Saatnya Jurgen Klopp Cadangkan Philippe Coutinho?

Beban ekspektasi Coutinho mulai berdampak negatif pada penampilannya di lapangan, sementara Firmino mulai tampil gemilang di Anfield. Saatnya Klopp cadangkan Coutinho?

Ketika Philippe Coutinho mencetak gol kemenangan Liverpool atas Stoke City di pekan pertama Liga Primer Inggris, segenap fans Liverpool langsung melompat dari bangku untuk merayakannya. Betapa tidak, sang gelandang Brasil mencetak gol spektakuler dari jarak 30 meter di sepuluh menit terakhir pertandingan. Nama Coutinho pun dielu-elukan, pujian menghujaninya, tetapi di balik hingar-bingar itu, ia memikul beban berat yang tak kasat mata.

Delusi publik Anfield dan media memaksa Coutinho untuk memikul beban berat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Fans, media, bahkan Brendan Rodgers sebagai manajer saat itu menyebut Coutinho sebagai pemain terbaik Liverpool. Tugasnya beralih dari kreator serangan menjadi penentu kemenangan. Ia semakin dituntut dan dituntut untuk menggantikan kepergian Luis Suarez, Steven Gerrard, dan Raheem Sterling.

Layaknya bola salju yang semakin besar seiring dirinya menggelinding, Coutinho pun menemukan dirinya telah memikul beban berat yang sudah terakumulasi. Hal tersebut berdampak langsung dari penampilan di lapangan hijau. Ketajaman sang playmaker menurun dari laga ke laga. Ia semakin sering kehilangan bola, reaksinya terlalu lambat untuk memberikan umpan akhir, dan belasan peluang di depan gawang melayang entah ke mana.

Puncaknya, Jurgen Klopp mencadangkan Coutinho dalam laga kontra Bournemouth kemarin Jumat (29/10). Dilihat dari buruknya grafik penampilan Coutinho, jelas niat Klopp bukan sekadar memberikan istirahat fisik kepada sang gelandang.

*Catatan statistik per laga.

Coutinho merupakan pemain kedua Liga Primer Inggris yang paling sering melepaskan tembakan. Dari sembilan laga yang ia lakoni, ia berhasil menembak 43 kali. Catatan ini hanya kalah dari Alexis Sanchez yang mampu melepaskan 48 tembakan. Ironisnya, statistik ini justru menjadi bukti betapa majal Coutinho di depan gawang. Walaupun ia paling sering menembak, ia hanya mampu mencatatkan konversi gol sebesar 2,3%. Ini merupakan angka terburuk dibanding pemain lain yang sudah mencetak minimal satu gol.

Ironi lainnya tercermin dalam kemampuan dribel dan penciptaan peluang yang tidak sebanding. Coutinho memang rajin menjemput bola, melakukan dribel, dan menaklukkan pemain lawan satu demi satu. Catatan dribel (1,9) per laga pun menjadi yang terbaik di Liverpool, tetapi setelah melewati lawan, seringkali ia malah kehilangan arah. Ia hanya mampu mencatatkan rata-rata satu kreasi peluang per laga dan ini merupakan catatan terburuk dibanding dengan kreasi peluang musim sebelumnya (1,7 peluang per laga).

Apa yang bisa dipelajari dari statistik ini? Singkat saja, Coutinho dipaksa menjadi pemain bintang lima dengan metode permainan yang tidak familiar dengannya.

Kehilangan dua rekan penyerang dalam dua musim beruntun memaksa Coutinho memikul tanggung jawab yang besar. Ia dipaksa beradaptasi dengan cepat oleh Rodgers untuk menjadi inti permainan dalam skema barunya. Terlihat jelas dalam permainan Coutinho musim ini, ia lebih berperan sebagai penentu kemenangan ketimbang kreasi serangan. Apalagi dengan absennya Daniel Sturridge di lini depan, tuntutan untuk masuk kotak penalti dan mencetak gol semakin besar bagi Coutinho, tapi statistik di atas menunjukkan kalau Coutinho belum siap untuk hal itu.

Klopp sepertinya sadar betul akan beratnya beban yang dipikul oleh Coutinho. Pria berkebangsaan Jerman itupun mengurangi tanggung jawab Coutinho sedikit demi sedikit. Sang gelandang tidak lagi dipaksa bermain 90 menit, bahkan dicadangkan dalam laga kontra Bournemouth.

Sebagai gantinya, Klopp menurunkan Roberto Firmino yang sudah fit 100 persen dari cedera punggung. Rekan senegara Coutinho itu tampil gemilang, mencatatkan rentetan peluang, dan beberapa tembakan akurat ke gawang. Gol kemenangan Nathaniel Clyne juga tak bisa dilepaskan dari jasa besar gelandang Brasil tersebut.

“Biasanya ia bermain sebagai gelandang serang, atau penyerang lubang, atau ia bisa datang dari sayap. Ia adalah pemain yang berteknik. Ada beberapa waktu di satu tahun lalu, untuk beberapa bulan, sudah jelas ia merupakan pemain terbaik di Bundesliga,” ungkap Klopp tentang kesan awal terhadap Firmino.

“Semua orang bisa melihat kalau ia akan jadi pemain yang sangat, sangat bagus dan ketika saya dengan Liverpool membelinya, saya berpikir ‘pilihan bagus’,” tandasnya.

Klopp juga menambahkan kesan baiknya terhadap Firmino pasca laga Piala Liga, "Sangat penting bagi seorang pemain yang belum lama datang ke klub barunya untuk menunjukkan penampilan terbaik, saya tahu Firmino adalah pemain yang hebat," ujar Klopp sebagaimana dilansir oleh Soccerway.

"Kita mulai sedikit lebih banyak tentang dia. Dia sudah siap. Dia sudah siap berkarier di Liga Inggris. Dia kuat secara fisik dan lihai dalam urusan teknik. Selain itu ia juga penyelesai yang baik," pungkas Klopp.

Kesan positif terhadap Firmino ini ada baiknya tidak dipandang sebagai ancaman untuk posisi Coutinho. Sebaliknya, kehadiran Firmino justru menjadi saat yang tepat untuk menyegarkan pikiran Coutinho dan mengangkat ekspektasi selangit yang ada di pundaknya. Coutinho tentu kenal baik dengan Firmino dan hal itu semakin menegaskan kalau kedua gelandang bisa berbagi beban ekspektasi di Liverpool.

Pikiran yang sama mungkin sedang terjadi di kepala Klopp saat ini. Ketika sang manajer tengah memutar otak jelang laga kontra Chelsea, ada waktunya ia menentukan siapa yang bakal jadi kreator utama The Reds. Mungkin Coutinho, mungkin juga Firmino, Klopp lebih tahu pilihan yang terbaik untuk timnya. Adapun seiring berjalannya waktu, jelas publik Anfield berharap dua gelandang itu bisa berbagi peran utama, di lapangan yang sama, dan mengenakan seragam yang sama: seragam Liverpool.