Sejarah Hari Ini (15 Juni): Air Mata Jong Tae-Se

Menghadapi Brasil di Piala Dunia 2010, Korea Utara tampil begitu bersemangat untuk membuat sang juara dunia lima kali terlihat frustrasi.

Mendengar nama Korea Utara, kesan pertama yang muncul di dalam benak adalah sebuah negara tertutup berideologi komunis yang memiliki sederet fakta tak lazim. Namun, dalam hal sepakbola, Korut ternyata menyimpan beberapa cerita menarik.

Kisah pertama terhampar di tahun 1966 ketika Korut mengikuti Piala Dunia untuk kali pertama dengan mampu menembus babak perempat-final setelah secara mengejutkan sempat mengalahkan Italia di babak grup. Sayang, Portugal menggagalkan langkah mereka ke semi-final setelah menang dengan skor 5-3 kendati sempat tertinggal tiga gol dari negeri Asia Timur itu.

Namun, cerita kedua tak kalah menarik dan baru terjadi tepat lima tahun yang lalu di Afrika Selatan ketika Korut tampil di Piala Dunia 2010 – partisipasi mereka yang kedua dalam sejarah turnamen sepakbola terakbar itu. Korut datang ke Afsel sebagai tim dengan peringkat FIFA terendah dan mereka langsung dihadapkan dengan sang juara dunia lima kali, Brasil, dalam laga pembuka Grup G di Ellis Park.

Sebelum kick-off dimulai, ketika “Aegukka” alias lagu kebangsaan Korut sedang dikumandangkan, sebuah momen unik terjadi ketika kamera menyoroti satu per satu wajah para pemain Chollima, julukan timnas Korut. Tiba-tiba, kamera berhenti selama beberapa detik di wajah Jong Tae-se yang terlihat begitu emosional sambil menitikkan air mata. Jong menangis tersedu-sedu.

Tangisan Jong, yang merupakan penyerang kelahiran Jepang namun memiliki kakek dari Korut, sukses menjadi bumbu penyedap dalam laga yang berakhir dengan kemenangan susah payah 2-1 untuk Brasil tersebut.

Korut tampil dengan lima bek dan secara tak terduga mampu membuat Brasil besutan Dunga sangat frustrasi di babak pertama dan baru bisa mencetak gol di menit 55 ketika Maicon membuka skor dari sudut sempit. Elano kemudian menggandakan skor di menit 72 sebelum akhirnya Ji Yu-Nam memperkecil keadaan. Itu adalah sebuah kekalahan heroik buat Korut.

“Mereka mampu mengumpan dan bertahan dengan sangat baik. Sangat sulit bermain melawan tim yang tampil tangguh dan defensif seperti mereka,” tutur Dunga mengomentari Korut. Sayang, wakil Asia itu gagal mengulangi performa serupa di dua laga berikut sebagaimana mereka dibantai Portugal 7-0 dan Pantai Gading 3-0. Mereka pun tersisih dari fase grup dengan status juru kunci Grup G.

Kegagalan di Afsel tersebut memberikan kenangan buruk bagi seluruh skuat Korut. Ketika tiba di Pyongyang, mereka dilaporkan dibawa ke Pusat Kebudayaan Korea Utara untuk dipermalukan oleh Menteri Olahraga dalam sebuah acara yang dihadiri oleh anggota pemerintah, siswa, dan jurnalis. Para penggawa Korut dikritik karena gagal menampilkan apa yang disebut “ketangguhan ideologi”.

Tak hanya itu, para pemain dan staf pelatih Korut bahkan sempat dikabarkan mendapat hukuman menjadi buruh tambang. Kendati demikian, pihak pemeriksa FIFA yang menginvestigasi laporan tersebut tak mampu mengonfirmasi kebenaran kabar itu.

Adapun Jong, yang tampil baik di Piala Dunia 2010, terus menjalani karier profesionalnya. Penyerang berjuluk “Wayne Rooney dari Asia” ini langsung mendapat tawaran berman dari Jerman dan ia menyanggupinya dengan berkarier di Bochum dan Koln. Kini, Jong membela klub Korea Selatan, Suwon Samsung Bluewings.