SPESIAL: Duel Antar Lini Juventus - FC Internazionale

Juventus dan FC Internazionale mengawali tahun 2015 dengan saling berhadapan. Berikut ulasan redaksi Goal Indonesia terkait kekuatan masing-masing klub di setiap lini.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR & TEGAR PARAMARTHA
Pertandingan besar Serie A Italia bertajuk Derby D'Italia antara Juventus dan FC Internazionale akan digelar dini hari nanti (7/1) di markas Si Nyonya Tua.

Tim pemuncak klasemen sementara akan berusaha membayar kekecewaan setelah gagal merengkuh trofi Piala Super Italia, usai ditaklukkan Napoli melalui adu penalti di Doha, dengan merengkuh kemenangan atas rival terbesar mereka di Juventus Stadium.

Sementara itu, Inter sendiri akan berusaha meraup poin penuh demi menggenggam momentum untuk terus bangkit usai menjalani tahun 2014 yang tidak memuaskan.

Berikut ulasan terkait duel antar lini kedua tim, dilengkapi dengan perbandingan statistik kedua pemain:

Gianluigi Buffon

Mentalitas Gianluigi Buffon dalam bentrok Derby d'Italia sudah barang tentu tak perlu dipertanyakan lagi. Meskit semakin menua, Buffon merupakan kiper spesialis di partai besar karena selalu tampil sesuai ekspektasi.

Tengok saja performanya musim ini ketika melawan AC Milan, AS Roma, Atletico Madrid, hingga Napoli. Sedikitnya lima penyelematan ia lakukan di masing-masing partai. Dirinya juga jadi kiper yang paling sedikit kebobolan di Serie A Italia musim ini, dengan hanya kemasukan enam gol.

Berduel dengan salah satu striker yang jadi momoknya dalam dua musim terakhir, Mauro Icardi. Superman bakal menegaskan kebesarannya sebagai kiper terbaik abad 21 pada sang bocah 21 tahun.

Samir Handanovic

Jika tidak ada kiper asal Slovenia ini, maka bisa dipastikan Inter akan kemasukan jauh lebih banyak dari saat ini. Dalam 16 pertandingan Serie A musim ini, ia telah melakukan penyelamatan 36 kali dari 59 tembakan yang mengarah ke gawangnya, termasuk tiga penalti yang berhasil ia patahkan. Sangat jelas bahwa sosok Samir Handanovic bisa memiliki peran yang sangat vital dalam keberhasilan Inter pada laga kali ini.

Leonardo Bonucci

Seiring menuanya Giorgio Chiellini atau Andrea Barzagli, tak bisa dimungkiri lagi jika predikat bek terbaik Italia kini pantas disematkan pada Leonardo Bonucci. Ia bisa disebut sebagai cahaya tunggal di tengah mandeknya generasi emas pemain belakang, pada negara yang terkenal dengan cattenaccio-nya.

Pemain berusia 27 tahun itu merupakan sosok bek modern, yang tak hanya tangguh di belakang, tapi juga lihai dalam mendistribusikan bola dan tajam di depan gawang. Tengok saja paparan 848 umpan suksesnya di Serie A Italia musim ini, Jumlah itu adalah yang tertinggi di antara penggawa I Bianconeri lainnya bahkan Andrea Pirlo! Dini hari nanti, bersiaplah menyaksikan petunjukan berkelas dari bek jebolan Inter tersebut.

Juan Jesus

Bek asal Brasil ini menjadi palang pintu yang paling diandalkan oleh FC Internazionale musim ini. Juan menjadi pemain yang paling banyak mendapatkan kesempatan sebagai starter sejauh ini (kecuali posisi kiper) dengan total 16 kali. Kemampuannya dalam mengawal lini belakang juga sudah tampak matang, total ia melakukan 43 tekel dan 39 intersep, terbanyak di antara rekan lainnya. Melawan Juventus, yang merupakan pertandingan ke-98 bersama Inter, ia akan kembali dipercaya untuk menjadi benteng tangguh, terutama untuk meladeni fisik Fernando Llorente dan juga kelihaian Carlos Tevez di lini depan.

Andrea Pirlo

Musim ini sinar Andrea Pirlo di Juventus memang tidak seterang tiga musim terakhir. Banyak faktor yang jadi penyebabnya, mulai dari usia, rentetan cedera, dan kebutuhan taktik Massimiliano Allegri. Namun begitu bukan berarti kehadiran dan kontribusianya sudah tak berarti krusial.

Pirlo masih jadi jenderal permainan Juventus. Sosoknyalah yang menentukan arah permainan Si Nyonya Tua. Rerata lepasan umpan yang mencapai 150 buah di setiap partainya sudah jadi gambaran klasik. Jangan lupakan pula jika eksekusi tendangan bebasnya, selalu jadi solusi jika kebuntuan mendera.

Mateo Kovacic

Gelandang muda asal Kroasia ini terus menunjukkan permainan yang berkembang, tidak hanya piawai dalam menciptakan peluang untuk rekannya, Kovacic juga tidak segan menunjukkan kebuasannya di depan gawang. Sebanyak 19 tembakan telah ia lepaskan dalam 16 laga Serie A, enam di antaranya mengarah ke gawang dan empat berhasil menjebol gawang lawan.

Dalam urusan memberi suplai bola, ia juga terbilang mahir. Total 34 peluang telah tercipta dari kakinya, meski hanya satu assist yang berhasil dimaksimalkan rekannya. Kreativitasnya akan kembali diandalkan saat melawat ke markas Juventus, bila ia mengalami kebuntuan, maka akan sulit bagi Inter untuk pulang dengan angka.

Carlos Tevez

Carlos Tevez memang baru saja mengonfirmasi tak akan memperpanjang kontrkanya bersama Juve, tapi hal itu sama sekali tak akan mempengaruhi kepercayaan La Vecchia Signora padanya di musim ini. Bagaimana tidak, dirinyalah pencetak gol terbanyak Juve dan Italia di sepanjang 2014 lalu, dengan 18 gol.

Musim ini, sepuluh gol sudah ia lesatkan untuk memimpin daftar capocannoniere sementara Serie A Italia.
Insting membunuhnya di kontak penalti dan fantasinya yang luar biasa jadi candu buat Juve dalam usah mencetak gol. Satu hal yang tak dimiliki penuh oleh striker Tim Hitam-Putih lainnya, entah itu Fernando Llorente, Alvaro Morata, atau Sebastian Giovinco. Kegemilangan El Apache tentu dibutuhkan dalam partai besar menghadapi Inter, dini hari nanti.

Mauro Icardi

Seperti yang disebutkan dalam analisis sebelumnya, Rodrigo Palacio memiliki kans untuk kembali bersinar, tetapi Mauro Icardi tetap menjadi ujung tombak andalan Inter musim ini. Ia telah mencetak 15 gol sepanjang tahun 2014, lebih banyak dari rekan-rekan lainnya, dan hanya kalah dari Antonio Di Natale (21), Carlos Tevez (18) dan Luca Toni (18).

Musim ini, ia juga nangkring pada posisi kedua (bersama Jose Callejon, Antonio Di Natale dan Jeremy Menez) daftar top skor sementara Serie A dengan delapan gol. Catatan gol bagi seorang striker tentu menjadi 'segalanya' dan Icardi adalah predator Inter yang paling ganas saat ini. Darah muda pemain asal Argentina ini diharapkan mampu membakar semangat juang rekan-rekannya di atas lapangan, terutama ketika bertandang ke tempat sulit seperti Juventus Stadium.