Sejarah Piala Dunia Antarklub - Bagian I: Real Madrid, Juventus & Penambang Inggris Penakluk Sepakbola

Turnamen untuk menentukan klub terbaik sejagat ini sekarang diikuti tim-tim tenar, namun edisi pertama kompetisi lebih dari seabad silam ternyata dimenangi tim amatir!

Dari West Auckland hingga Real Madrid

Usai menjuarai Liga Champions 2015/16, Real Madrid akan kembali mengikuti Piala Dunia Antarklub yang bakal dihelat di Jepang pertengahan bulan depan, bersaing dengan para jawara lainnya dari seluruh konfederasi di dunia plus wakil tuan rumah.

Kompetisi dengan format terkini, yang dipersembahkan oleh Toyota dan didukung FIFA, memang telah lama berjalan di abad 21, namun cerita sejatinya sudah dimulai lebih dari 100 tahun silam.

Sejarah turnamen ini menampilkan salah satu pebisnis tersukses Britania Raya di era Victoria, sebuah tim yang beranggotakan para penambang dari sepakbola nonliga di Inggris, rentetan laga brutal antara klub-klub Eropa dan Amerika Selatan, jumlah penonton mencapai 300 ribu orang dalam satu final, dan perendahan Piala FA, notabene kompetisi knock-out tertua di dunia.

Setelah Si Kuping Lebar, Zinedine Zidane kini membidik trofi Piala Dunia Antarklub.

Ajang ini juga menampilkan hampir seluruh nama besar sepakbola dalam 60 tahun terakhir, di antaranya Ferenc Puskas, Alfredo Di Stefano, Pele, Eusebio, George Best, Bobby Charlton, Johan Cruyff, Gerd Muller, Franz Beckenbauer, Zico, Marco van Basten, Paolo Maldini, Ronaldo, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo. Cuma Diego Maradona yang absen; ia tak pernah berada di klub tepat di waktu tepat.

Real Madrid telah menorehkan landmark dalam dua format kompetisi. Mereka memenangi Piala Interkontinental pertama pada 1960 dengan menundukkan Penarol dari Uruguay.

Puskas mencetak gol pertama dalam laga tersebut dan Nicolas Anelka, pemain pertama yang mencetak gol dalam turnamen format terkini – dikenal pada 2000 sebagai Kejuaraan Dunia Antarklub – juga mengenakan seragam putih Real.

Piala Lipton

Dalam edisi perdana turnamen klub internasional ini, seragam juara berwarna hitam dengan V kuning – dan jersey historis tersebut dikenakan oleh sebuah tim berisikan pemain-pemain amatir dari timur laut Inggris.

Sir Thomas Lipton adalah sosok yang mengawali ini semua. Lipton, berasal dari Glasgow, memulai usahanya dengan satu toko kelontong dan, kebanyakan melalui perdagangan teh, membangun kerajaan bisnis global yang menjadikannya miliuner. Ia merupakan penggemar berat timnas Skotlandia dan menghabiskan banyak uang di sepakbola serta olahraga lain yang disukainya, berlayar.

Sir Thomas Lipton, penggagas kejuaraan dunia klub pertama.

Saat Uruguay dan Argentina pertama kali saling berhadapan secara reguler, hadiahnya adalah Copa Lipton. Ia memberikan dukungan finansial terhadap event olahraga di seluruh dunia, dari Amerika Latin dan Karibia hingga Sisilia sampai India – dan pada 1909 ia memulai sebuah kontes sepakbola baru yang dipandang banyak pihak, termasuk FIFA, sebagai kompetisi internasional pertama untuk klub.

Setelah dinobatkan menjadi Knight Commander of the Grand Order of the Crown of Italy, Lipton merespons dengan memberikan trofi baru kepada Italia. Ia meminta mereka menganugerahkannya kepada klub sepakbola kampiun dunia – 21 tahun sebelum Piala Dunia pertama, dan hanya enam tahun sesudah sepakbola internasional untuk pertama kalinya dimainkan di luar Britania.

Kejuaraan tersebut terdengar menarik, dan bahkan pada waktu itu pun klub-klub sepakbola siap melakukan perjalanan demi mengikutinya – Everton dan Tottenham sama-sama menuju Amerika Selatan pada 1909 – tetapi FA, yang saat itu masih terasing, menolak mengajukan wakil mereka.

Pahlawan Northern League

Seorang karyawan Lipton, dari timur laut Inggris, menyarankan kepada Northern League – liga tertua kedua di dunia setelah Football League – bahwa mereka mungkin bisa mengirimkan tim ke Italia.

West Auckland menyanggupi tantangan tersebut dan para pemain amatir mereka, kebanyakan penambang, menggalang dana sendiri. Mereka menjual benda-benda kepunyaan mereka untuk membantu membayar ongkos dan WA, demikian klub biasa disebut oleh warga lokal, akhirnya melakukan perjalanan ke Turin. Mereka menghabiskan waktu sepekan dalam perjalanan plus satu setengah minggu untuk memainkan laga-laga.

Mereka berjaya. Tim yang finis kesepuluh dari 12 kontestan di Northern League pada 1908/09 ini mengalahkan lawan-lawan dari Jerman dan Swiss, juga menyingkirkan Turin XI – yang dibentuk dari pemain-pemain terbaik Juventus dan Torino – untuk mengangkat Trofi Lipton.

West Auckland menyaksikan Torino melawan Zurich di turnamen Trofi Lipton 1911.

Klub para penambang ini lalu mempertahankan titel pada 1911, tatkala mereka menggasak tim inti Juventus 6-1 di final. West Auckland juga mampu menundukkan Milan dan Turin XI dalam uji coba, dan kegemilangan ini membuat mereka jadi pemberitaan besar di Italia.

Ironisnya, kisah menakjubkan dari kejayaan West Auckland dalam ajang Trofi Lipton, yang tidak dimainkan lagi setelah 1911, tak mendapatkan sorotan pers Inggris, cuma dimuat di koran lokal Northern Echo.

Mendunia, akhirnya

Kisah West Auckland baru kesohor 70 tahun kemudian, ketika perusahan televisi Britania ITV mendramatisasi kesuksesan mereka. “The World Cup: A Captain’s Tale” dibintangi Richard Griffiths dan yang berperan sebagai kapten Bob Jones adalah Dennis Waterman.

Riwayat mereka juga tertuang dalam buku keluaran 2014 “The Miners’ Triumph – The First English World Cup Win In Football History”. Sang pengarang, Martin Connolly, mengatakan: “Juventus enggan bekerja sama saat saya meriset kisah ini. Mereka sangat malu tentang periode tersebut.”

Sayang, trofi yang memuat nama West Auckland, yang tertera pahatan ‘Football World Cup’ 21 tahun sebelum dimulainya Piala Dunia yang sesungguhnya, kini hilang.

Piala tersebut dicuri dari West Auckland Working Men’s Club, tempat piala dipajang, pada 1994 dan tak pernah diketahui lagi rimbanya meski ada imbalan untuk yang menemukan. “Polisi mengakui mereka tahu siapa yang mengambilnya tetapi tak pernah bisa membuktikan apa-apa,” ujar ofisial klub Stuart Alderson. “Itu akan bernilai mahal.”

Unilever, perusahaan yang pada akhirnya membeli hampir seluruh kerajaan bisnis Lipton, menggantinya dengan trofi replika.

Juventus berpartisipasi di Liga Champions musim ini, dan berhak menyandang status jawara dunia pada 1985 dan 1996 ketika mereka menjuarai Piala Interkontinental yang disponsori Toyota. Sementara, West Auckland secara kontras hanya menyedot rerata 270 orang penonton di Northern League.

Akan tetapi, tim yang berasal dari County Durham tersebut dapat dengan bangga mengakui, tatkala mengecap kejayaan di Italia, mereka adalah kampiun dunia pertama di sepakbola klub.