Sejarah Hari Ini (9 Juli): Italia Jadi Raja Di Berlin

Tepat delapan tahun lalu, Italia sukses merengkuh gelar juara dunia keempatnya setelah mengalahkan Prancis di partai puncak, lewat babak adu penalti.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Piala Dunia 2006 Jerman akan selalu dikenang dengan segala kesuksesannya, baik dari segi teknis maupun ekonomi. Dan segalanya tercermin dari sengitnya partai puncak All European Final, antara Italia dan Prancis.Duel penentu gelar di Jerman diwarnai insiden kontroversi yang melibatkan legenda besar sepakbola.
Sejak babak penyisihan grup tak banyak kejutan terjadi. Korea Selatan yang tampil gemilang di Piala Dunia di rumah sendiri empat tahun sebelumnya, gagal mereplika kebrilianan karena gagal di fase grup, akibat kalah bersaing dengan Swiss dan Prancis.

Salah satu perhatian utama di putaran awal adalah kesalahan fatal yang dilakukan wasit Graham Poll dalam mengeluarkan kartu kuning. Wasit asal Inggris, yang dijagokan bakal memimpin partai final, memberikan tiga kartu kuning kepada bek Kroasia, Josip Simunic, sebelum sang bek mendapat kartu merahnya dalam bentrok kontra Australia.
Performa para wasit memang jadi perhatian khusus dalam turnamen saat itu, dengan torehan 345 kartu kuning dan 28 kartu merah! Anda tentu masih ingat peperangan berdarah antara Belanda dan Portugal di Nuremberg. Segalanya tercermin di sana.
Prancis sebagai finalis yang sempat terseok di babak fase grup, melaju mulus hingga partai puncak. Dalam perjalanannya mereka sukses mengalahkan Spanyol, Brasil, dan Portugal, yang kesemuanya dilakukan dalam waktu normal 90 menit.
Sementara itu, langkah Italia ke partai puncak tampak lebih ringan. Setelah menang dramatis 1-0 atas Australia di babak 16 besar, Gli Azzurri lantas menghajar Ukraina tiga gol tanpa balas, sebelum akhirnya membuat tuan rumah Jerman menangis lewat perpanjangan waktu.
Final 2006 akhirnya tersaji di Olympiastadion, Berlin. 69 ribu penonton hadir untuk menyaksikan final ulangan Euro 2000 itu.
Peraih Bola Emas, Zinedine Zidane membuka skor dari titik putih ala Panenka di menit ketujuh, sebelum Marco Materazzi menyamakan kedudukan 12 menit berselang, melalui tandukan kerasnya.
Karena kedua tim tak mampu menambah gol di waktu normal, laga kemudian berlanjut ke babak perpanjangan waktu, dan insiden antara pencetak gol masing-masing tim jadi perhatian utamanya.
Sayangnya bukan hal positif, melainkan kontroversial. Keduanya terlibat adu mulut, sebelum legenda Prancis melancarkan tandukannya ke dada Matrix. Zidane langsung langsung dikeluarkan wasit laga, Horacio Elizondo, dan tanpa kehadirannya Les Bleus tak berkutik dalam drama adu penalti.
Kegagalan David Trezeguet melesatkan bola ke jala La Nazionale berakibat fatal, karena kelima penggawa Italia secara sempurna sukses melakukan eksekusi untuk memastikan gelar keempat tim Negeri Pizza.
Lini belakang Italia jadi sorotan atas kunci sukses menjadi kampiun, dengan sang juara cuma kebobolan dua gol sepanjang turnamen, yang merupakan rata-rata gol terendah sejak 1990.
Tak pelak sang kapten yang berposisi sebagai bek, Fabio Cannavaro, beberapa bulan kemudian dianugerahi pemain terbaik dunia.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics