Siapa Pengganti Ideal Roy Hodgson?

Pengunduran diri Roy Hodgson usai Inggris tersingkir dini di Euro 2016, memunculkan banyak sosok yang disebut ideal untuk mengisi kursi panas peninggalannya.

Mimpi buruk itu akhirnya hadir juga bagi Inggris, Selasa (28/6) dini hari WIB. Mereka memastikan diri angkat koper dari putaran final Euro 2016 di waktu dini, usai menelan kekalahan mengejutkan dari Islandia lewat skor 2-1 pada babak 16 besar.

Hasil yang sungguh ironis, menilik status Inggris yang merupakan salah satu tim paling difavoritkan jadi juara. Mereka melalui babak kualifikasi dengan sempurna dan diperkuat oleh deretan pemain yang gemar hiasi headline media sepakbola. Sayang, impian membawa trofi turnamen akbar ke “rumah sepakbola” sejak Piala Dunia 1966, kembali jadi angan-angan.

Satu sosok lantas jadi tumbal olok-olokan. Ya, siapa lagi jika bukan sang pelatih, Roy Hodgson. Kakek berusia 68 tahun itu merupakan pelatih timnas dengan gaji tertinggi dunia, tapi gagal total penuhi ekpektasi para penggemar Inggris walau terus dipertahankan sejak Euro 2012.

Kebijakan Hodgson, terutama sepanjang turnamen ini, begitu aneh dan jadi bahan guyonan. Gaya permainannya tidak jelas, memilih pemain di starting XI sembarangan, hingga dirumorkan gagal menciptakan atmosfer kondusif di ruang ganti tim. Fakta bahwa dirinya merupakan pelatih Inggris dengan rasio kemenangan terendah, membuatnya sempurna jadi “Kambing Hitam”.

Untungnya para fanatik Inggris kini dibuat lega, karena Hodgson memutuskan untuk mengundurkan diri usai timnya tersingkir. Hal itu otomatis membuat federasi sepakbola Inggris, FA, kini harus bergerilya mencari penggantinya.

Disarikan dari berbagai sumber terpercaya, inilah lima kandidat paling ideal untuk mengisi kursi panas pelatih The Three Lions!

Favorit utama di bursa taruhan dan diyakini media Inggris merupakan target utama FA adalah sosok yang amat mengejutkan, Gareth Southgate. Di masa lalu Anda mungkin mengenalnya sebagai bek andal Liga Primer Inggris, tapi siapa yang peduli dengan kariernya ketika jadi pelatih?

Maklum saja, karier kepelatihan Southgate sama sekali tak bisa dibilang mentereng. Menjalani debut dengan melatih Middlesbrough -- sebagai satu-satunya klub profesional yang pernah dilatihnya -- ia gagal di musim kedua dengan membuat timnya terdegradasi dari EPL. Sosok berusia 45 tahun ini lantas berkecimpiung di pembinaan usia muda timnas Inggris, hingga akhirnya jadi pelatih timnas U-21.

Namun faktor terakhir itulah yang membuat FA tertarik dan berniat mempromosikan Southgate sebagai pelatih tim senior.  Dirinya dinilai kompatibel menyempurnakan jenjang pemain muda di tubuh timnas.

Selain itu kita juga tak bisa mengesampingkan fakta bahwa Southgate merupakan pelatih yang mempersembahkan gelar perdana bagi Inggris, dalam 22 tahun terakhir! Ya, dirinya membawa timnas U-21 menjuarai turnamen Tuolon di Prancis pada Mei lalu. Di sana ia mengorbitkan pemain-pemain muda seperti Nathan Redmond, James Ward-Prowse, dan Ruben Loftus-Cheek.

Alan Pardew kemudian menjadi nominator kuat selanjutnya. Jika kebanyakan kandidat memilih merendah ketika tahu dirinya masuk nominasi, tidak demikian dengan manajer Crystal Palace ini. Dirinya dengan tegas menginginkan jabatan pelatih timnas Inggris, jika memang datang kesempatan.

“Ini adalah pekerjaan untuk melatih timnas Inggris! Jika Anda seorang Inggris dan Anda menolak kesempatan tersebut, pasti ada yang salah dengan Anda. Ini merupakan pekerjaan yang tak terbayangkan buat saya,” ujar Pardew, seperti dikutip ESPN.

Sepanjang karier kepelatihannya yang sudah berlangsung 18 tahun, Pardew beberapa kali sukses hadirkan kejutan. Ia berhasil mengantarkan tim non-unggulan, West Ham Unted dan Crystal Palace, melaju ke final Piala FA pada 2006 dan 2016 lalu. Newcastle pun pernah dibawanya finish di posisi lima EPL pada musim 2011/12. Musim ini selain membawa Palace ke final, dirinya juga sempat membuat timnya menyamai raihan poin Tottenham Hotspur di putaran pertama EPL.

Namun masalah utama Pardew adalah konsistensi. Ia selalu mengejutkan di awal hingga hadirkan ekpektasi tinggi, tapi kemudian mengakhirinya dengan kekecewaan. Kiprahnya bersama West Ham, Newcastle, dan Palace di musim ini membuktikan hal tersebut. FA tentu harus berpikir ulang untuk mengontrak pelatih ini, jika tak ingin diberi harapan palsu layaknya Hodgson.

Pelatih yang selalu jadi antagonis Inggris sekaligus sosok yang menendang mereka dari Euro 2016, Lars Lagerback, muncul sebagai kandidat berikutnya. Pelatih timnas Islandia ini akan mundur dari kursinya usai turnamen berakhir dan membuka peluang menerima pinangan FA.

Hal itu diungkap oleh pasangan melatihnya di Islandia, Heimir Hallgrímsson. “Apakah Lagerback akan melakukan pekerjaan serupa [menjadi pelatih] di timnas Inggris? Ya, mengapa tidak. Dia akan mundur dari Islandia usai Euro 2016 dan siapa pun yang mendapatkannya akan beruntung,” tuturnya, seperti dikutip Express.

Ya, Lagerback bisa jadi pilihan ideal buat Inggris. Ia sosok pelatih yang sangat berpengalaman di sepakbola internasional. Dirinya pernah begitu lama melatih Swedia, kemudian Nigeria, dan kini bersama Islandia. Kebiasaannya mencari pasangan pelatih dari negara yang ditanganinya, bisa jadi kesempatan emas bagi deretan juru taktik muda Negeri Ratu Elizabeth, seperti Gary Neville atau bahkan Gareth Southgate.

Namun harus diakui bahwa Lagerback terbiasa dalam situasi tim yang medioker. Ia belum pernah berada di posisi yang penuh tuntutan, perhatian, dan tekanan tinggi layaknya di Inggris. Selain itu gaya permainannya yang pragmatis, tampaknya juga takkan disukai para pecinta Tim Tiga Singa.

Manajer muda nan potensial Eddie Howe, jadi favorit publik Inggris setelah prestasi ciamiknya bersama Bournemouth. Ia membawa klub “enah berantah” itu promosi beruntun dari Legue Two menuju EPL dalam waktu singkat enam musim.

Dirinya pun sukses mempertahankan tempat Bournemouth di EPL musim ini, dengan membawa mereka duduk di pos ke-16 klasemen akhir. Satu sisi menarik dari kemampuan taktikalnya adalah keberaniannya dalam mempraktikan sepakbola progresif.

Sayangnya dan pastinya, kekurangan utama dari Howe adalah pengalaman. Sesuatu yang sejatinya sangat dimaklumi menilik usianya yang baru menginjak 38 tahun. Ia belum pernah merasakan gegap gempita sepakbola level tertinggi.

Selain itu Howe juga tak pernah menangani pemain kelas dunia, macam Joe Hart atau Wayne Rooney. Ia juga belum paham benar bagaimana caranya memoles talenta emas macam Delle Ali atau Marcus Rashford. Meski begitu dirinya tetap punya potensi jadi pelatih Inggris, tapi FA tampaknya baru akan menunjuknya di masa depan.

Terakhir adalah manajer Arsenal, Arsene Wenger. Kakek berusia 66 tahun ini adalah sosok legendaris di EPL, seturut eksistensinya yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade lamanya. Ups, tak hanya eksis, tapi dirinya juga menuai begitu banyak prestasi bersama The Gunners di level tertinggi.

Hal itu membuat Wenger tentu saja paham benar kultur sepakbola Inggris. Ia juga ahli dalam membina pemain muda, selayaknya bakat hebat macam Theo Walcott, Jack Wilshere, sampai Alex Chamberlain. Salin itu dirinya pun tahu cara memimpin pemain bintang, seperti halnya Dennis Bergkamp, Thierry Henry, hingga kini Petr Cech.

Gaya sepakbola menyerang nan indah yang bertahun-tahun diusung Wenger bersama Arsenal, juga jadi jaminan para pendukung timnas Inggris melihat tim tercintanya tampil makin menghibur, tanpa perlu lenyapkan identitas kick ‘n’ rush.

Masalahnya adalah hasrat Wenger yang masih ingin bertahan di Emirates Stadium setidaknya hingga musim 2016/17 esok berakhir. Sulit membayangkan juru taktik asal Prancis ini mau merangkap jabatan. Selain itu dirinya pun belum berpengalaman melatih di level internasional atau menunjukkan minat berkecimpung di ranah tersebut.