bermain atau kini menjadi pelatih adalah bermain atraktif untuk melahirkan gol. Tengok komentarnya baru-baru ini, yang merepresentasikan segalanya: "Saya lebih suka kebobolan lewat serangan balik!"

Memutar waktu ke belakang, para Juventini tentu ingat bagaimana sosok gelandang tengah seperti Conte begitu berani maju hingga kotak penalti lawan demi mencetak gol. Selama 13 musim membela Juve, hanya dua musim yang dilewatkan sang mantan gelandang energik tanpa mencetak gol. Padahal tugas utamanya lebih menjorok ke lini pertahanan, sebagai pemutus aliran bola musuh.

Usai gantung sepatu, hasratnya untuk meracik tim yang memainkan sepakbola atraktif penuh energi selayaknya dirinya bermain dahulu, mendapat pengarahan yang sangat bagus dari Luigi De Canio. Conte dijadikannya asisten pelatih, saat dahulu menukangi AC Siena di musim 2005/06.

De Canio ini merupakan salah satu dari sedikit pelatih di Italia yang mengedepankan permainan ofensif. Anda bisa melihat bagaimana hasil racikannya saat Udinese menang 3-1 atas Napoli akhir pekan lalu.

Proses belajar Conte terus berlanjut, saat dirinya dikontrak Arezzo untuk jadi pelatih, di kompetisi Serie B Italia pada musim 2006/07. Tak berjalan mulus, tapi pengalaman pahit di sana membuatnya raih reputasi apik ketika mengasuh Bari semusim kemudian. Di sinilah sosok berjuluk Iron Man itu kemudian bisa mengkampanyekan gaya sepakbolanya.

Alih-alih menerapkan formasi klasik 4-4-2, pada praktiknya Conte berani mengubahnya menjadi 4-2-4 yang sangat ofensif . Sosok winger energik, yakni Stefano Guberti dan Vitor Barreto, jadi andalannya saat itu. Bermain menyerang, bukan berarti taktik Conte melupakan pertahanan. Ia sengaja menempatkan winger penuh stamina, supaya sigap ketika diajak bertahan dan memberi tekanan. Permainan Bari saat itu jadi sangat rapat nan agresif, sehingga sulit ditembus.

Diiringi trial and error , taktik brilian Conte pun menuai hasilnya di akhir musim 2008/09. Ia membawa Bari promosi sebagai juara Serie B, plus menjadikan Il Galletti sebagai tim tersubur juga paling sedikit kebobolan.

"Tidak mudah menggambarkan gaya bermain yang diusung Conte. Ia tak mengedepankan penguasaan bola layaknya Pep Guardiola atau bertahan seperti Jose Mourinho. Ia memberi tekanan yang begitu tinggi pada lawannya, di mana para bek juga ikut berperan. Pendekatannya agresif, dengan memenangkan perebutan bola di setiap kesempatan, bermain umpan pendek diiringi pemainnya yang terus bergerak," ujar Augusto de Bartolo, pandit sepakbola senior Sky Sport Italia.

Jalan nasib kemudian membawanya ke Atalanta dan AC Siena untuk mengarungi kerasnya Serie A Italia. Kiprahnya tak bisa dibilang istimewa, tapi jatuh-bangun yang dialami cukup untuk membuatnya matang ketika Juventus menariknya pulang di musim panas 2011.

Di klub kesayangannya, Conte meraih segalanya. Ia mempersembahkan hat-trick Scudetto dan dua Piala Super Italia. Ia juga mengembalikan derajat Juve sebagai salah satu kekuatan elite di Eropa, lewat kiprah di Liga Champions. Namun harus dicatat bahwa sosok yang kini berusia 46 tahun itu tak melakukannya secara instan.

Conte memulainya dari titik terendah, di mana ia datang saat Juve mengakhiri dua musim terakhirnya dengan duduk di peringkat tujuh Serie A. Komposisi pemainnya pun tak istimewa, karena klub saat itu memang tak dibekali kekuatan finansial seperti sekarang.

Filosofi permainan pun dibentuk, I Bianconeri diubahnya menjadi tim yang sangat agresif. Mereka intens menekan lawan, begitu disiplin menjaga kerapatan posisi, dan bermain dengan sikap yang sangat ngotot.

Keluar dari tiga pakem itu, Conte akan langsung menggeber anak asuhnya dengan teriakan memekik telinga. Revolusi taktiknya juga sangat brilian, di mana dirinya berhasil mempopulerkan kembali skema tiga bek, lewat formasi 3-5-2.

Nuansa tersebut terus dipertahankannya hingga kini melatih timnas Italia. Perlahan Conte menyempurnakan transisi yang sudah dimulai Cesare Prandelli, untuk membuat Gli Azzurri lebih modern, dengan tak lagi 'gemar bertahan'.

Segalanya terpapar jelas lewat perubahan gaya permainan La Nazionale , sepanjang babak kualifkasi dan uji coba. Terkini, saat hadapi Spanyol dan Jerman, secara mengejutkan Italia mau meladeninya dengan permainan terbuka, meski kualitas pemain akhirnya berbicara.

"Conte adalah pelatih yang sangat bagus. Ketika saya menonton tim asuhannya bertanding, saya melihat bagaimana racikan taktiknya berbicara, bagaimana pendekatan yang dilakukannya. Ia membuat timnya menjadi homogen, tim yang begitu menyatu. Anda juga bisa melihat dari sikap para pemainnya di lapangan. Mereka sangat sedikit memberi lawan ruang, bersikap dengan cara bertahan yang berkelas, tapi secara mengejutkan mampu berimaji dalam membangun serangan. Saya pun suka dengan temperamennya di tepi lapangan," sanjung pelatih legendari Jerman, Jupp Heynckes, seperti dikutip Bavarian Football .

Kini dengan segala proses dan pembuktiannya, statistik pun menegaskan bagaimana Conte merupakan pelatih top yang punya selera. Ia memiliki rasio kemenangan, penguasaan bola, dan jumlah umpan yang mentereng, dengan tak lupa bermuara pada raihan trofi.

Menilik identitas permainan Chelsea dalam beberapa musim terakhir yang diwujudkan dalam rasa frustrasi Sutton, maka riwayat Conte tentu punya kuasa memupus budaya pragmatisme yang ada.

ANTONIO CONTE

Nama lengkap :   Antonio Conte

Posisi ketika aktif bermain : Gelandang tengah

Posisi kini:  Pelatih

Tempat, tanggal lahir:  Lecce, 31 Juli 1969
Koleksi Gelar



Pemain:




Juventus:  5 Scudetto, 1 Coppa Italia, 4 Piala Super Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Super Eropa, 1 Piala Interkontinetal



Pelatih:



Juventus: 3 Scudetto, 2 Piala Super Italia

 

 



Karier pemain:

1985-1991: Lecce

1991-2004: Juventus 



Karier Pelatih Klub:



2006-2007: Arezzo

2007-2009: Bari

2009-2010: Atalanta

2010-2011: AC Siena

2011-2014: Juventus

2016-....: Chelsea

Karier timnas:

Pemain: 1994 - 2000

Pelatih: 2014 - 2016 

71/ 1 gol

369/ 38 gol 









27 partai

67 partai 

14 partai 

44 partai 

134 partai



21/ 2 gol

18 partai 

Topics