SPESIAL Final Liga Champions: Carlo Ancelotti, "Special One" Yang Sesungguhnya

Sambil menantikan apakah Real Madrid sanggup merengkuh La Decima, kita juga menunggu kelahiran pelatih tersukses di era Liga Champions: Carlo Ancelotti.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
Tak banyak orang seperti Carlo Ancelotti. Dengan berjibunnya torehan gelar yang ia raih, Ancelotti bisa dianggap sebagai salah satu pelatih paling genius sepanjang sejarah sepakbola. Status ini bisa dipertegas di Estadio da Luz pada Minggu (25/5) dini hari WIB mendatang tatkala tim yang ia latih, Real Madrid, bakal diadu dengan Atletico Madrid di panggung final Liga Champions 2013/14.

Sosoknya memang kalem dan tak pernah neko-neko di lapangan, namun di dalam otaknya tersimpan seluruh kemampuan taktikal yang tiada banding sehingga ia hanya akan bertindak pada satu tujuan: membuat timnya menang.

Arrigo Sacchi, eks pelatih AC Milan yang membimbing Ancelotti di era keemasan pada medio 1990-an, menggambarkannya sebagai orang yang berpikir lebih cepat ketimbang siapapun. "Sebagai pemain dia mampu bertindak sebagai kepanjangan tangan dari pelatih," puji Sacchi pada waktu itu.

Kemampuan berpikir cepat dan bertindak tepat itulah yang dibutuhkan para pemain Los Blancos untuk menghentikan rival sekotanya yang tengah naik daun itu. Setidaknya, Cristiano Ronaldo dkk. sudah merasakan ampuhnya taktik Carletto di musim 2013/14.

Dilempar ke udara lagi, Carletto? | Musim perdana Carlo Ancelotti di Real Madrid langsung berbuah Copa del Rey dan mungkin Liga Champions.

Ya, musim perdana Ancelotti di Spanyol berjalan mulus. Meski gagal pada langkah-langkah terakhir di La Liga Spanyol, Madrid tetap sukses ia bawa meraih trofi Copa del Rey dengan menghajar sang musuh abadi Barcelona 2-1 berkat bantuan gol solo run ciamik dari sang pemain termahal di dunia, Gareth Bale.

Di Liga Champions, Ancelotti selangkah lebih maju dari pendahulunya Jose Mourinho yang hanya membawa Madrid mencapai semi-final di tiga musim secara beruntun. Musim ini, ia membawa Madrid ke partai puncak setelah tampil tak tertahankan di fase grup serta menebas wakil Bundesliga Jerman (Schalke, Borussia Dortmund, dan Bayern Munich) satu per satu di fase knock-out. Ancelotti pun mengakhiri penantian panjang Madridista selama 12 tahun untuk lolos ke final. La Decima alias gelar Piala Eropa kesepuluh semakin dekat.

Tak ayal, menjulangnya performa Real ini membuat banyak pihak menjagokan mereka mampu mewujudkan mimpi La Decima tersebut. Ancelotti sendiri juga mengalami peningkatan. Sepanjang karier kepelatihannya, bersama Madrid-lah pelatih berusia 54 tahun ini punya presentase kemenangan tertinggi (76,7 persen) setelah meraih 46 kemenangan dari 60 laga. Angka ini unggul mutlak dari periode tersuksesnya bersama AC Milan (56,2 persen). Meski demikian, angka-angka tersebut akan berkurang maknanya seandainya mereka gagal juara.

Namun, perhatikan ini, Ancelotti memang seorang spesialis Liga Champions. Ancelotti menjadi salah satu dari lima orang yang sukses memenangi Piala/Liga Champions sebagai pemain dan pelatih sekaligus. Final di Lisbon ini adalah final ketujuhnya sebagai pemain dan pelatih. Dua kali ia meraihnya sebagai pemain dan dua kali pula ia merebut trofi paling bergengsi di Eropa itu sebagai pelatih. Semuanya bersama AC Milan.

Romansa tak selalu indah | Kisah cinta Carlo Ancelotti dan Liga Champions sempat berakhir pahit ketika takluk secara pedih dari Liverpool pada 2005.

Kisah cinta Ancelotti dengan Liga Champions sudah dimulai saat dirinya masih muda. Ancelotti yang berposisi sebagai gelandang sentral sukses mengantar AS Roma ke final 1984 meski hanya menjadi runner-up di bawah Liverpool. Di bawah arahan Sacchi, Ancelotti lalu mencapai masa kejayaannya sebagai pemain dengan menjadi kampiun Eropa secara back-to-back bersama Milan pada 1988/89 dan 1989/90.

Sebagai pelatih, ia sukses mengantar Rossoneri ke final sebanyak tiga kali (2003, 2005, dan 2007) dalam kurun waktu hanya lima tahun dengan dua di antaranya berhasil ia menangi. Hanya comeback dramatis dari Liverpool pada 2005 yang mencegah Ancelotti meraih trofi ketiganya sebagai pelatih. Tetap saja, hal tersebut tak mengurangi satu esensi penting: betapa Liga Champions sudah mengalir dalam darah dagingnya.

Bicara soal karier kepelatihan, Ancelotti bisa dibilang punya karier yang mulus. Don Carlo mengawalinya di Reggiana pada musim 1995/96. Satu musim di sana, ia sukses membawa klub kecil itu promosi ke Serie A. Ia lalu direkrut Parma dan di sanalah namanya mulai mencuat setelah sukses membawa Gialloblu menjadi runner-up di musim 1996/97. Sempat tenggelam saat dipercaya melatih Juventus, Ancelotti lalu membuktikan dirinya sebagai salah satu pelatih besar Eropa ketika menangani Milan sejak musim 2001/02.

Tak heran, ketika itu Ancelotti dijuluki sebagai guru taktik baru sepakbola Italia. Salah satu kelebihannya dibanding arsitek asal Italia lainnya adalah transformasi taktik. Kala memimpin Chelsea, Paris Saint-Germain, hingga kini Real Madrid, ia tak pernah memiliki pakem satu formasi saja. Dinamisme attacking football memang terasa dalam takik Carletto, namun aroma catenaccio tetap terjaga karena pria yang punya hobi minum anggur ini tak pernah berani mengubah skema empat bek sejajar di sepanjang karier kepelatihannya.

*Ket: belum termasuk final Liga Champions 2013/14

Menilik perjalanan karier Ancelotti di atas, rasa-rasanya kisah cinta sang allenatore dengan Liga Champions kemungkinan besar masih akan terus berlanjut. Laga final di Lisbon nanti akan menjadi saksi apakah Ancelotti akan menjadi pelatih tersukses sepanjang sejarah era Liga Champions. Sejak berganti nama menjadi Liga Champions pada 1992/93, sudah ada banyak pelatih sukses yang mampu berjaya. Tabel di atas menunjukkan hal tersebut.

Seandainya pada akhir pekan ini ia mampu meraihnya, ia akan menjadi satu-satunya pelatih di era Liga Champions yang meraih Si Kuping Lebar sebanyak tiga kali. Melebihi pencapaian pelatih tersukses Liga Champions yang saat ini masih dipegang sang manajer legendaris dari Manchester United, Sir Alex Ferguson. Ancelotti juga bakal menyamai perolehan legenda Inggris lainnya, Bob Paisley (Liverpool), dengan tiga trofi Eropa yang diraih sebelum era Liga Champions.

Jadi tidaknya Madrid meraih La Decima, kita serahkan sepenuhnya pada spesialis Liga Champions yang satu ini.

*Ket: hingga sebelum final Liga Champions 2013/14

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics