Sejarah Hari Ini (3 Desember): Kisah Suram Diego Mendieta

Mendieta harus meregang nyawa di Indonesia lantaran tidak mempunyai biaya untuk berobat.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN Ikuti di twitter
Persepakbolaan Indonesia mendapatkan pukulan keras saat ada pemain asing klub Persis Solo, Diego Mendieta, meninggal lantaran tidak mempunyai biaya untuk berobat. Kisah pilu itu terjadi tepat 3 Desember 2012.
Kisah merana pemain asal Paraguay itu dimulai saat dirinya tidak menerima gaji selama beberapa bulan yang totalnya mencapai 12.500 dollar AS (sekitar Rp154 juta). Lantaran tak menerima gaji, hidupnya pun luntang-lantung tak karuan. Bahkan, untuk biaya berobatnya pun dia tak sanggup.
Hingga akhirnya, dia merelakan tubuhnya terus digerogoti virus cylomegalo yang terdeteksi oleh tim dokter rumah sakit Dr. Moewardi, Solo, sudah menyerang mata hingga otaknya. Selain itu, ada pula jamur candidiasis yang telah menyerang bagian kerongkongan dan saluran pencernaan Mendieta.
Sebelumnya dia telah dirawat lebih dulu di rumah sakit tersebut sekitar enam hari. Namun, apa daya upaya maksimal yang dilakukan tim dokter tak bisa menolong nyawanya. Terlebih, menurut salah satu dokter di rumah sakit tersebut, faktor psikologis juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan Diego.
"Almarhum sering mengeluh kesepian karena seluruh kerabatnya berada di Paraguay," kata Prof. Dr. Ahmad Guntur Hermawan, kepala Bagian Penyakit Dalam RS Dr. Moewardi.
Sontak, kematian Mendieta mengundang perhatian dunia internasional. Menyusul, nasib naas yang mengiringi kematiannya. Ironisnya, setelah meninggal baru gajinya dilunasi oleh klub ataupun PSSI yang ikut membantu dalam menyelesaikan proses pelunasan maupun pemulangan jenazahnya.
Setelah itu, masih ada lagi kasus serupa seperti yang dialami pemain asal Kamerun, Salomon Begondo yang juga gajinya tak dibayar Persipro Probolinggo. Bahkan, Begondo sampai harus mengamen untuk menyambung hidup. Seperti yang dialami Mendieta, Begondo pun sudah harus menemui ajal sebelumnya haknya terpenuhi.
Kisah suram ini seharusnya sudah tidak boleh terulang lagi di persepakbolaan Indonesia. Klub-klub harus mulai sadar diri dan mulai bersikap realistis sebelum mengikuti kompetisi. Sehingga tidak ada lagi kasus gaji pemain yang ditunggak atau klub berhenti di tengah kompetisi.

//

>

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.