Sejarah Hari Ini (20 Juli): Chelsea Gaet Predator Depan Gawang, Didier Drogba

Didier Drogba tak butuh waktu lama untuk jadi pujaan para suporter The Blues.

OLEH FARABI FIRDAUSY Ikuti di twitter

20 Juli sepuluh tahun lalu Chelsea menggaet predator di depang gawang yang akhirnya menjadi sosok legenda hidup untuk publik Stamford Bridge. Ya, dia adalah Didier Drogba, striker yang direkrut Jose Mourinho dari klub Prancis Marseille dengan gelar Pemain Terbaik Prancis 2003/04.

Droba menjadi pusat perhatian dari Mourinho karena 18 gol yang dia lesakkan di Ligue 1 Prancis dalam 35 penampilan bersama Marseille. Striker Pantai Gading itu pun tak butuh waktu lama untuk menjadi pujaan suporter The Blues di seluruh dunia.

Dalam musim debutnya berseragam Chelsea, ia mempersembahkan gelar Liga Primer Inggris, mencatatkan sepuluh gol dari 26 penampilan dan menjadi bagian sejarah Chelsea yang memuncaki klasemen dengan total poin 95.

Selama menjadi ujung tombak Chelsea, Drogba yang kini telah berusia 36 tahun memberikan tiga titel Liga Primer Inggris, empat Piala FA dan dua Piala Liga di panggung domestik Inggris. Di musim 2009/10 Drogba bahkan mencatatkan rekor dengan mengemas 29 gol liga dalam semusim dan 37 di semua kompetisi yang merupakan pencapaian terbaik kedua dalam sejarah klub milik Roman Abrahamovic itu.

Kado terakhir dari Drogba untuk Chelsea pun sungguh manis, dia menyumbangkan gelar pertama Liga Champions untuk kubu London biru. Dia sukses menyempurnakan tugas dari titik putih ke gawang Manuel Neuer, saat adu penalti di laga final kontra Bayern Munich, 2011/12.

Selama delapan tahun berkarier di Chelsea, Drogba telah mengemas 100 gol dalam 226 penampllan di Liga Primer Inggris. Dia pun tercatat sebagai legenda hidup yang bakal selalu diingat publik Stamford Bridge.

Bukan hanya seorang pesepakbola hebat di atas lapangan, namun Drogba pun menjadi sosok yang punya kepedulian kepada tanah leluhur Afrika. Ia pernah berucap: "Saya sudah membantu tim memenangkan segala trofi dalam karier saya. Namun tidak akan ada yang menyaingi ketimbang bisa membantu memenangkan perdamaian di negara saya," katanya suatu ketika saat ditanya soal cita-cita.

Drogba kecil pun bukan anak yang selalu sukses, dia pernah merasakan hukuman larangan bermain sepakbola dari orang tua saat berusia 13 tahun, lantaran dia tinggal kelas akibat terlalu banyak bermain sepakbola. Namun bagaimana pun akhirnya dia menjadi salah satu pesepakbola yang membawa harum untuk negaranya dan juga London biru.

Drogba pun membeberkan di akhir kariernya bersama Chelsea bahwa, "Ketika saya menginjak London, saya merasakan sedang berada rumah," ungkapnya Mei, 2012, saat memutuskan untuk meninggalkan Chelsea.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics