Sinisa Mihajlovic, Tumbal Konservatisme Silvio Berlusconi

Pemecatan Sinisa Mihajlovic menegaskan sikap konservatif AC Milan, yang dibentuk dengan sangat buruk oleh Silvio Berlusconi.

Keputusan itu akhirnya dibuat juga, Selasa (12/4) siang waktu Italia. Melalui laman resminya AC Milan mengumumkan pemecatan pelatihnya sejak awal musim ini, Sinisa Mihajlovic. Satu keputusan yang sejatinya tak lagi mengejutkan, karena rumornya sudah beredar begitu kencang sejak lima bulan lalu.

Miha yang sosoknya dikenal keras dan gemar berontak bahkan berbesar hati atas pemecatannya. "Sekali lagi saya dihakimi atas hasil yang didapat, bukan performa, seperti pelatih lainnya. Terima kasih atas segenap cintanya. Melatih Milan merupakan sebuah kehormatan," ujarnya, seperti dikutip Football Italia.

Benar bahwa hasil yang ditorehkan Miha bersama Milan di Serie A Italia tak bisa dibilang bagus. Mereka hanya duduk di peringkat enam klasemen sementara dan sangat jauh harapan dari target awal musim lolos ke Liga Champions. Namun bila dilihat dari kacamata yang lebih besar, lengsernya sang Serbia tetap saja kontroversial.

Miha yang merupakan pelatih keempat Milan dalam kurun tiga musim terakhir adalah korban lanjutan sikap konservatif manajemen I Rossonerri. Ya, satu sikap tradisional yang menentang segala perubahan dengan bekal kejayaan masa lalu. Satu sikap yang mulai kronis sejak sejak 2012, hingga membawa peraih tujuh Liga Champions itu masuk dalam periode terkelamnya dalam tiga dekade terakhir.

Aktor utamanya? Sudah pasti sang pemilik sekaligus presiden klub, Silvio Berlusconi. Kakek berusia 79 tahun ini adalah aktor utama mandeknya segala pembaharuan yang dibutuhkan Milan, akibat pola pikir kadaluwarsanya, termasuk dalam keputusan terbarunya menunjuk Cristian Brocchi sebagai pengganti Miha.

Siapa sosok paling berjasa dalam sejarah emas Milan? Berlusconi adalah jawaban pasti. Bayangkan, sejak mengakuisisi klub Kota Mode itu pada 10 Februari 1986, atau lima tahun setelah berkiprah di Serie B, ia berhasil mempersembahkan 15 gelar domestik dan 13 trofi di kancah internasional. Status Si Setan Merah sebagai salah satu klub terelite dunia pun ditegaskannya.

Investasi yang dikeluarkan untuk membangun kebesaran Milan tersebut juga tak main-main. Seperti dikutip Calcio e Finanza, hingga lebih dari 30 kepemimpinannya, Berlusconi sudah menggelontorakan uang sebanyak €715,4 juta atau sekitar Rp 10,9 triliun!

Karenanya tak heran jika kemudian Berlusconi mampu 'menghapus' demokrasi yang ada di tubuh Milan. Bak sistem pemerintahan tirani, politiknya begitu kuat, siapa yang tak suka atau tak senada dengan dirinya sudah pasti ditendang. Mulai dari tim manajemen, sampai teknis di lapangan.

"Mereka berbicara tentang Milan adalah [Arrigo] Sacchi, [Alberto] Zaccheroni dan [Carlo] Ancelotti dan tidak pernah berbicara tentang Milan adalah Berlusconi. Ingat, saya adalah orang yang telah memimpin tim ini selama 18 tahun, menciptakan segala aturan dan membeli deretan pemain!" tegasnya pada 2004 silam, seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.

Bukan hanya dalam hal kepemimpinan, Berlusconi adalah orang yang paham luar dalam sepakbola. Instingnya dahulu begitu tajam. Ia adalah penemu guru transfer hebat seperti Adriano Galliani dan Ariedo Braida, sekaligus penjudi ulung dalam memilih pelatih hijau yang terepresentasi oleh racikan strategi luar biasa Arrigo Sacchi, Fabio Capello, hingga Massimiliano Allegri. Selain itu kebiasaannya untuk ikut campur soal kebijakan transfer dan keputusan formasi pelatih, juga ternyata membantu meski menjengkelkan.

Sikap Berlusconi itu tentu saja tak pernah jadi favorit seluruh elemen Milan. Namun mereka dibungkam dan tak punya alasan untuk berontak, karena toh bersama Berlusconi, Il Diavolo Rosso konsisten memetik kesuksesan.

Masa-masa puncak begitu dinikmati Berlusconi, hingga dirinya seakan lupa (sampai sekarang) bahwa roda kehidupan mulai membawanya berputar ke dasar. Ia juga tampaknya luput menyimak wise word Johan Cruyff soal berakhirnya gigi waktu. Kini dengan berpegang teguh pada pemikiran konservatifnya, keberadaan Berlusconi di pucuk kepemimpinan Milan malah berubah wujud jadi sumber masalah.

Tanda-tandanya sudah dimulai usai Milan menjuarai Liga Champions di Athena pada 2007 silam. Dua aspek yang dibahas kencang waktu itu, yakni laboratorium di Milanello dan kebijakan transfer, di mana badai cedera bisa begitu kencang menerpa, serta terlampau banyak pemain tua dan gratis dengan kualitas meragukan didatangkan.

Berlusconi bergeming atas isu tersebut, dengan tetap mendukung dokter kepala, Pierre Meesserman dan sang sahabat baik yang jadi juru transfer, Galliani. Dirinya juga mulai 'ngawur' melakukan perjudian pada pelatih nir pengalaman, saat menunjukk staf direktur olahraganya, Leonardo Nascimento Araujo, untuk jadi pelatih kepala pada musim panas 2009.

Beruntung, tanda-tanda kejatuhan dinasti Berlusconi berhasil ditutupi sementara saat dirinya mempekerjakan Allegri sebagai pelatih, plus kesuksesan Galliani memulihkan reputasi dengan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva. Tapi setelah raihan Scudetto 2010/11, berakhirnya sebuah era makin tegas ditampakkan.

Dimulai dengan blunder hebat orang kepercayaan terbesar sang bos, Galliani, menjual Ibrahimovic dan Silva pada 2012, kendati kedua pemain memilih bertahan. Dari situ tampak bahwa Milan pelan-pelan berubah jadi klub penjual, yang bukan identitas tim besar. Dimodali pemain-pemain medioker dari Galliani, Allegri sang jenius, kemudian dijadikan tumbal Berlusconi atas kejatuhan Milan di musim 2013/14.

Sejatinya dalam proses kejatuhan Milan tersebut, satu perubahan krusial di level manajemen sempat dibuat Berlusconi, dengan mengangkat putrinya, Barbara Berlusconi, menjadi CEO klub. Dengan pemikiran modernnya, mantan kekasih Alexandre Pato itu berani mendobrak sikap konservatif sang ayah.

Dua kebijakan visioner Barbara adalah dengan memensiunkan paksa Galliani dan membuat proyek besar akan pembangunan stadion baru. Langkah ini jelas brilian dan jadi antisipasi kejatuhan Milan yang lebih hebat. Sayang pengangkatan sang putri cantik ternyata cuma berlatar nepotisme belaka.

Berlusconi teguh mempertahankan dinastinya. Ia menolak keras kepergian Galliani dan yang paling menyedihkan adalah pembatalan sepihak proyek stadion baru yang telah dirancang sedemikian rupa, sukses medapat izin dewan kota, hingga sudah dilakukan presentasi.

"Saya pastikan dan tegaskan di sini, kami akan tetap serta terus bertahan di stadion kebanggaan kami, San Siro. Baru-baru ini saya kembali mengadakan tur di San Siro bersama [Adriano] Galliani. Saya melihat segala detailnya dan semua masih tampak indah. [Direktur Milan sekaligus anaknya] Silvia [Berlusconi] jelas sedih karena proyek stadion baru gagal. Namun ia memahami alasannya. Saya jatuh cinta pada San Siro dan saya bahagia bisa bertahan di sini," ujar Berlusconi dengan santainya, seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.

