SPESIAL Adu Tangguh Sektor Belakang: Thiago Silva vs Mario Yepes

Kapten masing-masing tim, berposisi sama, jadi pujaan publik Paris, dan mantan rekan seklub. Thiago Silva dan Mario Yepes, jadi simbol kebesaran jelang laga Brasil versus Kolombia!

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Piala Dunia 2014 kembali meningkatkan level krusialnya manakala kini sudah memasuki babak perempat-final. Tak main-main, karena untuk kali pertama sepanjang sejarah, delapan juara masing-masing grup bakal saling bertarung untuk memperebutkan empat tiket ke fase semi-final.

Tak ada partai yang tak pantas mendapat sorotan, termasuk duel derby Amerika latin, Brasil kontra Kolombia. Brasil memiliki modal kuat sebagai tim tuan rumah. Sementara Kolombia kini sedang menikmati sajian generasi emasnya, dengan mengukir sejarah melaju ke delapan besar.

Dan kali ini kita menaruh fokus pada duel di lini belakang yang menghadirkan Thiago Silva (Brasil) dan Mario Yepes (Kolombia). Sebuah penempatan head to head yang unik, karena kedua pemain memiliki banyak kesamaan.

Mari kita mulai, pertama Anda semua pasti tahu mereka pernah satu tim dan bahkan jadi duet di lini belakang AC Milan dalam rentang 2010 hingga 2012. Setelahnya kedua pemain sama-sama menjalani debut sebagai kapten di Piala Dunia. Lebih unik lagi karena mereka juga sehati dalam memilih nomor punggung timnas, yakni No.3! Dan yang terakhir, musim ini Silva mengikuti jejak Yepes dahulu dengan menjadi kapten Paris Saint-Germain.

Melihat fakta tersebut, makin menarik rasanya untuk menantikan duel seru mereka dalam usaha menjaga keperawanan lini pertahanan timnya. Lantas menilik statistik, siapakah yang lebih baik dan berpotensi gemilang di pertandingan nanti?

Silva bermain lebih banyak sekali dibanding Yepes, namun secara mengejutkan Yepes mampu mengimbangi mantan rekannya itu berasaskan statistik.

Berduet dengan David Luiz, seakan memaksa Silva untuk lebih maju hingga meninggikan batas garis pertahanan. Skema permainan terbuka dengan pressing ketat ala Luiz Felipe Scolari membuat pemain berusia 29 tahun itu urung menonjolkan kelihaiannya dalam bertahan.

Hanya melakukan tiga tekel dan lima intersep, jelas paparan itu bukan gambaran kekokohan seorang Thiago Silva. Namun coba tengok distribusi bola yang ia lakukan. Ada 197 operan dengan akurasi mencapai 88 persen yang ia lakukan sepanjang turnamen. Ya, Scolari lebih menginstruksikan Silva sebagai sosok yang memulai serangan. Seperti diketahui, sang bek juga lihai berperan sebagai gelandang tengah yang bertugas mendistribusikan bola.

Imbasnya terasa, karena Brasil kini sudah menderita tiga gol dari empat partai. Lawan pun mulai membaca resiko yang mulai menjelma jadi titik lemah tersebut. Semua gol yang bersarang ke gawang Julio Cesar, terjadi karena Silva dan Luiz terlambat turun untuk menutup ruang kosong di area kotak penalti sendiri.

Sementara performa Yepes pada Piala Dunia 2014, di luar dugaan mengundang decak kagum. Berduet dengan junior sekaligus mantan rekan setimnya di Milan, Cristian Zapata, mereka berdua sukses membangun benteng kokoh yang sulit ditembus. Sebuah anti-teori, ketika kita melihat performa Yepes di Atalanta dan Zapata di Milan musim lalu.

Dari empat partai yang sudah dilakoni, Kolombia baru kebobolan sepasang gol saja. Rekor tersebut jadi yang terbaik bersama Prancis dan Belgia hingga babak perempat-final. Kunci dari kegemilangan itu terletak pada komando sempurna Yepes, sang kapten.

Meski kualitas teknisnya sudah terkikis, secara cerdas Yepes mampu menginstruksikan seluruh rekan setimnya untuk menjaga garis antar lini tetap rapat baik saat bertahan maupun menyerang. Lawan jadi sulit mencetak skor lewat situasi open play.

Ya, jika bukan seorang bek 38 tahun dengan pengalaman segudang dalam sepakbola level tertinggi, Anda bisa bayangkan taktik pertahanan sempurna macam apa jika pos wing-back diisi oleh Juan Zuniga dan Pablo Armero yang notabene begitu ofensif?

Secara teknis Thiago Silva jelas unggul segalanya, tapi Yepes adalah bek paling berpengalaman di turnamen meski baru menjalani debut Piala Dunia.

Fokus sepanjang laga jadi kunci konsistensi seorang bek dalam menjaga pertahanan timnya. Sekali saja teledor, maka kekalahan jadi bayarannya. Apa lagi di ajang sebesar Piala Dunia. Silva dan Yepes siap membuktikan hal itu di pertemuan esok!

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics