Sejarah Hari Ini (4 Mei): Tragedi Superga 1949

"Superga 1949", jadi tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah sepakbola Italia bahkan mungkin dunia.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Seperti biasa, kotak pos mungil yang berdiri kokoh di rumah kapten Il Grande Torino, Valentino Mazzola, sesak dengan tumpukan surat dari para tifosi. Namun ada yang berbeda kala itu ketika ia iseng untuk melihat satu persatu isi surat yang datang.

Ternyata di sana terselip satu surat dari sahabatnya asal Portugal yang juga merupakan pesepakbola terkenal kala itu, Francisco Jose Ferreira. Setelah dibuka, ternyata kapten Benfica tersebut menyampaikan undangannya pada Torino untuk menghadiri partai testimoni, sebagai kado perpisahan dirinya yang gantung sepatu dari dunia sepakbola di akhir musim 1948/49.

"Untuk Valentino, sahabatku. Dengan penuh kerelaan, saya ingin tim hebat Anda, Torino, menghadiri partai terakhir saya sebelum gantung sepatu. Saat ini kalian merupakan klub terkuat di Eropa. Saya yakin, dengan kehadiran kalian masyarakat pasti akan berduyun-duyun datang memenuhi stadion partai testimoni saya..."

Mazzola yang merupakan ayah Sandro Mazzola tersanjung membaca surat tersebut. Ia pun berusaha mengabulkan permintaan sahabatnya dengan mengutarakan isi surat pada presiden Torino, Ferruccio Novo, untuk meminta izin. Dalam prosesnya Mazzola membalas jika dirinya akan mengabulkan permintaan Ferreira, jika Novo memberi izin.

Mengejutkan, sang presiden memberi izin untuk menghadiri undangan tersebut. Padahal tiga hari sebelum dilaksanakannya acara atau tepatnya 30 April 1949, Torino harus berduel melawan FC Internazionale untuk memastikan scudetto kelima beruntun. Mazzola pun berjanji akan mempimpin rekan-rekannya berjaya dalam duel menghadapi La Beneamata.

Janji dipenuhi, laga memang berakhir dengan skor 0-0, tapi hasil itu sudah cukup mengantarkan Torino merengkuh scudetto kelima beruntun di musim 1948/49.

Pagi, 3 Mei 1949 Il Granata berangkat ke Lisbon dengan membawa 18 pemain inti dan lima staf kepelatihannya. Duel berlangsung seru di malam harinya. Sesuai ramalan Ferreira, stadion disesaki puluhan ribu orang untuk melihat penampilan tim terbaik di Eropa saat itu, Torino.

Pertandingan berjalan sangat seru dan menghibur. Hujan tujuh gol terjadi dalam partai testimoni itu. Pada akhirnya tuan rumah, Benfica, keluar sebagai pemenang lewat skor tipis 4-3.

Puas memenuhi undangan Ferreira dan memberi suguhan berkualitas bagi penduduk Lisbon, Torino akhirnya memutuskan untuk pulang ke Turin, Italia, 4 Mei 1949, pada pukul 15.15 sore waktu setempat. Mereka dijadwalkan naik pesawat asal Italia, Avio Linee Italiane, dengan jurusan Barcelona-Turin yang transit di Lisbon.

Tanpa disangka petaka tak terbayangkan hadir pada momen tersebut. Satu jam pertama perjalanan, segalanya berlangsung normal tanpa hambatan. Namun ketika sudah mencapai teritori Italia, cuaca berubah ekstrim. Badai datang disertai hujan yang turun begitu derasnya.

Pukul 16.45, radio bandara di Kota Turin mendapatkan pesan singkat dari pilot pesawat, Perluigi Meroni, bahwa cuaca begitu buruk. Awan tebal menyelimuti kota yang dikelilingi pegunungan Alpen tersebut. Mereka saling bertukar kabar hingga akhirnya putus pada pukul 17.04 waktu setempat.

Takdir buruk tak dapat dihindari. Berselang delapan menit setelah sinyal radio terputus, kepolisian di bukit Superga memberi kabar bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat tragis, tepat di wilayah mereka. Seluruh penumpangnya tewas mengenaskan.

Seketika seluruh publik Italia dirundung duka. Ratusan polisi yang dibantu para relawan menyerbu lokasi kejadian sembari berharap mendapati para korban yang terluka parah masih hidup. Sesampainya di sana, mereka dibuat tak percaya karena semuanya tewas tak tersisa.

Legenda sepakbola Italia, Giovani Agnelli dan Vitorio Pozzo, adalah beberapa di antara para relawan. Semuanya tak bersisa, Italia dan dunia sepakbola dibuat menangis meronta atas kejadian tersebut.

Tragedi mengenaskan itu sekaligus jadi tanda berakhirnya sebuah era dalam sepakbola. Ya, era Il Grande Torino yang sukses meraih gelar Serie A lima kali beruntun, sejak musim 1942/43 hingga 1948/49. Dari seluruh skuatnya hanya ada satu pemain yang selamat, yakni Sauro Toma. Sang pemain tidak ikut pergi ke Lisbon karena cedera.

Tujuh di antara 18 penggawa yang meninggal merupakan prajurit andalan Timnas Italia di kancah internasional. Salah satunya tentu sang kapten, Vito Mazzola. Pemain berjuluk kapten dari segala kapten ini sukses mencetak 100 gol sebelum usianya menginjak 30 tahun.

Pasca tragedi tersebut, Juventus sebagai saudara sekota jadi tim pemutus rangkaian scudetto Torino. Bagai kutukan, klub berlambang banteng tersebut tak pernah bisa bangkit kembali sebagai klub besar hingga era terkini.

Gli Azzurri juga terkena imbasnya, mereka jadi tim loyo tanpa tenaga setelah ditinggal Mazzola cs. La Nazionale butuh 44 tahun berselang untuk kembali menjadi juara dunia, setelah melepas gelar juara beruntun pada 1934 dan 1938.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics