Sejarah Hari Ini (8 Agustus): Beijing Nodai Tinta Emas Internazionale

Musim 2009/10, yang tercatat sebagai musim paling bersejarah Nerazzurri, ternyata harus diawali dengan kekalahan di ibu kota Tiongkok.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Hari ini, tepat lima tahun yang lalu, Internazionale gagal merebut Piala Super Italia 2009 setelah ditaklukkan Lazio 2-1 di Beijing National Stadium atau yang lebih populer dengan sebutan Bird’s Nest, Tiongkok. Kekalahan Ini adalah awal yang buruk bagi Inter sebagaimana mereka tengah bersiap menghadapi musim 2009/10 yang nantinya akan tercatat sebagai musim tersukses sepanjang sejarah klub.
Ajang bernama resmi Supercoppa Italiana ini untuk pertama kali dilangsungkan di benua Asia setelah sebelumnya sempat diselenggarakan di luar Italia, seperti di Amerika Serikat (1993, 2003) dan Libya (2002). Federasi Sepakbola Italia (FIGC) memang terikat kontrak untuk menggelar minimal empat final di ibu kota Tiongkok itu sebelum 2016 di mana sejauh ini sudah terlaksana tiga edisi, termasuk partai yang satu ini.

Pada waktu itu, Inter yang baru saja meraih scudetto keempat kali secara beruntun berharap bisa mengawali musim 2009/10 dengan meraih hasil positif di Piala Super Italia ini. Lazio, sang jawara Coppa Italia musim 2008/09, adalah lawan mereka.
Pelatih Inter, Jose Mourinho, langsung menurunkan pemain anyar Samuel Eto’o yang diboyong dari Barcelona sebagai bagian kesepakatan penjualan Zlatan Ibrahimovic ke arah sebaliknya. Eto'o lalu disandingan dengan Diego Milito dalam formasi 4-4-2 diamond.
Sementara Lazio turun tanpa Goran Pandev, Cristian Ledesma, dan Lorenzo De Silvestri, karena ketiganya masih bersengketa dengan klub terkait kontrak baru. Meski tak diperkuat tiga penggawa intinya itu, allenatore Davide Ballardini tetap mampu menurunkan skuat yang kompetitif.
Lazio tampil percaya diri sejak menit pertama. Peluang emas langsung mereka dapat di menit 19 ketika Mauro Zarate memaksa Julio Cesar berjibaku mengamankan gawangnya. Secara keseluruhan, Lazio sukses meredam permainan Inter di babak pertama yang berakhir tanpa gol.
Inter lalu bangkit di babak kedua ketika Eto’o dan Milito berturut-turut memberondong gawang Fernando Muslera di menit 50-an. Akan tetapi, justru Lazio yang sukses memecah kebuntuan setelah satu jam lebih tanpa gol.
Gol pembuka ini terjadi di menit 63 ketika Matuzalem sukses memanfaatkan bola liar hasil tendangan bebas Aleksandar Kolarov. Sepakan Matuzalem memang berhasil ditepis Julio Cesar, tapi bola kembali membentur kepala gelandang Lazio itu dan masuk ke gawang Inter.
Tiga menit berselang, Tommaso Rocchi menggandakan keunggulan Lazio. Kapten Lazio ini menuntaskan sebuah umpan lambung dari lini tengah lewat tembakan lob indah, membuat Cesar yang terlalu maju dari gawangnya tak berkutik.
Inter yang terkejut dengan dua gol cepat itu terus mencoba mengejar ketertinggalan dan baru berhasil melakukannya di menit 77. Pemain pengganti Mario Balotelli sukses merebut bola dari Ousmane Dabo sebelum menyodorkan umpan kepada Eto’o. Sang bomber Kamerun ini langsung menembak keras dari dalam kotak penalti guna mencetak gol debutnya berseragam biru-hitam.
Pada menit 85, Inter sebenarnya sempat menyamakan skor melalui Milito, namun terpaksa dianulir setelah Eto’o terlebih dulu dalam posisi off-side. Hingga laga berakhir, skor 2-1 untuk Lazio tetap bertahan. Trofi Piala Super Italia ini menjadi gelar pertama Biancoceleste sejak sembilan tahun terakhir, mengulangi kemenangan 4-3, juga atas Inter, pada 2000.
Bagi Inter, ini adalah satu-satunya ajang yang gagal mereka menangi dari empat ajang yang mereka ikuti pada musim 2009/10. Seperti diketahui, pada musim itu, Mourinho sukses menorehkan tinta emas bersama Nerazzurri dengan merengkuh treble di akhir musim.
Hingga saat ini, raupan titel Serie A Italia, Coppa Italia, dan Liga Champions dalam satu kalender tersebut menjadikan Inter sebagai satu-satunya klub di Italia yang pernah melakukannya.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics