Sepakbola Tak Jadi Magnet Bagi Warga Keturunan

Eduard Tjong mengungkapkan, jumlah warga keturunan yang berkarier di sepakbola makin berkurang.

Pelatih Persiba Balikpapan Eduard Tjong mengakui minimnya warga keturunan Tionghoa berkarier di sepakbola disebabkan cabang olahraga terpopuler di tanah air ini dianggap belum menjanjikan kehidupan layak.

Eduard mengatakan, belakangan ini tidak banyak pemain dari etnis Tionghoa yang menonjol di sepakbola. Hal itu berbeda dibandingkan era Liem Soei Liang, Tan Long Houw, Thio Him Tjiang, Loa Kwee San, Budhi Tanoto, maupun Lim Sun Yu.

Di tahun 2000-an, sempat muncul nama Irvin Museng yang sempat bermain di tim Junior Ajax Amsterdam, namun perlahan namanya tenggelam. Terakhir ada Juan Revi dan Sutanto Tan yang namanya cukup mencuat di persepakbolaan nasional.

“Memang sekarang tidak ada. Kalau Kim [Jeffrey Kurniawan] kan dia naturalisasi. Sampai tahun 1980-an itu kita masih banyak di Galatama,” kata Edu, sapaan Eduard.

Edu mengatakan, saat ini sepakbola dianggap tidak terlalu menjanjikan untuk masa depan, sehingga orang tua lebih mendorong anaknya berbisnis. Bukan itu saja. Kondisi tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak lama.

“Kita [warga] keturunan, selain bulutangkis, tidak terlalu fokus di sana, lebih ke bisnis. Jadi faktor orang tua yang tidak men-support. Jadi memang orang tua yang tidak setuju, dan itu sangat berpengaruh, sehingga nyaris tak ada lagi pesepakbola keturunan yang bisa berprestasi,” tutur Edu.

“Seperti papa saya, dulu juga dapat larangan dari orang tua, tapi dia saja bandel ngotot main bola. Saudara-saudaranya bisnis semua. Dia bahkan sempat kerja di Pertamina, sudah dapat posisi bagus, tapi juga keluar gara-gara sepakbola.”

Edu menambahkan, menjadi pesepakbola sebenarnya cukup menjanjikan untuk masa depan jika disiplin berlatih. Apalagi bisa menembus tim nasional. Menurut Edu, ia bisa menghidupi keluarganya dari sepakbola, termasuk menyekolahkan kedua anaknya hingga ke perguruan tinggi.

“Jadi semua tergantung kita. Saya hidup di bola, dan selamanya akan tetap di bola. Saya bisa sekolahkan anak saya hingga kuliah. Anak saya yang pertama sudah lulus, dan sekarang bekerja. Anak saya yang kedua lagi skripsi,” bebernya.

“Jadi memang dukungan orang tua itu sangat penting. Kami [warga] keturunan memang lebih suka bisnis. Liat saja Tony Ho [mantan pelatih Pusamnia Borneo FC], dia punya keluarga semua bisnis. Cuma dia saja yang di bola.”

Edu menambahkan, saat ini pemain dan pelatih sepakbola keturunan yang masih aktif pun bisa dihitung dengan jari.

“Cuma saya, Liestiadi [mantan pelatih Gresik United dan PSM Makassar], dan Tony Ho. Mungkin yang lain tidak ada lagi. Kalau saya hidup mati saya memang cuma di sepakbola,” pungkasnya. (gk-54)