Sejarah Hari Ini (31 Juli): Selamat Ulang Tahun Antonio Conte!

Salah satu sosok legenda La Vecchia Signora tersebut merayakan ulang tahunnya yang ke-45 tepat hari ini.

OLEH ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter

Tak bisa dimungkiri Antonio Conte merupakan sosok legenda hidup yang dimiliki Juventus. Berbagai gelar telah ia raih bersama klub asal Turin tersebut. Saat masih aktif bermain, pria yang berposisi sebagai gelandang bertahan itu sukses menyumbangkan lima scudetto serta lima trofi internasional.

Suksesnya berlanjut di level kepelatihan, sosok kelahiran Lecce itu menikmati puncak kariernya dengan sejumlah prestasi saat membesut Bianconeri. Tiga scudetto secara beruntun mampu ia hadirkan di J-Stadium, yang dilengkapi dengan gelar Coppa Italia dan Supercoppa Italiana.

Hari ini, sang maestro merayakan ulang tahunnya yang ke-45. Dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya tersebut, Goal Indonesia merangkum perjalanan Conte selama berkarier sebagai pemain dan pelatih.

Lahir pada 31 Juli 1969 - Conte mengawali kiprahnya di dunia sepakbola saat bergabung dengan akademi klub asal kota kelahirannya, Lecce di usia yang baru menginjak 14 tahun sebelum dua tahun kemudia melakoni debut bersama tim senior.

Hanya saja di awal perjalanannya Conte menemui hambatan yang cukup berarti dengan mengalami cedera parah berbenturan dengan rekan satu tim dalam sebuah sesi latihan. Saat itu sempat dikhawatirkan ambisinya akan pupus lebih awal.

Beruntung apa yang ditakutkan saat itu tidak terjadi, kendati proses pemulihan cedera memakan waktu satu tahun lebih, Conte baru bisa kembali merumput pada musim 1988/1989 untuk tampil dalam 19 laga semusim bersama Lecce.

Bakat gemilangnya saat itu tercium oleh pelatih Juventus, Giovanni Trapattoni yang merekrutnya di awal musim 1991/92. Sosoknya saat itu memang menjadi idaman Trapattoni yang melabelinya sebagai gelandang muda bertenaga dan pekerja keras.

Di musim pertamanya bersama Juventus, Conte tak langsung mengantarkan tim meraih pencapaian maksimal. Bianconeri hanya puas menduduki posisi kedua klasemen akhir Serie A Italia musim tersebut. Ia hanya terlibat dalam 14 pertandingan. Dalam periode itulah Conte pertama kali berjumpa dengan Angelo Alessio dan Massimo Carrera, dua sosok yang kemudian akan bahu-membahu bersama dirinya di staf kepelatihan Juventus.

Musim kedua dilalui Conte dengan peningkatan prestasi, dengan dukungan bintang seperti Gianluca Vialli dan Fabrizio Ravanelli. Menjadi andalan Trapattoni di lini tengah, Conte bermain impresif dan sukses mempersembahkan trofi Piala UEFA untuk kali pertama dalam kariernya di Juventus usai menundukkan Borussia Dortmund dengan agregat 6-1 di laga pamungkas

Kiprahnya terus menanjak, setahun berikutnya Conte sukses mempersembahkan dua gelar yakni scudetto untuk kali pertama usai puasa gelar selama delapan musim serta Coppa Italia. Tampil bersama Di Livio, Tacchinardi, Didier Deschamps dan Paolo Sousa plus di bawah arahan Marcelo Lippi saat itu menjadikan lini tengah Juventus sangat superior.

Dalam kurun waktu 13 musim berkostum hitam putih, Conte telah merengkuh berbagai prestasi. Termasuk pencapaian tertinggi di kompetisi Eropa pada musim 1995/96 saat sukses menyabet trofi Liga Champions setelah mengandaskan perlawanan Ajax Amsterdam melalui adu penalti. Total sebanyak sebanyak 419 pertandingan dengan torehan 44 gol ia bukukan sebagai pemain Juventus.

