Sekadar Cukup Tak Cukup Buat Juventus

Paruh pertama musim 2016/17 dilalui Juventus dengan cukup baik, tapi itu saja belum cukup jika targetnya jadi raja Eropa.

Paruh musim pertama musim 2016/17 di sepakbola Italia sudah berakhir. Menilik pencapaian Juventus, bohong besar bila Anda menyebut mereka menyelesaikannya dengan buruk.

Bagaimana tidak, Juve berhasil keluar sebagai Campione d'Inverno kendati Serie A Italia putaran pertama masih sisakan dua giornata. Selain itu I Bianconeri melenggang ke babak 16 besar Liga Champions dengan status juara grup.

Prestasi macam ini faktanya hanya pernah Juve raih di paruh pertama musim 2012/13 lalu, dalam lima musim terakhir kejayaan mereka di Negeri Pizza.

Lebih spesifik, pertahanan kokoh yang jadi modal Juve juga berbicara banyak dalam raihan hasil gemilang ini. Tim Hitam Putih tercatat sebagai klub yang paling sedikit kemasukan di Serie A (14 gol) dan Liga Champions (dua gol).

Meski begitu kekalahan mengejutkan di Piala Super Italia 2016 dari AC Milan, hadirkan rasa gatal untuk mengupas lebih dalam kualitas Juve. Kaitannya tentu saja dengan gembar-gembor mereka sebagai salah satu favorit utama kampiun Liga Champions.

Performa Juve cukup baik, tapi belum cukup di level Eropa

Bagi Anda Juventini dan pemerhati Juve tentu bisa merasakan bahwa permainan Juve dalam setahun terakhir, terlampau pragmatis. Modal lebih di sisi pertahanan terlalu dijadikan tumpuan untuk raih hasil positif.

Tak masalah bila gairah Los Spirito Juve yang Antonio Conte lahirkan kembali pada musim 2011/12, masih bertahan. Masalahnya semangat spartan itu mulai inkonsisten hadir, terutama di partai tandang.

Termasuk helatan Piala Super Italia 2016, musim ini Juve sudah kalah empat kali di luar J Stadium. Dua kali oleh Milan dan masing-masing sekali dari Inter serta Genoa. Persamaan dari ketiga tim tersebut adalah mereka menyembah filosofi sepakbola menyerang.

Ketika meladeni musuh yang punya skema ofensif bahkan tim medioker sekalipun, Juve seakan menikmati penyiksaan lawan sembari menanti momentum untuk memukul balik. Sah-sah saja karena toh Atletico Madrid bisa mentereng dengan cara tersebut.

Namun yang jadi masalah adalah Juve beserta komposisi skuatnya tak punya jiwa untuk terus lakukan hal seperti itu. Mereka tak raih Scudetto lima kali beruntun, jadi juara absolut Italia dua musim terakhir, dan ke final Liga Champions 2015 karena memainkan sepakbola negatif.

Statistik menjabarkan bahwa rerata penguasaan bola Juve terus terkikis. Di Serie A musim ini mereka ada di peringkat lima tim dengan penguasaan bola terbanyak lewat 54,4 persen per laga, di bawah Napoli, AS Roma, Fiorentina, dan Inter. Catatan terendah, dalam enam paruh musim terakhir.

Di Liga Champions, angkanya naik menjadi 57,9 persen. Tapi jumlah itu masih kalah dari Bayern Munich, Barcelona, Paris Saint-Germain, Borussia Dortmund, bahkan Tottenham Hotspur. Lebih spesifik lagi bahwa 68 persen dari total possesion Juve, dilakukan di area pertahanannya.

Tak jadi masalah jika Juve punya efektivitas tinggi. Namun faktanya konversi gol untuk setiap peluang yang La Vechia Signora hasilkan musim ini masih tergolong rendah. Hanya 17 persen di Serie A dan 16 persen di Liga Champions.

Angka itu kalah cukup jauh dari Barca, Bayern, dan Dortmund yang punya konversi gol di atas 20 persen, konklusi dari performa mereka di kancah domestik dan Liga Champions. Juve mungkin sebanding dengan Madrid yang cuma unggul satu persen. Namun ingat, Los Blancos punya mesin gol bernama Cristiano Ronaldo.

Segalanya diperparah dengan performa di bawah ekspektasi para penyerang Juve. Bomber supermahal, Gonzalo Higuain, baru cetak 13 gol dari 23 laga di semua ajang, Mario Mandzukic cuma lima gol dari 21 partai, senada dengan Paulo Dybala dari 15 penampilan.

SIMAK JUGA: Kalah, Buffon Tetap Peluk Donnarumma

Apa yang Juve pertontonkan di paruh pertama musim ini sejatinya sudah cukup untuk kembali jadi juara absolut Italia. Para pesaingnya di Serie A mungkin mulai lebih kompetitif, tapi dengan segala hormat, masih belum ada yang setara Juve.

Namun jika targetnya adalah Liga Champions -- seperti yang gencar disuarakan para petingginya dan tergambar dari aktivitas transfer -- sekadar cukup saja belum cukup. Juve harus bermain lewat cara yang lebih indah, lebih mengigit, lebih spesial.

“Jika Anda berpikir tentang bermain melawan tim seperti Barca dan Bayern di perempat-final, semi-final atau bahkan final, apa yang kami tunjukkan saat ini tidak cukup. Kami harus meningkatkan kualitas permainan. Kami senang dengan hasil yang diraih sejauh ini, tapi kami belum bisa puas," tutur kapten Juve, Buffon, menyoal cara bermain timnya, seperti dikutip Tuttosport.

Ketidakpuasan atas performa Juve pun mulai diperlihatkan oleh para petingginya, yakni Beppe Marotta dan Fabio Paratici. Hal itu tampak dari konflik ringan yang melibatkan keduanya dengan pelatih kepala, Massimiliano Allegri.

Usai Juve diserahi medali runner-up Piala Super Italia 2016, Allegri tampak beradu mulut dengan Marotta dan Paratici. La Gazzetta dello Sport melansir bahwa penyebabnya tak lain karena para petinggi menilai permainan Juve tak sesuai harapan yang sebabkan kekalahan.

Allegri menjadi penanggung jawab terbesar atas situasi ini. Padahal di akhir musim lalu juru taktik 48 tahun itu berjanji bakal lebih fokus pada cara Juve bermain, yang tentunya diselaraskan dengan hasil.

Skuat baru yang disediakan klub musim ini juga amat mendukung. Marko Pjaca, Juan Cuadrado, Dani Alves, Miralem Pjanic, dan tentu saja Higuain adalah para pemain skillful yang terbiasa memainkan sepakbola indah di sepanjang kariernya.

Namun usai kemenangan tipis 1-0 atas Roma sang runner-up klasemen sementara, Allegri justru mengubah pendiriannya. Ia menyebut tak peduli bagaimana cara Juve bermain, kemenangan tetap yang terpenting. Ya, sekali lagi benar, tapi jika terus dipertahakan La Vecchia Omcidi bakal sulit raih sesuatu yang besar.

Legenda terbesar Juve, Alessandro Del Piero, yang jarang bersuara sampai-sampai melempar kritik. "Permainan yang diperagakan Juve sama sekali belum cukup [untuk taklukkan Eropa] dan mereka tampak terlalu ragu-ragu. Allegri jelas tidak senang, tapi [skemanya] juga tak meyakinkan," ungkap King Alex, seperti dikutip Calciomercato.

Bagaimanapun masih ada banyak waktu buat Juve untuk perbaiki diri musim ini, mumpung masih ada di trek yang benar. Belum lagi rencana bergabungnya pemain dengan teknik tinggi di lini tengah, semacam Axel Witsel. Juve, terutama Allegri, harus cepat sadar soal situasi ini, karena jika tidak, ambisi ke puncak Eropa masih jadi angan-angan belaka.

Topics