Sejarah Hari Ini (9 September): Feyenoord Rotterdam Gapai Puncak Dunia

Kini dipandang sebelah mata, tapi dahulu Feyenoord pernah jadi klub yang paling disegani dunia.

Feyenoord Rotterdam memang masih jadi salah satu klub terbesar dan paling disegani di Belanda, negeri asalnya. Namun di Eropa harus diakui jika mereka kini sudah dipandang sebelah mata. Tengok saja catatan terakhir kali mereka mentas di Liga Champions, yang terjadi 12 tahun silam.

Namun berbeda cerita jika kita membicarakan Feyenoord di era 70-an. Kala itu Eredivisie Belanda merupakan liga terbaik di Eropa bahkan dunia dan Feyenoord merupakan salah satu jagoannya. Dalam dekade tersebut mereka sukses merengkuh Piala Intertoto, Piala UEFA, Piala Champions, hingga Piala Interkonental.
 

Leg kedua Piala Interkontinental 1970
Feyenoord 1-0 Estudiantes
(Agregat 3-2) 
9 September 1970
De Kuip, Rotterdam
Wasit:
 -
Gol : 1-0 Joop van Daele 63'
  <td style="text-align: left;" width="65%" "="">Feyenoord Treitjel; Romeijn, Israel, Leseroms, Duivenbode; Hasil (Boskamp 66'), Jansen, Van Hanegem, Wery; Kindvall, Moulijn (Van Daele 46')
Pelatih: Ernst Happel

Estudiantes : Pezzano; Malbernat, Spadaro, Togneri, Medina; Bilardo, Pachame, Romero (Pagnanini 68'), Conigliario (rudzki 80'); Flores, Veron
Pelatih:  Osvaldo Zubeldia
 

Gelar yang disebut terakhirlah yang bakal kita bahas karena hari ini, 9 September 2015, bertepatan dengan perayaan 45 tahun sejak Feyenoord merengkuhnya untuk kali pertama dan satu-satunya.

Dilatih oleh pelatih legendaris asal Austria, Ernst Happel, Feyenoord dibawanya masuk ke era emas yang tak kunjung bisa diulangi hingga kini. Pada musim perdananya, 1969/70, Die Rotterdamers bahkan langsung menggondol Piala Champions untuk kali pertama.

Sukses mencapai puncak Eropa, Happel tak mau berhenti. Feyenoord kemudian diajak terbang lebih tinggi ke puncak dunia dengan menjuarai Piala Interkontinental, sebuah trofi yang kala itu mempertemukan kampiun kompetisi tertinggi Eropa dan Amerika Selatan.

Dipertemukan dengan klub elit asal Argentina, Estudiantes, tanda-tanda Feyenord bakal keluar sebagai juaranya sudah tampak pada leg pertama yang digelar di La Bombonera, Buenos Aires.

Rinus Israel cs berhasil lepas dari intervensi 60 ribu publik tuan rumah selama 90 menit, dengan menahan Estudiantes 2-2. Tertinggal 2-0 hanya dalam tempo 12 menit awal laga, Feyenoord bangkit dengan menyetarakan keadaan lewat Willem van Hanegeem dan Ove Kindvall.

Dengan hasil tersebut, maka De Trots van Zuid hanya butuh hasil imbang kacamata atau 1-1 kala melakoni leg kedua di markasnya sendiri, De Kuip. Namun Feyenoord tetap ngotot meraih kemenangan untuk membuat para pendukungnya tak sekadar senang, tapi juga mengalami orgasme.

Feyenoord pun berhasil memenuhi target dengan menang tipis 1-0, melalui gol pemain pengganti, Joop van Daele, di menit ke-63. Kota Rotterdam lantas berpesta karena pada saat itu klub kebanggaan mereka berada di puncak dunia.

Seiring berjalannya waktu, Eredivisie terus mengalami pengikisan di berbagai sisi dan dinilai sebagai liga yang miskin kualitas karena para wakilnya begitu loyo di kompetisi Eropa.

Prestasi Feyenoord pun sejalan dengan fakta tersebut, namun belakangan mereka perlahan bangkit melalui akademinya, Varkenoord, yang menyuplai penggawa berkualitas untuk menopang prestasi dan ekonomi klub, plus menyesaki skuat timnas Belanda.

 

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.
Topics