Sejarah Hari Ini (17 Mei): Trofi Perdana Eropa Untuk Turki

Di penghujung milenium kedua, Galatasaray mengambil alih tugas Kerajaan Turki Ottoman untuk menguasai Eropa dengan menjuarai Piala UEFA.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Banyak orang yang memprediksi masa kejayaan Turki telah usai ketika Kerajaan Turki Ottoman dibabat habis di awal abad ke 20. Betapa tidak, ekspansi mereka yang sempat nyaris melebar ke seluruh penjuru Eropa, bahkan mulai menginvasi Asia dan Afrika, dibumihanguskan ketika Perang Balkan. Tak ada tanda-tanda apapun yang mengisyaratkan bahwa Kerajaan Ottoman, simbol kejayaan Turki, masih hidup.

Namun di penghujung milenium kedua, tahun 2000, Hakan Sukur cs yang bermain bagi Galatasaray mengambil alih tugas Kerajaan Ottoman untuk menguasai Eropa. Kali ini tidak dimulai dengan okupasi Konstantinopel, melainkan Parken Stadium, Kopenhagen, Denmark.

Galatasaray sebenarnya mengawali langkah mereka di Eropa lewat Liga Champions. Mereka harus tersingkir dari kompetisi bergengsi tersebut karena menduduki peringkat ketiga di fase grup, kalah dari Chelsea dan Hertha Berlin. Galatasaray pun terlempat ke kompetisi Eropa setingkat di bawahnya.

Siapa sangka, tersingkirnya mereka malah jadi keberuntungan di balik kemalangan. Bermain di Piala UEFA (sekarang Liga Europa) mereka melaju dengan mudah sejak babak gugur. Galatasaray menghadapi Bologna, Borussia Dortmund, Mallorca, sebelum bertemu dengan Leeds United di semi-final. Di babak empat besar itupun, Galatasaray berhasil lolos setelah menang 4-2 secara agregat.

Final Piala UEFA di Kopenhagen akhirnya mempertemukan Galatasaray dengan Arsenal . Mungkin laga tersebut menyimpan sedikit dendam historis jika mengingat kegagalan Kerajaan Ottoman dalan menaklukkan Inggris, namun lepas dari kisah tersebut, final di Kopenhagen ini menyedot perhatian para penggila sepakbola.

Overmars berduel dengan Popescu.

Bertabur penyerang tajam – Thierry Henry & Sukur – dan kreator brilian –Gheorghe Hagi & Dennis Bergkamp, laga ternyata tak berjalan sesuai ekspektasi. Pertandingan yang tersaji bukanlah pertandingan penuh dengan aksi-aksi heroik maupun penciptaan peluang mendebarkan, melainkan pertandingan yang keras. Wasit pun disibukkan sehingga ia harus mengeluarkan empat kartu kuning, dua untuk Arsenal dan dua untuk Galatasaray.

Babak kedua tak menghasilkan banyak perubahan. Laga keras dan empat kartu kuning kembali tersaji di Kopenhagen. Ketajaman Henry dan Sukur nyaris tak terlihat, sementara kedua kubu mulai terbawa emosi dalam menjalani pertandingan. Puncaknya, Hagi dikeluarkan dari pertandingan di babak tambahan setelah ia ketahuan memukul Tony Adams. Galatasaray bermain dengan sepuluh orang dan Arsenal terus menyerang mulai menit tersebut.

Aturan golden goal tentu membuat Arsenal mengerahkan segala kemampuan mereka. Wajar saja, Gunners unggul jumlah pemain, Henry masih terlihat cukup bugar, sementara Galatasaray kehilangan playmaker mereka. Peluang demi peluang mereka ciptakan dan Henry benar-benar nyaris membobol gawang Galatasaray di babak tambahan. Umpan silang Ray Parlour ia tanduk ke gawang kosong, namun tiba-tiba Claudio Taffarel muncul dan menepisnya. Bola jatuh ke kaki Marc Overmars, namun bola berhasil diblok oleh bek Galatasaray.

Arsene Wenger pun menurunkan Davor Suker, topskor Piala Dunia 1998 yang baru bergabung dengan Arsenal, di lima menit terakhir. Namun satu-satunya peluang emas yang mampu Gunners berikan hanyalah dribel cantik Nwankwo Kanu yang berujung pada tembakan ke gawang. Ya, sekadar mengarah ke gawang karena Taffarel kembali menggagalkannya. Laga pun berlanjut ke adu penalti, satu hal yang jelas sangat ingin dihindari oleh Arsenal.

Henry dan Petit terduduk lesu setelah kekalahan Arsenal.

Ergun Penbe jadi penendang pertama Galatasaray dan ia berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Namun di kubu Arsenal, Suker yang dipercaya sebagai pembuka malah gagal karena tendangannya membentur mistar gawang. Selanjutnya, Umit Davala, Hakan Sukur, dan Gheoghe Popescu berhasil menunaikan tugasnya, sementara Ray Parlour menjadi satu-satunya pemain Arsenal yang mampu mengonversi eksekusinya menjadi gol.

Galatasaray keluar sebagai juara Piala UEFA, menang 4-1 di adu penalti, dan untuk pertama kalinya mereka memboyong trofi Eropa ke negara mereka. Mereka berhasil menaklukkan Eropa, meneruskan ekspansi ngotot nenek moyang mereka yang termanifestasi dalam semangat tempur Galatasaray!

Dan kesuksesan itu mereka genapi dengan mengalahkan Real Madrid – juara Liga Champions – di Piala Super UEFA tiga bulan setelahnya.

addCustomPlayer('jm41p602ywqr1avwrn3qazp56', '', '', 620, 540, 'perfjm41p602ywqr1avwrn3qazp56', 'eplayer4', {age:1426475490762});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.