SPESIAL Final Liga Champions: Diego Simeone, Hasrat Pecahkan Tabu Turnamen

Gagal sebagai pemain, Diego Simeone berhasrat memecahkan tabu di Liga Champions sebagai pelatih.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Anda mungkin sudah menduga jika skuat glamor Real Madrid bakal dengan mulus melaju ke final Liga Champions 2013/14. Namun Anda pasti tidak pernah menduga bahkan dalam khayalan tingkat tinggi jika tim sekotanya, Atletico Madrid, yang akan jadi penantang di partai puncak.

Dalam perjalanannya Real melaju nyaris tanpa hambatan, tapi Atletico tampil lebih luar biasa dengan tak sekalipun mengecap kekalahan untuk sampai ke final. Mereka bahkan tampil di partai level tertinggi antar klub Eropa itu dengan predikat sebagai juara La Liga Spanyol 2013/14!

Menilik komposisi pemain yang transfer value-nya tak sampai setengah nilai Galaticos, adalah sebuah keajaiban nyata melihat kiprah Los Rojiblancos hingga ke titik ini. Jika mendengar deretan nama skuat tim penghuni Vicente Calderon musim ini, mungkin nyaris tak ada yang familiar di telinga Anda. Diego Costa memang berkelas dan jadi pemain paling menonjol, namun Atletico tak pernah punya masalah bila striker naturalisasi Spanyol itu dipaksa absen.

Lantas apa yang membuat mereka bisa selalu mengejutkan, selalu luar biasa, dan tampil begitu kolektif? Kita semua pasti sepakat jika menunjuk sang pelatih, Diego Simeone, sebagai otak dibalik semuanya.

Lebih menakjubkan karena musim ini jadi debut sang arsitek di panggung Liga Champions. Satu hal yang di luar nalar jika melihat hasil-hasil Atletico dalam perjalanan menuju final. Bagai seorang maestro, ia membawa Los Cholconeros menang sembilan kali dari 12 partai yang sudah dilakoni nir kekalahan.

Prestasi tersebut jadi yang terbaik sepanjang kiprahnya di Liga Champions sejak berekecimpung di dunia sepakbola. Ya, semasa menjadi pemain, langkah terjauh Simeone adalah sampai ke babak delapan besar turnamen. Rasa penasaran untuk mencium manisnya Si Kuping Lebar masih terus hinggap.

Kini tantangan terbesar dalam hidupnya menanti pada Minggu (25/5) dini hari WIB, di Estadio da Luz, Lisbon. Setelah gagal sebagai pemain, mampukah Simeone memecahkan tabu Liga Champions?

Simeone melakukan debut Liga Champions bersama Atletico Madrid di musim 1996/97

Bagai Deja vu, sebagai pemain, Diego Simeone memulai petualangannya di Liga Champions bersama klub yang kini dilatihnya, Atletico Madrid, pada musim 1996/97. The Mattres Makers lolos ke turnamen terbesar antar klub Eropa tersebut dengan status kampiun La Liga Spanyol.

Debutnya sungguh mengesankan, karena ia mencetak sepasang gol dalam kemenangan telak 4-0 Atletico atas Steaua Bukarest di babak fase grup. Tim asuhan Radomir Antic kala itu melaju jauh hingga babak perempat-final, sebelum kalah oleh Ajax Amsterdam lewat drama 120 menit.

Simeone yang kala itu masih berusia 26 tahun tampil begitu eksplosif. Ia mencetak empat gol dari tujuh partisipasinya di Liga Champions 1996/97. Satu hal yang membuat raksasa Italia, FC Internazionale, memboyongnya di akhir musim.

Gelar Eropa pertama diraih Simeone bersama Inter, tapi bukan Liga Champions

Bermain selama dua musim di Inter, Simeone gagal mengecap megahnya laga Liga Champions di musim perdana. Namun hal itu setidaknya terbayar tatkala ia jadi pilar krusial lini tengah La Benemata, lewat rengkuhan gelar Piala UEFA 1997/98.

