Seberkas Komet Vincent Janssen Dari Langit Wembley

Kemunculan Vincent Janssen memberi kemujuran bagi Belanda dan pelatih Danny Blind.

Kalaulah ada yang meringankan hati ketika menyaksikan penampilan Belanda saat menghadapi tuan rumah Inggris di Stadion Wembley, Selasa (29/3) malam, adalah kontribusi positif penyerang muda berusia 21 tahun asal AZ Alkmaar, Vincent Janssen.

Belanda tertinggal satu gol di babak pertama akibat tendangan Jamie Vardy. Janssen berperan penting dalam membalikkan keadaan setelah turun minum. Dengan dingin dia menyelesaikan eksekusi penalti setelah Danny Rose melakukan handball di area terlarang. Itu menjadi gol pertamanya untuk Oranje setelah untuk kali pertama dipercaya turun sebagai pemain inti.

Berselang hampir setengah jam kemudian, Janssen berhasil merebut bola hasil umpan terobosan Riechedly Bazoer. Dia kemudian memberikan operan mendatar yang dituntaskan Luciano Narsingh. Proses terciptanya gol diprotes para pemain Inggris karena menilai Janssen melakukan pelanggaran terhadap Phil Jagielka. Wasit Antonio Miguel Mateu Lahoz bergeming mengesahkan gol.

Terlepas dari penampilan tim yang belum meyakinkan, Janssen menjadi buah bibir media Belanda. Kemunculannya dianggap sebagai representasi generasi baru sepakbola Belanda usai kegagalan di kualifikasi Euro 2016. Janssen memberikan seberkas harapan.

Janssen menjadi salah satu dari sekian banyak pemain muda bagian dari proyek regenerasi tim di bawah kepelatihan Danny Blind. Berbekal resume panjang sebagai asisten pelatih timnas (bahkan lebih panjang daripada pengalamannya melatih), Blind harus membenahi kepercayaan diri tim yang hancur lebur.

Kenaikan kelas Janssen ke level internasional adalah sebuah keniscayaan. Performa Janssen di AZ meningkat drastis setelah pergantian tahun. Golnya ke gawang Fraser Foster tadi malam merupakan yang ke-16 pada 2016. Di Eredivisie, Janssen bertengger sebagai topskor dengan torehan 20 gol. Sebanyak 14 gol di antaranya tercipta dalam 11 pertandingan terakhir.

Kemunculan Janssen dilukiskan bak komet. Tahun lalu, Janssen masih berlaga di pentas divisi satu Belanda bersama Almere City. Klub kecil dekat kota Amsterdam itu menjadi persinggahan Janssen setelah Feyenoord Rotterdam menolak memakai jasanya di skuat utama. Selama empat tahun Janssen memperkuat tim taruna Feyenoord di setiap jenjang kelompok usia.

Sukses menggelontorkan 32 gol dalam 74 penampilan untuk Almere, Janssen direkrut AZ awal musim ini. Dia memerlukan waktu beradaptasi sehingga baru "pecah telur" pada pertandingan kedelapan. Ketika AZ menemukan irama permainan pada periode pergantian tahun, Janssen pun akhirnya mulai rajin mencetak gol.

Pintu timnas Belanda mulai terbuka untuknya, namun baru jadi kenyataan pada jeda internasional bulan ini. Janssen memulai debut Oranje dengan menjadi pemain pengganti Luuk de Jong pada menit ke-82 uji coba melawan Prancis. Dengan demikian, Janssen menyusul jejak Ruud van Nistelrooy dan Klaas-Jan Huntelaar sebagai striker yang memulai karier di Eerstedivisie hingga sukses menembus timnas.

Pujian kembali didapat usai tampil di Wembley. Penampilan Janssen diibaratkan seperti kombinasi Dirk Kuyt dan Ruud van Nistelrooy. Paduan kecanggihan fisik dan akurasi tinggi. Ketika Belanda memperoleh hadiah penalti, tanpa ragu Janssen mengajukan diri sebagai eksekutor. Hanya 58 menit yang dibutuhkannya untuk membuka rekening gol di timnas.

"Ketika kami mendapatkan penalti, saya berkata dalam hati, 'Ini untuk saya menebus kegagalan'," ujar Janssen kepada Voetbal International . Beberapa saat sebelum penalti terjadi, Janssen memperoleh peluang bersih memanfaatkan John Stones yang terpeleset. Tendangan Janssen dapat dipatahkan Foster.

"Tidak ada penunjukan tugas siapa yang menjadi eksekutor penalti. Pemain lain mendorong saya agar melakukannya."

Blind menilai tinggi harga kemenangan di Wembley. Sebelum uji coba digelar, target tinggi memang sengaja diusung supaya dapat menjadi modal tim menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2018 yang dimulai September mendatang. Fokus pada hasil dan tidak terlalu peduli pada prosesnya, Blind seperti hendak menjadi ilusionis yang berjuang keras meyakinkan audiensnya.

Penampilan Belanda masih jauh dari meyakinkan. Persentase penguasaan bola Belanda, serta total umpan mereka di babak pertama, adalah yang terendah sejak Piala Dunia 2014. Lalu, pertanyaan terbesar adalah soal kreativitas.

Pergerakan bola dari lini tengah memprihatinkan. Trio Ibrahim Afellay, Georginio Wijnaldum, dan Riechedly Bazoer total hanya melepaskan 87 kali operan. Bandingkan dengan pemberi operan terbanyak dalam pertandingan ini, Daniel Drinkwater, sejumlah 95 kali.

Kontribusi ofensif trio gelandang Belanda itu minim. Masing-masing mendapat peluang melepaskan tembakan ke gawang Inggris dan Bazoer mengawali terciptanya gol kemenangan. Tapi, jumlah umpan kunci yang mereka hasilkan? Nol besar.

Generasi baru membutuhkan pendekatan yang baru pula. Belanda masih membutuhkan banyak perbaikan penampilan. Untuk menghadapi kualifikasi Piala Dunia yang berat (Belanda bergabung satu grup bersama Prancis dan Swedia), para pemain muda Belanda membutuhkan inspirasi serta kreativitas. Tidak terlena dengan kemenangan di Wembley.

Karena untuk saat ini, Blind berutang terima kasih pada komet Janssen.

Topics