Segores Cacat Di Balik Sinar Dimitri Payet

Prancis boleh saja mengelu-elukan nama Dimitri Payet dan bersorak atas kehadiran pahlawan baru, tapi Deschamps tentu menyadari ada cacat yang tergores di tubuh timnya.

Dimitri Payet menuai segudang pujian setelah mencetak gol kemenangan Prancis atas Rumania, Sabtu (11/6) dini hari WIB, di laga pembuka Euro 2016. Dari jarak sekitar 25 meter, winger West Ham United itu melepaskan tendangan geledek yang mengoyak sudut gawang Ciprian Tatarusanu. Les Bleus unggul 2-1 hingga peluit panjang dan Payet mendapat sorotan istimewa berkat satu gol dan satu assist.

Didier Deschamps mendapatkan pahlawan baru dalam timnya dan berkat sinar Payet, Prancis kini memuncaki klasemen Grup A. Tim Ayam Jago hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk memastikan langkah ke fase gugur Euro. Namun di balik kegemilangan sang winger, ada sebongkah masalah yang tersembunyi dan Deschamps tidak bisa tidak menyadarinya.

Dimitri Payet, pahlawan baru Prancis

Hal pertama yang perlu disorot adalah lemahnya koordinasi antara Laurent Koscielny dan Adil Rami. Walau kedua pemain tersebut adalah bek terbaik yang dibawa Deschamps, pertahanan keduanya masih jauh dari sempurna. Terbukti, kelengahan Koscielny beberapa kali dimanfaatkan oleh Rumania. Ia hanya bisa bernafas lega karena sentuhan akhir lawan terlampau buruk hingga tiga peluang sia-sia dan Hugo Lloris tampil gemilang untuk menggagalkan peluang emas Rumania di awal pertandingan.

Kedua, Patrice Evra, veteran Prancis yang kini bermain bagi Juventus, turut mendapat sorotan negatif terkait penampilannya. Eks bek sayap Manchester United itu memang tampil ambisius dan progresif dalam segala kesempatan, tapi satu kesalahan fatal membuat Viktor Kassai memberikan penalti bagi Rumania. Bogdan Stancu berhasil memanfaatkan kesalahan Evra dan menyamakan kedudukan di paruh kedua. Memang, penampilan Evra tidak bisa dihakimi oleh satu kesalahan tersebut, tapi kesalahan konyol tersebut tidak seharusnya dilakukan oleh sang bek veteran.

Selain itu, dua pemain bintang Les Bleus yang diharapkan justru tampil melempem di laga pembuka. Paul Pogba dan Antoine Griezmann, dua bintang yang tampil gemilang di level klub, tidak menunjukkan permainan terbaiknya di laga pembuka. Pogba mungkin masih menunjukkan teknik brilian, tapi Griezmann gagal memberikan pengaruh dalam bentuk gol. Pogba bahkan harus diganti di pengujung laga demi memberikan ruang lebih bagi Payet untuk berkreasi – hal yang tentu dirayakan secara pribadi oleh Deschamps yang mengambil keputusan berani.

Pogba & Griezmann gagal bersinar di laga pembuka.

Lini depan pantas pula mendapat sorotan dalam edisi kali ini. Olivier Giroud tidak berada dalam performa terbaik dan sekilas Prancis pasti merindukan Karim Benzema. Penyerang Arsenal itu terlihat canggung dalam beberapa kesempatan dan menjadi pemain Prancis yang paling sering kehilangan bola. Belum lagi, Giroud turut gagal merampungkan dua peluang emas ke gawang Tatarusanu. Untung saja ia berhasil memanfaatkan assist Payet dan membawa Prancis unggul di awal babak kedua.

Adapun kemenangan emosional Prancis ini tetap layak dirayakan. Setelah perjuangan sengit di awal turnamen, mereka layak berharap untuk menang usai berpuasa gelar lebih dari satu dekade. Deschamps mendapatkan pahlawan-pahlawan baru dalam timnya, yakni Dimitri Payet dan N’Golo Kante. Prancis mendapatkan banyak hal positif dalam kemenangan dramatis kontra Rumania.

Generasi setengah baru yang dimiliki Prancis masih layak menyandang status unggulan. Hanya saja, Deschamps perlu membumbui timnya dengan satu hal yang tak terlihat nyaris sepanjang laga dini hari tadi. Deschamps perlu menambahkan satu kualitas yang tidak ditunjukkan oleh Pogba, Griezmann, Giroud, dan Matuidi tadi. Deschampes perlu menambahkan satu bumbu lagi ke dalam skuatnya: naluri pembunuh.