Tampil sebanyak sembilan kali di kejuaraan yang sering disebut sebagai adik Liga Champions tersebut, ia sukses menorehkan sebiji gol krusial ke gawang Strasbourg di babak perdelapan-final. Sejumlah umpan kuncinya pada Ronaldo Luiz Nazario de Lima jadi sorotan hebat saat itu.

Musim selanjutnya, kiprah El Cholo dalam usahanya mencium Si Kuping Lebar berlanjut. I Nerazzurri tampil di Liga Champions dan dibawanya lolos dari babak fase grup, yang dihuni oleh Real Madrid. Sayang perjalanan mereka harus terhenti pada babak perempat-final, karena kalah agegat 3-1 dari Manchester United yang akhirnya jadi juara.

Satu momen yang sekaligus menandai perpisahan Simeone dengan Inter, karena dijadikan paket transfer untuk mendatangkan Christian Vieri dari Lazio.

Mencapai puncak karier di Lazio, Simeone tetap gagal mencium trofi Liga Champions

Bersama Lazio, Simeone mencapai puncak kariernya. Piala Super Eropa langsung ia rengkuh di partai debutnya sebagai penggawa Tim Elang Muda. Di akhir musim pria Argentina itu panen gelar dengan tambahan Piala Super Italia, Piala Italia, dan scudetto.

Simeone pada akhirnya memang gagal membawa I Biancocelste berajaya di Liga Champions, namun kiprahnya di kejuaraan tersebut sama sekali tak mengecewakan. Tampil 11 kali di pagelaran 1999/00, ia memiliki peran penting dalam langkah jauh Lazio ke babak perempat-final, hingga akhirnya tersingkir dalam partai melegenda kontra Valencia.

Di musim 2000/01 dan 2001/02, kemunduran dialami Gli Aquilotti dalam sepak terjanganya di Liga Champions. Simeone pun hengkang kembali ke Atletico Madrid di musim 2003/04, di mana ia tak lagi berkecimpung di turnamen Eropa.

Meski begitu bersama Lazio, Simeone sanggup tampil sebanyak 22 kali di Liga Champions. Satu hasil dominan dari total 37 kali caps-nya di ajang tersebut. Lima gol jadi persembahan dan babak perempat-final jadi prestasi terbaiknya.

Sebagai pelatih, Simeone berhasrat pecahkan tabu Liga Champions bersama Atletico Madrid

Pensiun di musim 2005/06, Simeone kemudian menjalani lembaran hidup baru sebagai pelatih di Racing Club, dan akhirnya sukses di beberapa tim Argentina lainnya. Ia kemudian memulai petualangan di Eropa bersama Catania pada 2011, sebelum mapan di Atletico Madrid mulai musim 2011/12.

Musim perdananya sungguh memesona. Simeone sukses mengantarkan Los Indios merengkuh manisnya trofi Liga Europa. Semusim kemudian gelar Piala Super Eropa dan Copa del Rey ia persembahkan. Musim ini? Secara heroik The Red and Blue dibawanya merengkuh gelar La Liga Spanyol di tengah dominasi Barcelona dan Real Madrid. Catatan itu merupakan sederet gelar yang pernah dirasakan pria 44 tahun itu semasa menjadi pemain.

Kini tinggal Liga Champions yang masih belum bisa digenggam Simeone dalam petualangannya. Satu hal yang coba langsung dijawabnya pada musim perdananya di Liga Champions, dengan mengejutkan dunia lewat kiprah Atletico hingga partai final.

Ya, selalu ada yang pertama dalam kehidupan, tapi tidak untuk Liga Champions. Jadi jika bukan saat ini, mungkin tak ada lagi kesempatan lain bagi Simeone untuk memecahkan rasa penasarannya.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics