Singapore Sports Institute, Modal Kebangkitan Sepakbola Singapura

Pendekatan ilmiah dan fasilitas modern yang dimiliki Singapore Sports Institute (SSI) dapat berperan mengembalikan gairah sepakbola Singapura.

Pertandingan uji coba internasional Jepang versus Brasil, 14 Oktober tahun lalu, menjadi ajang penyingkap tabir bagi Stadion Nasional Baru Singapura. Untuk kali pertama stadion yang berlokasi di wilayah Kallang itu diperkenalkan dengan wajah modern menggantikan stadion lama. Rasa penasaran setelah menanti proses pembangunan stadion yang memakan waktu empat tahun tuntas pada pertandingan tersebut.

Kompleks olahraga tempat Stadion Nasional Baru terletak lebih dikenal dengan sebutan Sports Hub. Arena seluas 35 hektar ini pula yang menjadi pusat penyelenggaraan pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara, SEA Games, Juni lalu. 

Sports Hub rupanya tidak sekadar berpusat di Stadion Nasional Baru yang berkapasitas 55 ribu tempat duduk. Di pinggir Stadion Nasional Baru, persis di sebuah sudut di hadapan stadion serbaguna OCBC Arena, Singapore Sports Institute (SSI) beroperasi.

SSI didirikan sebagai salah satu penunjang pengembangan olahraga nasional Singapura di bawah kendali Sport Singapore. Badan yang dibentuk Kementerian Budaya, Komunitas, dan Olahraga Singapura ini tidak membidangi ataupun mengelola sebuah cabang olahraga secara khusus, melainkan membantu pembangunan dan pengembangan olahraga di negara kepulauan itu.

SSI memiliki tiga fondasi. Pertama, corporations , yaitu kerja sama dengan berbagai perusahaan untuk menunjang operasional mereka. Kedua, education . Atlet dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang dimiliki SSI untuk mengembangkan kemampuan mereka di cabang olahraga masing-masing.

Ketiga, professional training . Tidak luput dari perhatian SSI untuk memerhatikan pengembangan wawasan atlet sehingga mereka memiliki modal yang cukup untuk terjun ke dunia profesional ketika pensiun kelak. Secara berkala mereka menghadirkan pemateri dari kalangan profesional, misalnya latihan public speaking untuk atlet. Bahkan tidak menutup kemungkinan pula para atlet mendapat kesempatan magang di perusahaan-perusahaan mitra SSI.

Seiring dengan undangan perkenalan Nike Hypervenom II pekan lalu , Goal Indonesia bersama sejumlah media terkemuka Asia Tenggara lain diajak menjajal sesi latihan sepakbola serta kemudian berkeliling melihat fasilitas yang dimiliki SSI.

Menu latihan kami adalah strength and conditioning  dan dilanjutkan dengan sesi biomechanics untuk mencari tahu tingkat kelenturan dan kecepatan tendangan. Pemain sayap timnas Thailand, Kroekrit Thaweekarn, turut meramaikan sesi latihan ini. Pemain 24 tahun itu menjadi tolok ukur utama dalam latihan dan hasilnya akan dibandingkan dengan peserta lain.

Porsi latihan strength and conditioning berupa latihan rutin para pemain sepakbola yang melatih daya tahan fisik, foot work , dan juga kelenturan. Bisa dibilang ini semacam pemanasan yang biasanya dilakukan para pesepakbola profesional sebelum bertanding.

Sesi biomechanics bernuansa permainan yang menyenangkan. Peserta diminta berlari meliuk-liuk melewati tiang sepanjang kira-kira 20-30 meter dan kemudian menendang bola sekeras mungkin. Kecepatan lari dan tendangan diukur melalui rekaman kamera yang telah dipasang SSI.

Usai "berlatih" dan beristirahat sejenak, rombongan wartawan diajak berkeliling meninjau fasilitas yang dimiliki SSI. Impresif. Setiap jengkal bangunan seperti memiliki tujuan masing-masing. Dinding kantor difungsikan menjadi semacam museum dengan memasang foto-foto atlet dan kutipan terkenal tokoh olahraga Singapura. Sebagai sarana berkomunikasi, SSI menggunakan juga media sosial Instagram untuk memperlihatkan aktivitas para atlet saat bertanding ataupun berlatih.

Di area tengah kantor terdapat gym lengkap dengan berbagai macam fasilitas, antara lain seperti treadmill, angkat berat, hingga rowing machine workout. Selain untuk melatih kekuatan, sarana ini juga berguna untuk pemulihan atlet pascacedera. Ada pula Nutrition Lab supaya para atlet mengetahui jenis-jenis makanan yang sesuai dengan kadar kebutuhan gizi mereka, termasuk cara memasaknya.

Tepat di pinggir gym terletak fasilitas yang membuat para wartawan terpukau. SSI memiliki Environmental Chamber dan Altitude House. Fasilitas modern ini bertujuan mempermudah proses adaptasi atlet jika hendak bertanding di iklim yang berbeda. Suhu dan tekanan dapat diatur di dua fasilitas yang dapat menampung empat hingga delapan orang ini.

Melengkapi fasilitas yang serbamodern dan serbailmiah, SSI memiliki pula lab Biomechanics di sebuah aula seluas kira-kira 100 meter persegi. Lab ini bertujuan untuk menganalisis gerakan atlet. Di setiap sisi lab terdapat rangka-rangka besi tempat memasang berbagai kamera untuk mengukur penampilan setiap obyek latihan.

Permukaan aula dapat diganti-ganti sesuai dengan cabang olahraga yang diuji, seperti misalnya boling, hoki, ataupun sepakbola. Di tengah ruangan dipasangi lantai berpanel untuk merekam gerakan atlet.

Hasil dari lab Biomechanics ini diolah oleh tim analis video untuk kemudian dijelaskan kepada atlet. Ini yang kami dapatkan di akhir sesi kunjungan. Ryan Hodierne, Sports Biomechanist SSI, menerangkan kepada kami analisis gerakan dalam sesi latihan di pagi hari dalam sebuah video presentasi.

Hodierne membagi-bagikan selembar kertas berisi hasil pengukuran sesi biomechanics yang sebelumnya kami ikuti. Tentu saja tidak ada yang mampu melampaui kelenturan dan kecepatan Thaweekarn. Pemain Chonburi FC itu mampu membukukan waktu 4,394 detik untuk berlari zig-zag dan kemudian mencatat rekor 112,9 km/jam saat menendang bola.

Tapi, Hodierne tidak hanya sekadar membeberkan angka-angka hasil pengukuran. Pria lulusan program Human Movement & Sports Sciences Universitas Pretoria ini mengungkapkan alasan kenapa Thaweekarn bisa sedemikian cepat berlari dan tendangannya keras. Kami bersama-sama membahas teknik gerakan Thaweekarn hingga ancang-ancangnya dalam melakukan tendangan. Mulai dari posisi tangan dalam menjaga keseimbangan hingga gerakan pinggul sebagai poros dalam melakukan akselarasi.

Pendekatan menyeluruh SSI seperti mempertegas visi Singapura dalam membangun olahraga. Pemerintah Singapura mencanangkan Visi 2030 untuk meraih sukses di dunia olahraga. Pada SEA Games lalu, Singapura mampu menduduki peringkat kedua klasemen perolehan medali dengan mengoleksi 84 emas.

Namun, ada tantangan tersendiri dalam menggalakkan olahraga di Singapura, terutama sepakbola. Seperti dicatat Ian de Cotta dari Today , dalam beberapa tahun terakhir perkembangan sepakbola Singapura tidak lah menggembirakan. 

Contoh terakhir, Singapura U-23 tersingkir di fase grup SEA Games setelah dikalahkan Indonesia. Sekalipun bertanding di negara sendiri, tetap tidak mampu mengangkat performa tim yang tidak meyakinkan.

Di taraf akar rumput, jumlah anak-anak Singapura yang berlatih sepakbola masih terlampau sedikit. Belum lagi sejumlah pertanyaan tentang rencana strategis FAS, misalnya pemangkasan jumlah centre of excellence (COE), keterbatasan dana, serta gairah kompetisi domestik S-League yang terus menurun.

Kolaborasi dengan SSI diharapkan dapat sedikit banyak memecahkan masalah tersebut.

"Kami sudah menghimpun sebuah tim untuk mempelajari sepakbola agar kami mendapatkan ekosistemnya dan memahami apa saja tantangan yang dihadapi," ujar CEO Sport Singapore Lim Teck Yin kepada Today .

Pembenahan sepakbola usia dini telah menjadi salah satu perhatian FAS di bawah pengawasan direktur teknik mereka asal Belgia, Michel Sablon, yang baru ditunjuk April lalu. Sablon mencanangkan program latihan elite development yang berjenjang plus pelatihan yang memadai supaya anak berusia emas, 10-13 tahun, dapat menampilkan bakat terbaik.

Dengan sokongan fasilitas modern dan pendekatan ilmiah yang dimiliki SSI, rasanya FAS memiliki segala modal yang diperlukan untuk mengembalikan gairah sepakbola Singapura. Meski mungkin hasilnya baru akan terlihat dalam kurun waktu hingga sepuluh tahun ke depan.

Topics