Waktu terus berjalan dan bukannya membaik, kejatuhan tragis Milan malah makin kronis. Berlusconi dengan nasihat dari orang terpercayanya, Galliani, coba hadirkan solusi lewat beberapa kebijakan gila yang pernah berhasil di masa lalu. Tak lain tak bukan, yakni dengan menunjuk pelatih tanpa pengalaman di level profesional usai menendang Allegri.

Berlatar status legenda, Clarence Seedorf dan Filippo Inzaghi, dijadikannya allenatore klub dalam rentang 2014 hingga 2015. Kali ini insting Berlusconi tak lagi setajam dahulu, karena keduanya jelas gagal total. Padahal potensi untuk membangun kembali Milan dari nol tampak mampu dihadirkan.

Sayangnya sang bos terlampau terbiasa dengan kesuksesan, sehingga enggan untuk kembali bersabar melihat masa transisi. Penunjukan lebih masuk akal lantas dibuat awal musim ini, dengan menjadikan Sinisa Mihajlovic yang brilian bersama Sampdoria sebagai pelatih anyar.

Miha tak melakukannya dengan buruk, Alessio Romagnoli cs selalu kompetitif di setiap laga, yang diantaranya sanggup memenangi Derby della Madonnina tiga gol tanpa balas. Selain itu Milan juga dibawanya ke final Coppa Italia untuk kali pertama dalam 13 tahun terakhir.

Satu investasi jangka panjang juga dilahirkannya, dalam sosok kiper fantastis berusia 16 tahun, Gianluigi Donnarumma. Di laga terakhirnya melawa tim adidaya Serie A, Juventus, Milan yang tampil sangat baik hanya tak beruntung karena Gianluigi Buffon tampil spektakuler.

Catatan manis Miha itu sampai membuat beberapa pilar Milan seperti Keisuke Honda, Ignazio Abate, dan Giacomo Bonaventura mewanti-wanti manajemen untuk membiarkan sang pelatih menyelesaikan kontraknya di akhir musim depan.

"Saya berharap pergantian pelatih tak terjadi lagi. Sekarang saya melihat pondasi yang solid untuk memulai tren kemenangan. Di mata tim, dan saya berbicara atas nama kami semua yang ada di dalam tim, Mihajlovic adalah seorang pria yang hebat. Kami semua mengalami peningkatan bersamanya. Ia pelatih yang penuh karisma," tutur Abate awal tahun ini, seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.

Berlusconi pun berjanji baru akan mengevaluasi Miha usai duel final Coppa Italia, yang jadi partai pamungkas Milan musim ini. Namun yang terjadi kemudian adalah pengkhianatan. Miha dipecat seturut hasil buruk dalam empat giornata dan menggantinya dengan sosok yang membuat kita tak habis pikir, Cristian Brocchi, pelatih Milan Primavera. Bukannya meremehkan sahabat baik Christian Vieri itu, tapi melihat nasib Leonardo, Seedorf, dan Inzaghi terdahulu, sulit membayangkan Milan berhasil dengan sosok internal nir pengalaman macam Brocchi.

Jika terus begini, Milan akan terus lekat dengan status medioker, status yang sema sekali tak pantas disematkan pada klub dengan sejarah internasional terbaik di Negeri Pizza itu. Masalah terletak di Berlusconi, yang buruknya hanya mampu diselesaikan oleh dirinya sendiri.

Negosiasi saham mayoritas oleh pengusaha Thailand, Bee Taechaubol, mungkin bisa jadi solusi terbaik di tengah atmosfer mengerikan ini. Meski tampaknya sang Godfather hanya main-main, karena pembahasan kesepakatan berjalan begitu lama dan rumit.

Kini kita hanya bisa berharap Berlusconi sadar bahwa konservatismenya pelan-pelan membunuh klub yang sudah dibesarkannya lewat cara luar biasa di masa lalu. Karena jika tidak, Milan akan terus tenggelam dalam mimpi buruk dan terjebak dalam limbo keabadian.

Topics