Sejarah Hari Ini (15 Juni): Selamat Ulang Tahun Michael Laudrup

Pemain yang berperan penting dalam permainan cantik nan atraktif Barca merayakan ulang tahunnya yang ke-50 hari ini.

OLEH DEWI AGRENIAWATI Ikuti di twitter

Denmark sempat melahirkan bakat sepakbola luar biasa yang namanya berkibar di klub-klub Eropa. Dia sukses menyabet titel liga bersama Ajax Amsterdam, Barcelona, Real Madrid dan Juventus semasa aktif bermain. Di Blaugrana, dia termasuk salah satu legenda yang dicintai setelah mempersembahkan total sembilan trofi, termasuk empat La Liga secara konsekutif.

Sayang, karier internasionalnya diwarnai penyesalan saat menolak membela timnas Denmark di Euro 1992, yang ketika itu secara mengejutkan menjadi kempiun. Siapakah dia?

Ya, Michael Laudrup. Dia merayakan ulang tahunnya ke-50 tepat hari ini. Sebagai persembahan di hari ulang tahunnya, Goal Indonesia akan merangkum perjalanan Laudrup selama berkarier sebagai pemain dan pelatih.

Menyabet Titel Domestik di Empat Tim Berbeda

Lahir dari keluarga yang kental dengan sepakbola - ayahnya, Finn Laudrup, mantan pemain timnas Denmark - Laudrup mengawali karier di tim lokal negaranya termasuk Borndby pada 1982, tepat setahun setelah ayahnya mengakhiri karier. Laudrup tampil gemilang dengan catatan 24 gol dalam 38 penampilan dan hasil ini menggiringnya ke Serie A dengan Juventus sebagai pelabuhan pada 1983.

Tapi, karena peraturan yang membatasi sebuah klub hanya diperbolehkan memiliki dua pemain asing - ketika itu Juve memiliki Zbigniew Boniek dan Michel Platini, I Bianconeri melepasnya ke klub promosi Lazio, dan hal ini tidak diketahui Laudrup sebelum menandatangani kontrak untuk Juventus. Dua musim di I Biancocelesti, Laudrup akhirnya ditarik Juve pada musim panas 1985 untuk menggantikan Boniek.

Di musim pertamanya bersama tim Putih Hitam, dia menyabet Scudetto 1985/86, Piala Interkontinental dan dinobatkan sebagai pemain terbaik Denmark pada 1985. Sayang, di musim berikutnya Laudrup tak mengecap sukses karena rangkaian cedera yang membekapnya. Bahkan ketika menggantikan peran Platini yang pensiun pada 1987, Laudrup gagal memenuhi standar.

Merasa musimnya tak sukses, pemain dengan tinggi 183 cm ini akhirnya memutuskan hijrah ke Barcelona. Di bawah komando idola masa kecilnya, Johan Cruyff, Laudrup dengan dua pemain asing bek Belanda Ronald Koeman dan striker Bulgaria Hristo Stoickov serta para bintang Pep Guardiola, Bakero dan Begiristain merupakan pilar tim impian Blaugrana.

Laudrup berperan besar dalam permainan cantik dan atraktif Barca ketika itu dan mengantar tim merajai La Liga dengan empat gelar beruntun mulai 1991 hingga 1994. Tak ketinggalan juga gelar Piala Champions, Piala Super Eropa, Copa del Rey dan Supercopa de Espana masuk dalam lemari trofi The Catalans.

Ketika Barca merekrut pemain asing keempat, striker Brasil Romario pada 1993, posisi Laudrup mulai terancam karena ketika itu tim hanya boleh memainkan maksimal tiga pemain asing di setiap laga. Puncaknya saat Laudrup tak masuk dalam skuat final Piala Champions 1994 yang berujung kekalahan 4-0 dari AC Milan. Konon, Laudrup berselisih dengan Cruyff dan akhirnya memutuskan hengkang.

Kepergian Cruyff jelas petaka besar buat Blaugrana, apalagi secara mengejutkan dia memilih rival abadi klub, Real Madrid, sebagai pelabuhan berikut. Wacana revans terhadap pelatih asal Belanda pun ramai dibicarakan, meski yang bersangkutan menampik.

“Orang mengatakan saya ke Real Madrid hanya untuk revans. Saya bilang balas dendam dari apa? Saya memiliki waktu fantastis, lima tahun yang fantastis di sini [Barcelona]. Saya pergi ke Madrid karena mereka sangat lapar kemenangan, dan mereka memiliki empat atau lima pemain yang memenangkan Piala Dunia. Saya katakan ini sempurna, pelatih baru, pemain baru dan hasrat untuk menang.”

Laudrup akhirnya membawa Madrid mengakhiri hegemoni Barca, sekaligus menjadikannya sebagai satu-satunya pemain yang memenangkan La Liga lima musim konsekutif di dua klub berbeda. Dia pun terpilih sebagai salah pemain asing terbaik dalam sejarah Los Blancos versi Marca.

Dua musim di Madrid, Laudrup hengkang ke klub Jepang Vissel Kobe sebelum akhirnya mengakhiri karier sebagai pemain dengan mengantar Ajax juara Eredivisi 1998.

Penyesalan di Timnas Denmark

Karier menterang Laudrup di klub tidak menular di level internasional. Pada ulang tahun ke-18, dia menjadi pemain Denmark termuda kedua setelah Herald Nielsen dan main di empat pertandingan Euro 1984.

Highlight perjalanan Laudrup bersama tim Dinamit justru lebih mengarah pada kontroversi yang terjadi di Euro 1992. Setelah melakoni tiga pertandingan kualifikasi, Laudrup memutuskan hengkang dari timnas pada November 1990, bersama Brian Laudrup dan Jan Molby karena perbedaan pendapat dengan arsitek Richard Moller Nielsen.

Denmark sebenarnya gagal lolos ke putaran final Piala Eropa, tapi mereka mendapat hadiah kursi yang seharusnya ditempati Yugoslavia, yang dicoret lantaran perang di negara tersebut. Laudrup menilai tim Dinamit tak punya peluang bagus, sehingga dia memutuskan melanjutkan masa liburan, sebuah keputusan yang mungkin akan disesalinya hingga sekarang setelah melihat Denmark membekuk juara bertahan Belanda dalam drama adu penalti di semi-final, di mana kiper Peter Schmeichel berhasil menyelamatkan eksekusi Marco van Basten. Di partai final, Denmark mengejutkan publik dengan membekuk favorit juara Jerman 2-0 berkat gol John Jensen dan Kim Vilfort.

Dia akhirnya kembali ke skuat Nielsen Agustus 1993, tapi Denmark kesulitan mengulang prestasi manis di turnamen mayor. Laga terakhirnya terjadi pada Piala Dunia 1998 ketika dia mengapteni Denmark untuk lolos ke perempat-final, sebelum akhirnya tereliminasi usia kalah 3-2 dari Brasil dan Laudrup mengumumkan pensiun.

Karier Pelatih

Laudrup menjajal kemampuan melatihnya dengan menjadi asisten Morten Olsen di timnas Denmark pada 2000. Setelah sukses membawa timnas ke fase gugur Piala Dunia 2002, Laudrup membesut bekas klubnya, Brondby dan mempersembahkan Piala Super Denmark, Piala Denmark, dan Superliga Denmark.

Pencetak 37 gol dari 104 caps bersama Denmark kemudian melebarkan sayap ke klub La Liga, Getafe pada 2007 namun kariernya tak bertahan lama, karena setahun kemudian dia memutuskan mundur.

Pada 12 September 2008, Laudrup resmi menandatangani kontrak 1,5 tahun untuk melatih Spartak Moskwa, menggantikan Stanislav Cherchesov. Tapi, dia dipecat pada 15 April 2009, setelah baru tujuh bulan bekerja lantaran Spartak tersingkir di perempat-final Piala Rusia, kalah 3-0 dari Dinamo Moskwa.

Laudrup kembali ke La Liga usai Mallorca meminangnya pada Juli 2010 dengan durasi kontrak dua tahun. Walau berhasil menghindari degradasi, Laudrup mengalami kesulitan karena kehilangan sejumlah pemain tim utama dan menolak bermain di Liga Europa lantaran kesulitan finansial. Di awal musim 2011/12, Laudrup memutuskan mundur karena berselisih paham dengan direktur sepakbola Lorenzo Serra Ferrer.

Laudrup lalu melanjutkan petualangannya di klub Liga Primer Inggris Swansea City, menggantikan Brendan Rodgers yang hengkang ke Livepool. Pada 24 Februari 2013, Laudrup memenangkan trofi pertama sepanjang sejarah Swansea setelah membekuk Bradford Ciry 5-0 di final Piala Liga di Wembley. Perjalanan Laudrup berakhir 4 Februari lalu setelah tim menelan enam kekalahan dari delapan laga di Liga Primer.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics