Sejarah Hari Ini (25 Februari): Gennaro Gattuso Rintis Karier Sebagai Pelatih

Tiga tahun lalu, mantan gelandang tangguh AC Milan ini mengawali kariernya di dunia kepelatihan dengan merangkap jabatan sebagai pelatih-pemain di FC Sion.


GOALOLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter


Setelah masa-masa keemasannya sebagai “tukang pukul” di lapangan hijau dirasa sudah habis, gelandang tangguh asal Italia, Gennaro Gattuso, mencoba membuka lembaran baru dengan berkecimpung di dunia kepelatihan.

Momen tersebut hadir pada 25 Februari 2013 atau tepat tiga tahun lalu yang menjadi awal kisah Gattuso memasuki area teknis sepakbola. Ia ditunjuk membesut klub Swiss, FC Sion, sembari tetap bermain sebagai kapten tim.

Rangkap jabatan tersebut tak lepas dari gejolak di internal klub. Satu hari sebelum penunjukkan Gattuso, Sion kalah telak 4-0 dari FC Thun di liga utama Swiss sehingga pihak klub memutasi pelatih Victor Munoz menjadi pemandu bakat. Gattuso, yang saat itu berusia 35 tahun, menjadi pelatih kelima yang ditunjuk Sion di musim 2012/13, dengan Munoz baru menangani klub pada Januari 2013.

Sebelumnya, Gattuso tiba di Stade Tourbillon sebagai rekrutan besar Sion pada musim panas 2012 setelah ia mengakhiri 13 tahun karier manisnya bersama AC Milan. Kedatangan Gattuso diharapkan bisa mengangkat prestasi Sion untuk bersaing di papan atas liga Swiss. Namun, performa mereka cenderung naik-turun sebagaimana Sion hanya duduk di peringkat empat ketika Gattuso didaulat sebagai pelatih-pemain.

Partai debut Gattuso sebagai pelatih hadir dua hari setelahnya. Hasilnya cukup manis. Sion menang 2-0 atas tuan rumah Lausanne di perempat-final Piala Swiss. Sayang, Gattuso hanya bertahan kurang dari tiga bulan di Sion. Akibat kekalahan 5-0 dari St Gallen, hanya meraup 10 poin dari 11 laga, serta disingkirkan Basel di Piala Swiss, Gattuso akhirnya resmi didepak sebagai pelatih Sion pada 13 Mei 2013.

Di akhir musim itu pula Gattuso resmi gantung sepatu di Sion, mengakhiri kiprah 18 tahunnya sebagai pemain, dan merencanakan karier menjadi pelatih full-time.


SIMAK JUGA
Gattuso: Milan Harus Berinvestasi Pada Skuatnya
Gattuso Tangani Pisa
Gattuso: Milan Kekurangan Pria Sejati

Semua pencinta sepakbola akan selalu mengingat Gattuso sebagai gelandang bertahan tangguh berkat stamina tiada tanding, semangat pantang menyerah, tekel tanpa ragu, hingga sikap kerasnya terhadap lawan. Tak heran, ia mendapat julukan Rino alias Si Badak. Namun karakter bermain itulah yang menjadi kunci Milan merengkuh Scudetto dua kali dan menjadi kampiun Liga Champions dua kali pula semasa Gattuso berkarier di San Siro. Ia juga menjadi juara dunia 2006 bersama timnas Italia.

Meski demikian, kegemilangan Gattuso semasa merumput masih belum tertular di dunia kepelatihannya. Setelah meninggalkan Sion, Gattuso kembali ke Italia dan langsung mendapat pekerjaan di tim Serie B Palermo. Namun, Gattuso hanya bertahan hingga September atau hanya berkesempatan memimpin Palermo selama delapan laga.

Satu tahun vakum, Gattuso lantas berpetualang ke Yunani bersama OFI Crete. Ia hanya bertahan enam bulan dan memutuskan meninggalkan Crete pada Desember 2014 akibat krisis finansial Yunani yang merembet ke klub. Meski demikian, Gattuso menolak menyerah.

Di musim 2015/16, Gattuso mencoba peruntungannya kembali dengan melatih Pisa, tim kasta ketiga sepakbola Italia. Hasilnya terbilang lumayan seiring Pisa kini duduk di peringkat dua klasemen Lega Pro B, mengejar tiket promosi ke Serie B. Perlahan, Gattuso berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi pelatih top.