Spanyol Terjebak Nostalgia

Tak punya plan B dan hanya bergantung pada wibawa masa lalu, Spanyol harus rela mahkota Eropa mereka dicopot dengan mudahnya.

“Semuanya dimulai dan diakhiri saat melawan Italia. Kami bukan lagi yang terbaik. 2008-2016.”

Demikian kalimat tajam yang ditulis oleh surat kabar olahraga terkemuka Spanyol Marca untuk menanggapi tereliminasinya timnas Spanyol dari gelaran Euro 2016.

Di perempat-final Euro 2008, Spanyol menandai titik awal era keemasan mereka ketika mampu melengserkan juara dunia Italia lewat adu penalti. Namun, Italia pula yang menjadi titik akhir kejayaan Spanyol, seiring mereka takluk 2-0 di babak 16 besar Euro 2016, Senin (27/6) lalu.

Lewat gol-golnya, Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle seakan menggali liang kubur bagi Andres Iniesta dan kawan-kawan. Inilah obituari dari kemegahan sepakbola Spanyol yang membuat fans di seluruh dunia berdecak kagum selama sewindu terakhir.

Lonceng kematian bagi Spanyol sebetulnya sudah berbunyi di Piala Dunia 2014. Berkompetisi di Brasil, generasi emas Spanyol yang sudah menua secara brutal dibantai Belanda (5-1) dan Cile (2-0) sehingga sang juara bertahan langsung tewas seketika di fase grup. “Tiki-taka sudah mati,” umbar legenda Argentina Diego Maradona kala itu.

Vicente Del Bosque nyatanya tetap dipertahankan sebagai entrenador. Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) memberikan kesempatan kedua untuk pelatih gaek dengan mimik muka datar itu. Sayang, perubahan yang dilakukan Del Bosque ternyata juga datar-datar saja.

Pelatih berusia 65 tahun itu memang perlahan meninggalkan tiki-taka. Skema serangan yang lebih direct mulai diterapkan, serangan balik tidak diharamkan, dan pemanfaatan situasi lewat bola mati terus diasah. Del Bosque paham, Spanyol harus memiliki strategi alternatif. Pasalnya, mereka sudah tidak memiliki dirigen permainan seperti Xavi Hernandez, peredam serangan semacam Xabi Alonso, serta seorang finisher sejati layaknya David Villa.

Kenyataannya, Spanyol terbukti masih belum bisa meninggalkan tiki-tika, sebuah identitas yang menjadi kebesaran mereka selama ini. Kekalahan mengejutkan 1-0 dari Georgia jelang kick-off Euro 2016 seharusnya menjadi peringatan terakhir, namun Del Bosque bergeming. “Tidak ada yang berubah,” katanya. Akibatnya, tiki-taka tak sempurna pun tersaji di Prancis.

Keengganan Del Bosque untuk move on tampak jelas dari Starting XI yang ia mainkan di empat partai di Euro 2016: selalu sama persis di setiap pertandingan. Skema ini memang menghadirkan hasil manis di dua partai perdana. Sempat tertatih-tatih kontra Republik Ceko (1-0), Spanyol meledak ketika melawan Turki (3-0). Publik mulai percaya, La Furia Roja telah pulih seperti sedia kala.

Akan tetapi, Kroasia yang memiliki materi pemain lebih bagus ketimbang Ceko dan Turki, mampu membaca arah permainan Spanyol. Dimotori oleh Ivan Perisic, Kroasia menang dramatis 2-1. Kekalahan ini terbukti fatal. Spanyol, yang tinggal butuh hasil seri kontra Kroasia untuk menjadi juara Grup D, akhirnya harus puas finis sebagai runner-up.

Hal itu menggiring mereka ke tabel fase gugur sebelah kanan yang lebih sulit. Takdir lantas mempertemukan Spanyol dengan Italia. Dan lewat strategi jitu dan mematikan, Antonio Conte mampu mengekspos kelemahan Spanyol. Del Bosque menyadari dirinya menemui jalan buntu di Stade de France.

