Sejarah Hari Ini (28 Juli): Persebaya Surabaya Kampiun Liga Indonesia 1996/97

Musim 1996/97 merupakan momen bersejarah bagi Persebaya saat mereka mencatatkan gelar juara era Liga Indonesia untuk pertama kali.

OLEH ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter

Persebaya Surabaya merupakan salah satu klub sarat prestasi di kancah sepakbola nasional. Lima gelar juara di era perserikatan serta dua lainnya di era Liga Indonesia (Ligina) menjadi bukti prestasi dari klub yang berdiri sejak tahun 1927 tersebut.
Ligina musim 1996/97 atau tepatnya 16 tahun silam di hari ini adalah momen spesial bagi klub kebanggan masyarakat Surabaya. Skuat Green Force sukses merengkuh trofi Ligina pertama mereka di musim ketiga turnamen sejak pertama kali bergulir.

Di musim tersebut, liga yang merupakan gabungan dari kompetisi Perserikatan dan Galatama itu kembali menggunakan format yang berbeda dari edisi sebelumnya. Jumlah kontestan bertambah dari 31 menjadi 33 tim, dibagi ke dalam tiga wilayah di putaran awal.

Persebaya memuncaki klasemen akhir Wilayah Barat di fase awal, unggul delapan poin atas Bandung Raya dan Arema Malang di posisi ketiga dengan nilai sama serta berjarak 11 angka atas peringkat keempat, Persiraja Banda Aceh. Mengantarkan mereka melaju ke fase melaju ke babak 12 besar yang terdiri dari tiga grup.

Dominasi skuat asuhan Rusdi Bahalwan pada waktu itu kembali berlanjut di babak 12 besar. Perjalanan mereka menuju partai puncak tak menemui hambatan berarti di fase ini dengan melewati hadangan sejumlah tim kuat seperti Mitra Surabaya yang merupakan rival sekota serta Gelora Dewata.
Performa cemerlang bintang lokal mulai dari Bejo Sugiantoro, Aji Santoso, Uston Nawawi, Anang Ma'ruf hingga penggawa asing seperti Carlos de Mello serta Jacksen F. Tiago, bertahan hingga semi-final, di mana Bajol Ijo sukses menyingkirkan rival klasik, PSM Makassar dengan skor tipis 3-2.

Laga final pun menanti mereka, dengan Bandung Raya sebagai penantang. Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, kala itu tim yang selalu mendapat dukungan dari suporter fanatik mereka, Bonek, sempat mendapat perlawanan sengit dari klub asal ibukota Jawa Barat itu.

Jalannya pertandingan pamungkas berlangsung ketat, kedua kesebelasan bermain imbang tanpa gol sepanjang paruh pertama permainan. Hanya saja reaksi dan perubahan signifikan yang dilakukan Rusdi usai turun minum menghasilkan torehan positif.

Tiga belas menit babak kedua berlangsung, Persebaya sukses memecah kebuntuan berkat eksekusi penalti dingin sang kapten, Aji Santoso. Dua menit berselang, bintang asal Brasil, Jacksen, menggandakan keunggulan mereka. Dominasi terus berjalan hingga Reinald Pieters semakin menjauhkan keunggulan.

Budiman sempat memperkecil kedudukan bagi Bandung Raya enam menit jelang pertandingan berakhir, gol tersebut tak lebih dari sekadar hiburan bagi timnya yang akhirnya harus menyerah dengan skor 3-1 saat peluit panjang dibunyikan. Persebaya pun akhirnya resmi diobatkan menjadi kampiun Ligina 1996/97.
Pencaipaian Green Force saat itu dilengkapi dengan catatan manis Jacksen secara individu yang keluar sebagai top skor dengan koleksi 26 gol. Hal itu sekaligus menjadi torehan berarti bagi dirinya yang pertama kali merasakan gelar juara di ranah Indonesia. Di dua edisi Ligina sebelumnya, ia berhasil mencapai partai final saat berkostum Petrokimia Putra Gresik dan PSM Makassar namun selalu kandas.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.