Sejarah Hari Ini (4 Juli): Dongeng Yunani

12 tahun yang lalu, Yunani menggemparkan dunia lewat keberhasilan mereka menjadi raja Eropa.

Tahun 2004 menjadi salah satu tahun penuh anomali dalam sejarah sepakbola Eropa. Dimulai dari level klub, tidak ada yang menyangka bahwa Porto mampu menggondol trofi Liga Champions. Tim besutan Jose Mourinho itu mampu mengatasi AS Monaco dalam duel antartim underdog di final.

Hal yang lebih mengejutkan terjadi di level internasional kala timnas-timnas terkuat di Eropa berkompetisi dalam turnamen musim panas empat tahunan di Portugal. Siapa pun pasti akan tercengang: Yunani keluar sebagai pemenang Euro 2004!

Yunani sendiri lebih dikenal karena cerita mitologi para dewa yang tersohor itu ketimbang sepakbolanya. Publik tentu lebih akrab dengan nama Zeus ketimbang, katakanlah, Theodoros Zagorakis.

Namun, semuanya berubah sejak timnas Yunani menggebrak panggung sepakbola Eropa dengan mengalahkan tuan rumah Portugal di partai puncak. Momen ini terjadi tepat pada 12 tahun yang lalu.

Jelang Euro 2004, hampir tidak ada yang memprediksi Yunani bakal berbicara banyak, bahkan oleh masyarakat Yunani sekalipun. Terlebih, sejarah sepakbola mereka di turnamen utama sama sekali tidak membanggakan, hanya pernah tampil di Euro 1980 dan Piala Dunia 1994 (dan langsung tersisih di fase grup).

Materi pemain mereka juga tidak menjanjikan. Tersebutlah pemain biasa-biasa saja seperti Zagorakis, Angelos Charisteas, Angelos Basinas, Traianos Dellas, Giorgios Karagounis, dan Antonios Nikopolidis, Yunani sepertinya hanya akan menjadi tim penggembira. Hanya delapan dari 23 pemain mereka yang bermain di luar negeri.

Namun publik lupa, Yunani dilatih oleh Otto Rehhagel, pelatih spesialis kejutan yang pernah mengantar Kaiserslautern menjuarai Bundesliga Jerman setelah musim sebelumnya berstatus tim divisi dua. Sebagaimana sihirnya bersama Kaiserslautern, Rehhagel mampu mengoptimalkan materi pemain yang seadanya itu untuk memutarbalikkan prediksi.

Di laga pembuka melawan tuan rumah Portugal, kisah Yunani ini bermula. Portugal, yang dilatih oleh Luiz Felipe Scolari dan dibintangi pemain bintang seperti Luis Figo, Deco, Rui Costa, Pauleta, hingga calon megabintang Cristiano Ronaldo, justru bertekuk lutut 2-1 dari Yunani.

Sempat tampil buruk di dua laga selanjutnya, seri 1-1 melawan Spanyol dan kalah 2-1 kontra Rusia, Yunani akhirnya bisa lolos dari Grup A sebagai runner-up, itu pun hanya unggul agresivitas gol dari Spanyol yang sama-sama mengoleksi empat poin.

Memasuki perempat-final, kejutan tim berjuluk Ethniki ini terus berlanjut dengan menjungkalkan juara bertahan Prancis 1-0. Lewat skor yang sama pula, Republik Ceko juga berhasil mereka libas di semi-final. Tiket ke final pun berada di tangan Yunani dan mereka kembali dihadapkan pada Portugal.

Di sinilah dongeng Yunani mencapai babak happy ending. Gol tandukan Charisteas menyambut sepak pojok Basinas di awal babak kedua sudah cukup untuk membuat Portugal kembali kalah. Yunani menang 1-0 dan mengangkat trofi Henri Delaunay di depan publik Portugal.

Berbicara apakah Yunani pantas juara, tentu secara permainan mereka kurang layak. Permainan mereka tidak menarik, dengan lebih banyak bertahan serta hanya mengandalkan bola mati dan serangan balik. Meski demikian, kekompakan dan efektivitas permainan membuat mereka sulit dikalahkan. Tim-tim lawan dibuat frustrasi, lengah, dan saat itulah Yunani menusuk tepat di jantung musuhnya.

"Ini adalah pencapaian luar biasa untuk sepakbola Yunani dan khsususnya sepakbola Eropa. Kami mengambil keuntungan dari kesempatan kami. Lawan lebih baik secara teknik ketimbang kami, tapi kami begitu efektif. Yunani membuat sejarah dalam sepakbola. Ini adalah sensasi," kata Rehhagel.  

Kesuksesan Yunani kian lengkap setelah kapten mereka, Zagorakis, ditunjuk sebagai pemain terbaik Euro 2004. Lima pemain mereka juga masuk dalam Tim Terbaik turnamen. Yunani telah membuktikan, bahwa tidak ada kemustahilan dalam sepakbola.

Soal keberuntungan, itu adalah urusan para dewa di Yunani sana.

Topics