Iniesta, sebagai jantung permainan Spanyol, dibuat mati kutu dan hanya boleh memutar-mutar bola di lini tengah. Iniesta gagal “membagi-bagi permen kepada rekannya” -- meminjam istilah Frank Rijkaard -- seperti yang selama ini ia lakukan sebagai pengatur serangan. Ketiadaan Xavi, partner sejiwa Iniesta, membuat tugas gelandang Barcelona itu menumpuk.

Apalagi, Italia juga sukses membatasi pergerakan David Silva dan Cesc Fabregas, sementara Sergio Busquets dibuat terlalu sibuk untuk menjaga Graziano Pelle dan mengawasi pemain kecil nan lincah seperti Eder dan Emanuele Giaccherini yang bisa tiba-tiba menusuk ke pertahanan Spanyol bagai perampok tak diundang. Mobilitas Alvaro Morata di lini depan sempat memunculkan harapan, namun ia tidak terlalu efektif dalam mengancam Gianluigi Buffon.

“Hal terbaik tentang babak pertama adalah kami hanya tertinggal 1-0,” ujar Del Bosque, menanggapi gol pembuka Chiellini sekaligus berterima kasih kepada kiper David De Gea yang mencatatkan serangkaian tepisan gemilang untuk menyelamatkan muka Spanyol dari kekalahan lebih telak.

Secara komprehensif, Spanyol terlihat tak berdaya. Lemah. Persis seperti headline dari Mundo Deportivo yang menuliskan “La Floja” (diterjemahkan sebagai the Weak atau Lemah). Judul besar ini bermaksud untuk mengejek dan memelesetkan La Roja, julukan kebanggaan timnas Spanyol.

Seiring pupusnya ambisi Spanyol mengejar hat-trick juara Eropa, nasib Del Bosque kini tidak jelas. Beberapa nama pengganti sudah mulai bermunculan seperti Joaquin Caparros, Julen Lopetegui, Michel, hingga Pepe Mel. “Saya belum memutuskan apakah akan bertahan atau tidak. Pertama, saya akan berbicara dengan presiden RFEF dulu," ungkap Del Bosque.

Spanyol telah angkat koper dari Prancis, Del Bosque bersiap minggat, para pemain senior seperti Iniesta, Iker Casillas, Sergio Ramos dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk pensiun dari timnas. Lalu, apa selanjutnya untuk Tim Matador?

Kami harus menjalani evaluasi besar-besaran, terutama dalam hal gaya bermain

- Gerard Pique

"Kami harus menjalani evaluasi besar-besaran, terutama dalam hal gaya bermain,” terang Gerard Pique. “Kami tak lagi memiliki level seperti yang kami punya beberapa tahun lalu. Kami terlalu bertumpu pada nama besar dan masa lalu kami. Kini, kami bukan lagi yang terbaik.”

Pique benar. Mulai Euro 2016 ke depan, Spanyol harus merelakan status favorit juara mereka dilucuti. Regenerasi skuat mutlak diperlukan. Pemain-pemain seperti Morata, Koke, Saul Niguez, Hector Bellerin layak diberi kepercayaan. Namun yang terpenting, taktik baru, atau setidaknya plan B, harus segera digodog secara matang sebab taktik umpan-umpan pendek dan penguasaan bola terbukti sudah tidak seefektif dulu.

Klub-klub Spanyol memang masih mendominasi Eropa, namun terjadi perubahan kultur di dalamnya. Barcelona kini sudah tidak bermain seksi seperti era Pep Guardiola, Real Madrid menjadi lebih pragmatis, Atletico Madrid masih setia memeluk the dark side of football ala Diego Simeone yang tetap menggaransi kemenangan.

Timnas Spanyol sudah sepantasnya mengambil intisari dari ketiga klub terbaiknya itu. Saatnya Del Bosque (atau pelatih Spanyol berikutnya) membuka lembaran baru agar tidak terjebak dalam nostalgia masa lalu yang memabukkan.

Ingat, Italia bakal kembali menjadi lawan Spanyol di Grup G babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Kini terserah Spanyol, apakah partai versus Italia pada 6 Oktober mendatang bakal kembali menjadi mimpi buruk atau menjadi momen untuk bangkit dari kubur. Memulai kehidupan baru.