Sejarah Hari Ini (3 April): Selebrasi Gol Paling Kontroversial Di Liga Primer Inggris

Jauh sebelum selebrasi diving Luis Suarez di hadapan David Moyes, Robbie Fowler merayakan golnya dalam derby Merseyside dengan cara yang lebih ekstrem.


GOALOLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter


Derby Merseyside, yang mempertemukan Liverpool dan Everton, mungkin tidak sepanas derby-derby lainnya. Meski merupakan derby terlama di divisi teratas sepakbola Inggris -- selalu bergulir setiap tahun sejak musim 1962/63 -- laga ini kerap disebut friendly derby karena banyak fans kedua tim yang terdiri dari satu keluarga.

Walau begitu, pertandingan di dalam lapangan tetap berlangsung seru, intens, dan keras. Sejak era Liga Primer Inggris bergulir pada 1992, partai Liverpool-Everton tercatat sebagai laga yang paling banyak diwarnai kartu merah. Tak hanya itu, momen-momen kontroversial turut menjadi hal yang akrab dalam duel ini.

Pada Oktober 2012 lalu di Goodison Park, sempat terjadi kontroversi saat penyerang Liverpool Luis Suarez merayakan gol dengan cara menjatuhkan diri di hadapan manajer Everton David Moyes. Selebrasi tersebut adalah respons Suarez terhadap komentar Moyes yang kala itu menuduhnya sebagai pemain yang gemar diving.


SIMAK JUGA
Sejarah Hari Ini (26 Desember): Hat-trick Terakhir Robbie Fowler Di Liga Primer Inggris
Sejarah Hari Ini (30 Oktober): Hat-trick Perdana Robbie Fowler Di Liga Primer Inggris
Sejarah Hari Ini (9 April): Selamat Ulang Tahun, Robbie Fowler

Akan tetapi, selebrasi menyelam ala Suarez itu tidak ada apa-apanya ketimbang selebrasi yang dilakukan oleh pendahulunya, Robbie Fowler, juga saat melawan Everton. Kejadian itu berlangsung pada 3 April 1999 atau tepat 17 tahun yang lalu dalam partai lanjutan Liga Primer di Anfield.

Gol voli Oliver Davourt sempat membuat publik The Kop terbungkam di detik ke-41, namun di menit 15 Liverpool mendapat hadiah penalti setelah Paul Ince dilanggar Marco Materazzi di kotak terlarang. Didapuk sebagai eksekutor penalti, Fowler pun menunaikan tugasnya dengan mudah. Namun penyerang The Reds itu tiba-tiba melakukan selebrasi tak terlupakan elepas menyamakan skor via titik putih.

Seraya berlari ke pinggir lapangan di hadapan fans Everton, Fowler berlutut di dekat gawang, dan mengendus-endus garis batas lapangan layaknya seseorang yang menggunakan narkoba jenis kokain. Selebrasi tak lazim itu dilakukannya sebagai balasan atas tuduhan para pendukung The Toffees yang menyebut Fowler sebagai pemakai kokain.

Sniff, sniff! Selebrasi menghisap kokain ala Fowler.

Liverpool sendiri berhasil mengakhiri laga dengan kemenangan 3-2 berkat gol-gol tambahan dari Fowler (21’) dan Patrik Berger (82’), sementara Everton hanya bisa mencetak satu balasan melalui Francis Jeffers (84’).

Selepas pertandingan, manajer Liverpool Gerard Houllier memberikan pembelaan bahwa selebrasi Fowler tersebut sebagai “aksi memakan rumput”, sebuah tradisi Kamerun yang dipelajari dari rekan setimnya, Rigobert Song. Fowler juga sudah meminta maaf kepada publik atas aksinya itu.

Kendati demikian, FA tetap menghukum Fowler dengan larangan empat kali bermain dan denda £32 ribu. FA kemudian memperberat skors tersebut menjadi enam partai akibat insidennya dengan Graeme Le Saux di laga lain. Sementara Liverpool juga memberikan denda senilai £60 ribu kepada penyerang legendarisnya itu.

 

Bagi pengguna news app Goal dapat menyimak cuplikan pertandingan Liga Primer Inggris, Serie A Italia, dan Ligue 1 Prancis di sini.