Romansa Dua Dasawarsa Feyenoord Rotterdam

Sukses Feyenoord Rotterdam menjuarai Eredivisie 2016/17 adalah roman dramatis setelah penantian panjang selama hampir dua dasawarsa.

Mereka yang berkerumun, bernyanyi di Coolsingel sedang merayakan hari yang sungguh istimewa. Senin (15/5) pagi yang cerah, matahari bersinar dengan hangat, dan 150 ribu orang sudah berkumpul di depan balkon Balai Kota bersiap-siap merayakan sesuatu. Sejak malam sebelumnya, Rotterdam mabuk dalam pesta.

Cometh the hour, cometh the man. Pada pertandingan menentukan melawan Heracles Almelo, Dirk Kuyt muncul sebagai pahlawan Feyenoord Rotterdam. Stadion De Kuip terisi sesak untuk menyiapkan sejarah merayakan gelar juara Eredivisie Belanda untuk kali pertama sejak 1999. Seharusnya mereka bisa merayakannya satu pekan lebih awal, tetapi tim satu kota Excelsior membuyarkannya. Mungkin dewa sepakbola lebih menginginkan akhir yang dramatis untuk kampanye Feyenoord musim ini.

Baru 30 detik pertandingan berjalan, Kuyt mengejar bola tanggung di dalam kotak penalti Heracles. Bola semestinya dapat diamankan dengan baik, tetapi Mike te Wierik malah terpeleset. Tanpa ampun Kuyt menghujamkannya ke dalam gawang Bram Castro. Gol cepat itu dengan seketika mengangkat beban dari bahu para pemain Feyenoord, mereka tidak mesti terburu-buru mengejar gol selama sisa pertandingan.

Kuyt melengkapi malam gemilang dengan memborong tiga gol kemenangan Feyenoord ke gawang Heracles. Klimaks yang sempurna guna menutup kampanye Feyenoord pada Eredivisie musim ini. Kemenangan 3-1 atas Heracles menempatkan Feyenoord satu poin di atas Ajax Amsterdam untuk merebut titel landskampioen. Gelar juara yang sudah lama didamba De Rotterdamers selama hampir dua dasawarsa.

"Saya sudah tahu sejak saya kembali ke klub ini dua tahun lalu bahwa saya akan memenangi gelar juara liga. Semua orang tertawa saat saya mengatakannya," ujar Kuyt usai laga menentukan itu.

"Saya pernah bermain di final Liga Champions dan final Piala Dunia serta bermain untuk klub-klub besar. Tapi ini lah momen terbaik dalam karier saya."

Fans dan skuat Feyenoord layak bersuka cita. Perjalanan merebut gelar juara tidak dilalui dengan mudah. Salah satu klub terbesar Belanda ini pernah terancam kebangkrutan, diselamatkan sebuah kelompok investor pada saat-saat terakhir. Kondisi internal yang karut marut memaksa mereka melepas banyak pemain muda ke klub rival, antara lain seperti Georginio Wijnaldum dan Leroy Fer. Bahkan mereka pernah dipermalukan PSV Eindhoven 10-0 dalam laga malapetaka di Eredivisie 2010/11.

Diawali dengan penunjukan Ronald Koeman sebagai pelatih, Feyenoord perlahan bangkit. Mengandalkan pemain asal akademi sendiri, akademi terbaik Belanda selama beberapa tahun beruntun, Koeman membangun kekuatan. Dua kali Feyenoord dibawa ke peringkat kedua Eredivisie. Prestasi yang terbilang menggembirakan dengan modal yang pas-pasan.

Setelah Koeman hijrah ke Liga Primer Inggris dan periode kepelatihan Fred Rutten yang singkat, direksi Feyenoord menjatuhkan pilihan pengganti pada sosok legenda klub, Giovanni van Bronckhorst. Penunjukan itu sudah disiapkan dengan baik. Selama empat musim, Van Bronckhorst ditempatkan sebagai asisten pelatih Koeman maupun Rutten.

Jangan dibilang jalan sukses langsung terbentang buat Gio. Kursi kepelatihannya goyah awal 2016 akibat rentetan hasil buruk, termasuk tujuh kali kekalahan beruntun. Alih-alih memecat, manajemen klub memutuskan untuk mendatangkan Dick Advocaat sebagai penasihan teknik. Dampaknya positif. Feyenoord kembali stabil dan finis di peringkat ketiga musim 2015/16.

Musim ini, Gio tak lagi menoleh ke belakang. Pembelian pemain di sektor krusial dilakukan. Ketika bek andalan Sven van Beek terus menerus mendekam dengan cedera, Jan-Arie van der Heijden didatangkan. Cedera yang menimpa kiper Kenneth Vermeer langsung mendorong Gio untuk merekrut Brad Jones. 

Lalu, Nicolai Jorgensen direkrut sebagai jawaban pencarian tak berkesudahan Feyenoord di lini depan. Sebagai penambah kekuatan, Gio meminjam Steven Berghuis dari Watford. Keputusan Feyenoord yang tak kalah penting adalah keberhasilan mempertahankan gelandang energik Tonny Vilhena.

Dengan akumulasi rasa lapar akan gelar juara, Feyenoord memimpin Eredivisie sejak pekan pertama dan tak pernah tergeser hingga selesai. Feyenoord bukan tim berpenampilan paling atraktif di Eredivisie, bukan pula tim yang diperkuat para pemain berteknik aduhai. Namun, kekompakan dan konsentrasi mereka tidak ada tandingannya.

Tidak cuma itu, kemujuran pun memihak kepada Feyenoord. Dua kali menghadapi PSV, dua kali Feyenoord mampu memetik kemenangan. Feyenoord diserang bertubi-tubi oleh PSV pada pertemuan pertama di Stadion Philips, tetapi mampu mencuri kemenangan lewat gol Eric Botteghin. Satu-satunya tembakan tepat sasaran mereka pada pertandingan itu.

Romansa Feyenoord kian lengkap pada pertemuan kedua. Kemenangan 2-1 dikantungi melalui bantuan teknologi garis gawang yang menangkap kesalahan Jeroen Zoet dalam melakukan penyelamatan. Dua kemenangan itu menjadi salah satu kunci juara Feyenoord karena Ajax hanya mampu meraih satu poin saat menghadapi tim yang sama.

"Saya tak bisa melukiskan perasaan ini. Saya begitu bahagia semua orang di dalam klub ini bekerja sekuat tenaga untuk membawa tim kembali menjadi juara," ujar Van Bronckhorst.

"Banyak momen hebat dalam karier bermain saya, tapi ini hari terbaik dalam karier saya. Kami mampu bereaksi dengan baik dalam setiap langkah mundur. Saya tak pernah ragu bahwa kami mampu memenangi gelar juara."

Feyenoord bukan tim yang sempurna. Tantangan lebih besar menanti dalam mempertahankan gelar musim depan. Van Bronckhorst dituntut mengambil kebijakan transfer yang cermat musim panas nanti karena mereka mesti mengikuti Liga Champions. 

Sebagian pemain, seperti Kuyt atau Karim El Ahamdi, sudah tak lagi muda. Berghuis akan kembali ke Watford, sedangkan pemain kunci seperti Rick Karsdorp menjadi incaran klub top Eropa.

Tantangan dari luar turut menunggu. Kebangkitan Ajax melalui para pemain mudanya menjadi buah bibir media Eropa selama satu bulan terakhir. Sementara itu, PSV dan Phillip Cocu tentu tak tinggal diam mengatasi persaingan Tiga Besar. Belum lagi menghitung potensi kejutan dari tim seperti FC Utrecht ataupun AZ Alkmaar.

Tapi, untuk saat ini, biarkanlah Feyenoord larut dalam pesta di Coolsingel.

"We hebben 'm, we zijn landskampioen!"