Sejarah Hari Ini (23 Juli): Ricuh Internal Skuat Prancis

Buntut dari pemberontakan Patrice Evra dkk. saat Piala Dunia 2010, Federasi Sepakbola Prancis menjatuhkan hukuman kepada seluruh 23 pemainnya.

Piala Dunia 2010 adalah salah satu momen paling memalukan dalam sejarah sepakbola Prancis. Betapa tidak, Les Bleus yang ketika itu berstatus sebagai runner-up Piala Dunia edisi sebelumnya bukan cuma gagal total di fase grup, namun yang lebih mengenaskan adalah terjadinya pemberontakan di dalam skuat.

Semuanya bermula saat Prancis hampir dipastikan tersingkir setelah mendapat hasil mengecewakan di dua laga pembuka melawan Uruguay (0-0) dan Meksiko (0-2). Situasi tiba-tiba memburuk ketika pelatih Raymond Domenech memutuskan untuk memulangkan striker Nicolas Anelka setelah keduanya terlibat perdebatan panas di pinggir lapangan dalam laga versus Meksiko.

Menjelang laga terakhir Grup A melawan tuan rumah Afrika Selatan, secara mengejutkan kapten Patrice Evra memimpin rekan-rekan setimnya untuk menolak berlatih di Knysna sebagai protes atas pemulangan Anelka. Para pemain enggan keluar dari bus untuk berlatih, sambil secara terbuka mengecam Domenech dan memintanya dipecat. Pada akhirnya, Prancis tetap bertanding melawan Afsel, kalah 2-1, dan mengakhiri turnamen sebagai juru kunci grup.

Diusirnya Anelka dari skuat Prancis oleh Domenech menjadi pemicu insiden Knysna.

Hari ini (23/7), tepat lima tahun yang lalu, menjadi peringatan dijatuhkannya hukuman kepada seluruh penggawa Prancis yang terlibat dalam insiden Knysna itu. Federasi Sepakbola Prancis (FFF) memberikan sanksi larangan bermain selama satu pertandingan kepada seluruh 23 pemain sehingga mereka tak diizinkan tampil dalam laga persahabatan melawan tuan rumah Norwegia pada bulan Agustus.

Setelah turnamen selesai, presiden FFF ketika itu, Jean-Pierre Escalettes, memilih mengundurkan diri dan Domenech dilengserkan. FFF menunjuk pelatih baru, Laurent Blanc, yang terpaksa menurunkan skuat seadanya melawan Norwegia. "Prancis baru" itu pun takluk 2-1 di Oslo.

Hukuman tambahan juga diberikan kepada sejumlah pemain yang dinilai telah memelopori aksi boikot yang menjatuhkan citra Prancis di mata dunia. Lima pemain dipanggil untuk menghadiri hearing, yaitu kapten Evra, Jeremy Toulalan, Eric Abidal, Franck Ribery, dan Anelka, namun dua nama terakhir tidak hadir.

Anelka mendapat skorsing terberat dengan dihukum larangan bermain bagi timnas sebanyak 18 partai sekaligus mengakhiri kiprahnya di level internasional. Beberapa waktu lalu, Anelka mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak menyesal pernah menghina Domenech. Sementara Evra, yang dianggap sebagai pelopor aksi pemberontakan ini hanya dihukum larangan tampil lima laga. Adapun Ribery diganjar skorsing tiga laga dan Toulalan satu partai, sedangkan Abidal lolos dari sanksi tambahan tersebut.

Para penggawa Prancis menolak berlatih jelang laga pamungkas grup Piala Dunia 2010.

Kiper Hugo Lloris, yang turut menjadi bagian Prancis kala itu, mengakui kebodohan yang dilakukan timnya. “Kami bertindak sebagai sebuah tim, namun apa yang kami perbuat sudah terlampau jauh. Itu adalah keputusan yang sangat janggal, sebuah kesalahan besar, dan benar-benar bodoh. Kejadian di Afsel itu tidak boleh terulang. Kami ingin memperbaiki citra Les Bleus,” tutur Lloris.

Kenyataannya, tragedi Knysna tersebut masih  menghantui Prancis selama bertahun-tahun ke depan, termasuk saat menjelang Piala Dunia tahun lalu di Brasil. Pelatih Didier Deschamps, yang menggantikan Blanc, sempat marah dalam sebuah jumpa pers ketika ia diberondong pertanyaan terkait isu tersebut. “Kita terus saja bolak balik membahas topik ini setiap waktu. Jika boleh, bisakah Anda tidak membahas soal itu. Yang sudah terjadi biarlah terjadi,” ujarnya.

Adidas, yang ketika itu menjadi supplier Prancis, sampai-sampai melakukan tindakan nyeleneh menjelang Piala Dunia 2014 dengan membuat replika bus tim Prancis di Piala Dunia Afsel yang diberi nama Knysna. Bus tersebut kemudian dihancurkan menggunakan alat berat, dimaksudkan untuk menghapus tragedi memalukan tersebut.

Topics