Musim 2003/04 menjadi penghujung perjalanan kariernya bersama Juventus. Saat itu, di usia yang telah memasuki 35 tahun ia memutuskan untuk gantung sepatu dan mulai memikirkan untuk berkiprah di balik layar dengan mendapatkan gelar di bidang Science of Sport usai menuntaskan pendidikan di Universitas Foggia.

Hanya saja karier kepelatihannya tidak langsung ia awali di Juventus. Conte mengawali perjalanannya dalam sisi manajerial tim di musim 2005/06 saat menjadi asisten Luigi Di Canio yang membesut Siena sebelum ditunjuk untuk menangani klub Serie B, Arezzo, yang hanya berlangsung selama tiga bulan usai dipecat pada Oktober 2006.

Maret 2007, Arezzo sekali lagi menaruh kepercayaan kepada Conte untuk melatih tim. Dalam periode keduanya tersebut, ia sukses meningkatkan performa tim dengan meraih lima kemenangan beruntun dengan capaian 19 poin dari tujuh laga. Sayang kinerja itu tak cukup untuk menghindarkan klubnya dari jerat degradasi menuju Serie C.

Kesuksesan awal di dunia kepelatihan ia sematkan bersama Bari, usai ditunjuk menggantikan Giuseppe Materrazzi di penghujung tahun 2007, hanya butuh waktu dua musim bagi Conte untuk membawa klubnya dari yang tak diperhitungkan menjadi kampiun Serie B musim 2008/09.

Meski berhasil mengantarkan Bari promosi ke Serie A, Conte tak memilih untuk bertahan. Saat itulah kesempatan untuk melatih Juventus terbuka ketika Claudio Ranieri dilengserkan dari jabatannya. Hanya saja saat itu manajemen klub asal Turin itu lebih menjatuhkan pilihan kepada Ciro Ferarra.

Conte lantas melanjutkan kiprahnya di Serie A bersama Atalanta usai diangkat sebagai suksesor Angelo Gregucci pada September 2009. Namun kariernya hanya berlangsung selama empat bulan sebelum kemudian berlabuh ke Siena. Di sana Conte sukses membimbing timnya meraih tiket promosi di penghujung musim 2010/11.

Berkat catatan gemilang tersebut, Juventus yang saat itu tengah dalam masa keterpurukan tak ragu untuk memecat Luigi Del Neri dan mengangkat Conte sebagai pelatih kepala awal musim 2011/12. Keputusan direktur olahraga Giuseppe Marotta saat itu akhirnya berbuah manis dengan pencapaian scudetto di akhir musim.

Kariernya bersama La Vecchia Signora tak berlangsung mulus, musim 2012/13 Conte harus absen mendampingi timnya di sejumlah laga setelah dianggap bersalah karena terlibat secara tak langsung dalam skandal pengaturan skor saat masih membesut Siena semusim sebelumnya.

Momen tersebut dilalui Conte dengan baik, bahkan kejadian itu tak menghalangi dirinya untuk menyumbangkan deretan prestasi berupa dua scudetto di dua musim berikutnya. Berbagai pencapaian individu ia raih di antaranya saat menyamai rekor tak terkalahkan dalam 28 laga milik Fabio Capello. Lantas Conte dianugerahi Trofeo Maestrelli, penghargaan yang diberikan kepada tiga pelatih Italia terbaik di liga profesional, tingkat pemuda dan mancanegara.

Kegemilangan Conte berlanjut di kampanye musim 2013/14, secara luar bisa tangan dinginnya kembali menghasilkan rekor demi rekor. Kali ini ia sukses mengantakan Juventus merengkuh scudetto mereka untuk kali ketiga secara beruntun. Bahkan lebih spesial ia membawa tim finis di posisi puncak dengan torehan tiga digit poin yang mencapai 102.

Sayangnya, catatan prestasi Conte bersama Bianconeri dipastikan tak akan kembali berlangsung usai ia memutuskan mundur di awal musim 2014/15. Namun apapun yang terjadi, nama Conte tetap layak dikumandangkan sebagai legenda klub atas pencapaian yang telah dipersembahkannya.

Buon Compleanno Conte!

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics