Sejarah Hari Ini (10 Juni): Selamat Ulang Tahun, Carlo Ancelotti!

Nasib malang baru saja menimpat Carlo Ancelotti, tapi di hari ulang tahunnya yang ke-56, sudah saatnya untuk lupa dan bernostalgia. Auguri!

Nasib malang baru saja menimpa Carlo Ancelotti. Setelah mempersembahkan La Decima pada Real Madrid di musim perdananya, ia didepak begitu saja. Banyak yang menyayangkan keputusan tersebut, bahkan tak sedikit yang membela Don Carletto. Adapun palu penghakiman telah dipukulkan dan Ancelotti tetap dipecat.

Beberapa pekan setelah pemecatan tersebut, tepat di hari ini, Ancelotti merayakan ulang tahunnya yang ke-56. Mungkin ia sudah tidak bersedih. Bisa jadi, ia sudah menerima nasibnya itu dan memaklumkan pemecatan sebagai risiko yang ia dapat dari melatih sebuah klub besar. Mungkin ia sudah menyadari bahwa dirinya kurang beruntung.

Ya, mungkin ia kurang beruntung di Santiago Bernabeu, sebab jika membuka album kenangan Ancelotti, tahulah kita bahwa ia bukan pelatih sembarangan – bahkan sejak menjadi pemain ia sudah masuk perhitungan.

 

Ancelotti mengawali karir sepakbolanya di Parma. Di sana, ia menjadi sosok penting tanpa membutuhkan waktu lama. Kecerdasannya dalam membaca permainan serta menciptakan peluang bahkan membuatnya jadi properti panas di bursa transfer. Carletto akhirnya merapat ke Roma setelah tiga musim.

Bersama Giallorossi, Ancelotti tampil lebih cemerlang. Ia merengkuh beberapa gelar di Italia dan melewati periode sukses di Olimpico. Adapun kegemilangannya menarik hati klub yang lebih besar saat itu: AC Milan. Dan bergabunglah Ancelotti dengan rentetan legenda seperti Franco Baresi, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard. Singkat cerita, Carletto melalui masa-masa indah penuh gelar bersama generasi emas Milan.

Lelah berkarir sebagai pemain, Ancelotti beralih ke dunia manajemen. Ia pun mengawali karirnya sebagai pelatih di Reggiana pada periode 1995/96, sebelum akhirnya merapat ke Parma selama dua tahun, lalu menjalani periode singkat di Juventus.

Carletto kembali ke San Siro setelah gagal di Juventus. Tampil sebagai nahkoda Milan, mantan gelandang Italia itu menyajikan performa yang luar biasa bagi Rossoneri. Ia mengembalikan Milan ke zona Eropa dan perlahan-lahan membangkitkan Milan yang performanya sedang turun. Kerja keras dan kecerdasan Ancelotti terus berbuah manis, hingga akhirnya ia membawa Milan menghadapi Juventus di final Liga Champions 2003.

Final tersebut jadi balas dendam yang manis bagi Carletto karena Milan menang 3-2 via adu penalti. Sang pelatih pun berhasil menghadirkan Si Kuping Besar dua tahun setelah bergabung dan gelar demi gelar terus menghampirinya. Empat tahun berselang, gelar paling bergengsi se-Eropa itu kembali ia boyong ke San Siro setelah mengalahkan Liverpool di final Liga Champions.

Setelah panen gelar di Milan, Ancelotti mundur dan merapat ke Chelsea di musim 2009/10. Musim pertamanya di Stamford Bridge ternyata berjalan dengan lancar, ia bahkan langsung memenangkan Community Shield, lalu memenangkan Piala FA dan Liga Primer Inggris di akhir musim.

Sayang, musim keduanya ternyata tak berjalan lancar. Ancelotti kembali mengalami puasa gelar dan harus rela dipecat oleh Roman Abramovich. Di titik itulah ia memutuskan untuk istirahat, dan baru memutuskan untuk kembali di tahun 2012, di mana ia berhasil memenangkan Ligue 1 bersama Paris Saint-Germain.

Musim selanjutnya, ia dikontrak oleh Real Madrid dan semuanya tahu apa yang terjadi setelah itu: La Decima, Copa del Rey, Piala Super UEFA, Piala Dunia Antarklub, lalu pemecatan.

Adapun hari itu sudah berlalu bagi Ancelotti. Saat ini, sudah layak dan sepantasnya ia merayakan ulang tahun yang ke-56. Biar saja pikiran buruk tentang pemecatan itu berlalu, toh, ia masih punya banyak gelar untuk di-nostalgia-kan.

Siapa tahu, setelah perayaan ini dan istirahat semusim, Ancelotti kembali menjadi nakhoda dan beruntunglah mereka yang mendapatkan jasanya.

Buon Compleanno, Ancelotti!