Si Buas Kini Matang: Bagaimana Luis Suarez Atasi Isu Temperamennya

Akibat menggigit Giorgio Chiellini, eks bintang Liverpool ini mesti menunggu untuk membuat debut di Barca, tapi kini ia telah menjelma menjadi sosok yang jauh dari masalah.

Luis Suarez tak pernah menoleh ke belakang sejak bergabung dengan Barcelona. Striker Uruguay ini meraih treble pada kampanye debutnya di klub Catalan dan memenangi dwigelar domestik pada musim keduanya, membentuk trisula sensasional dengan Lionel Messi dan Neymar, dan ia sendiri mengemas total 59 gol di semua kompetisi.

Namun, awal kehidupan di Barca sesungguhnya berjalan sulit pascakepindahan sang striker dengan banderol €81 juta dari Liverpool. Itu karena, dalam gelaran Piala Dunia di Brasil, Suarez menggigit bek Italia Giorgio Chiellini dan dihukum empat bulan oleh FIFA.

Itu artinya Suarez terpaksa melewatkan dua bulan pertamanya di Spanyol tanpa bertanding karena ia bahkan tak diperkenankan membela Barca B. Ketika ia pada akhirnya bermain dalam partai pemanasan jelang debut kompetitifnya, kekalahan 3-1 dari Real Madrid di El Clasico, Suarez dihantam headline yang mengklaim ia kelebihan berat badan dan tidak prima.

Selain itu, ada sorotan intens menyangkut temperamen sang striker. Mampukah ia mengontrol diri? Apakah semestinya Barcelona mendatangkan pemain lain? Beberapa beranggapan, hanya masalah waktu sebelum terjadi insiden lagi.

"Saya diperlakukan lebih buruk ketimbang hooligan,” kata Suarez tentang sanksi FIFA. “Karena menghukum seseorang dari pertandingan sepakbola, sesi latihan, adalah hal yang sulit dipahami.”

“Empat bulan tak diperbolehkan memainkan laga kompetitif dan sanksi internasional dua tahun terlalu berat. Ini tidak masuk akal. Ini hampir lebih buruk daripada jika saya gagal melewati tes doping.”

Selama masa pengasingan ini, Suarez menghabiskan waktu memikirkan tentang perbuatannya dan istrinya memberikan dukungan luar biasa. Bersama sejak remaja, Sofia bahkan telah membantu Luis kala muda. “Dia membantu saya memperbaiki diri, dia membantu saya menyadari siapa teman-teman sejati saya,” ujar Suarez dalam sebuah interviu menjelang Piala Dunia.

Sejak dulu Suarez sering melakukan perjalanan ke Barcelona dari Uruguay dan juga semasa dirinya berkostum Groningen demi mengunjungi Sofia, yang pindah dari Amerika Selatan ke ibu kota Catalan bersama orang tuanya, sebelum dua sejoli ini akhirnya tinggal bersama di Belanda dan kemudian menikah pada 2009. Jadi, saat ia mendarat di Camp Nou pada 2014, ia sudah merasa seperti di rumah. Luis mengenal baik Barcelona, dikelilingi oleh lebih banyak keluarga ketimbang di Liverpool, dan ia juga membina hubungan pertemanan erat dengan Messi, Neymar, Javier Mascherano, serta Andres Iniesta.

Namun, sekali lagi, adalah Sofia yang menjadi pilar dukungan bagi Suarez - kendati pada awalnya ia sempat berbohong kepada sang istri perihal insiden penggigitan tersebut. “Pada hari pertandingan saya meneleponnya dan bertanya apa yang telah dilakukannya,” ungkap Sofia. “Dia merespons dengan ‘Apa?’ Hal yang sama terjadi di Inggris dan saya bersikeras: ‘Lagi?’ Dia menjawab: ‘Saya tak melakukan apa-apa. Apa kau tidak senang karena Uruguay lolos?’”

Akan tetapi, setelah sanksi tersebut, dan beberapa hari merenung, Suarez akhirnya terbuka kepada Sofia.

“Saya tidak langsung meminta maaf karena saya tidak ingin mempercayai yang telah terjadi,” tutur Suarez. “Butuh waktu beberapa hari karena saya tidak ingin mempercayai kenyataan. Saya berada di Uruguay, pergi ke sana setelah Piala Dunia, dan orang-orang mendatangi rumah saya. Saya menghargai dukungan tersebut tetapi sejatinya saya ingin mendukung rekan-rekan setim saya di lapangan.”

"Saya telah memberikan segalanya selama empat tahun untuk berada di sana dan karena kesalahan saya sendiri, melakukan satu kesalahan, semuanya terlupakan. Perlakuan terhadap saya sedikit kejam. Saya diperlakukan seperti criminal dan itu menyakitkan.”

Biarpun demikian, Barcelona adalah awal baru. Suarez bertekad untuk memperbaiki sikap demi keluarganya (istri dan dua orang anak) dan meskipun ada satu atau dua kasus agresi di Spanyol, tak ada yang seserius insiden penggigitan pada Chiellini, Otmann Bakkal (dalam periodenya di Ajax) dan Branislav Ivanovic (saat membela Liverpool).

Sewaktu merumput di Anfield, Suarez juga divonis bersalah untuk penghinaan rasial terhadap Patrice Evra dan sang pemain merasa tersiksa oleh paparazzi di Inggris, sementara satu-satunya teman dekatnya di Liverpool adalah Steven Gerrard.

Di Barca, ia memiliki dukungan yang ia butuhkan, termasuk dari beberapa pemain Amerika Selatan lainnya, dan kepindahannya menjadi clean break. Berkat Messi, Neymar, Mascherano, dan Iniesta, serta bantuan berkelanjutan dari keluarga plus keinginannya sendiri untuk menjauh dari masalah, Luis Suarez kini telah menjelma menjadi sosok yang jauh lebih matang.