Sejarah Hari Ini (27 Desember): Ballon D'Or Pertama Michel Platini

1983 jadi tahun di mana Michel Platini mematri namanya sebagai salah satu pesepakbola terhebat sepanjang sejarah.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Musim1982/83, jadi momen titik balik seorang pesepakbola legendaris bernama Michel Platini. Saat itu dirinya datang ke liga terbaik di dunia, Serie A Italia, bersama Juventus. Anak emas dari AS Saint Etienne tersebut kemudian diproyeksikan sebagai pengganti sepadan Roberto Bettega yang sudah menua.

Platini bergabung dengan komplotan juara dunia, yang baru saja mengantarkan timnas Italia ke puncak pada 1982. Sebut saja nama Dino Zoff, Marco Tardelli, hingga Paolo Rossi. Tanpa disangka, jika kondisi itu membuat Si No. 10 tak percaya diri.

Imbasnya ada pada performa di awal musim yang begitu tak meyakinkan. Di usia emasnya, 27 tahun, Platini dinilai tak ada setengahnya dari Bettega yang sudah menginjak usia 32 tahun. Publik dan media Negeri Pizza seketika memusuhinya hingga membuat si anak baru gerah dan meminta manajemen menjualnya di bursa musim dingin.

Beruntungnya Platini tak sampai hengkang. Pelatih, Giovanni Trapattoni, terus memasangnya di starting XI dan amat jarang menggantikan perannya. Sementara sang presiden, Gianpiero Boniperti, juga tak lelah membujuknya nyaris setiap hari, dengan mengajaknya makan siang pasca latihan.

Hasilnya? Platini pun memutuskan untuk melanjutkan kiprahnya di Turin, selepas jeda musim dingin.

Platini nyaris hengkang di musim perdananya bersama Juventus

Kepercayaan dirinya meningkat dan dampaknya bagi tim sungguh besar. Juve yang terdampar di peringkat kelima pada paruh musim pertama, dibawanya melesat sebagai runner-up Serie A. Kemudian trofi pertama juga ia persembahkan melalui Coppa Italia. Hebatnya Platini jadi top skor masing-masing ajang, dengan 16 dan tujuh gol.

Satu-satunya penyesalan adalah kegagalan Michel The King meraih gelar Piala Champions 1982/83, setelah kalah dari Hamburg SV di partai final. Namun apa yang sudah dicatatkan Platini di sepanjang musim itu, tetap membuat publik dunia enggan berpaling darinya.

Pada akhir 27 Desember 1983, majalah terkemuka sepakbola, France Football, dengan bangga menganugerahi pemain asal negaranya sendiri itu lewat gelar Ballon d'Or.

Platini mendapat dukungan sebesar 110 suara, yang dipilih oleh perwakilan jurnalis olahraga dari 26 negara yang bernaung di bawah bendera Benua Eropa. Ia unggul telak atas sang runner-up sekaligus bintang Liverpool, Kenny Dalglish (26 suara), dan Allan Simonsen (25 suara) yang berada di peringkat ketiga.

Patut diketahui jika secara format, pengumpulan suara dalam sistem masa lampau diklasifikasikan berdasarkan tempat: Posisi pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Gordon Strachan (24 suara) dan Super Hero Piala Champions, Felix Magath (20 suara), sendiri kemudian menyusul di posisi keempat dan kelima.

Pada akhirnya performa Platini terus memuncak. Playmaker and Solist, lantas sukses mengikuti jejak hat-trick Ballon d'Or Johan Cruyff, dengan meraihnya kembali di tahun 1984 dan 1985.

Kini, catatan hat-trick sang legenda yang juga presiden UEFA sudah sukses dilampaui. Adalah Lionel Messi, yang bersama Barcelona-nya sukses membuat quat-trick Ballon d'Or secara konsekutif -- 2009, 2010, 2011 dan 2012.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics