SPESIAL: Jejak Rekam Benny Dolo Sebagai Pelatih Timnas Indonesia

Prestasi tertinggi Bendol adalah membawa timnas Indonesia menjuarai Piala Kemerdekaan 2008, itu pun diwarnai kontroversi.

PSSI telah menetapkan Benny Dolo sebagai pelatih sementara untuk timnas Indonesia. Pelatih yang akrab disapa Bendol itu akan menukangi skuat Merah Putih pada dua laga uji coba di bulan Maret 2015. Yang menjadi alasan utama PSSI memilih Bendol sebagai pelatih sementara timnas Indonesia adalah dari segi pengalaman.

Memang, pelatih berusia 64 tahun itu pernah menukangi timnas Indonesia sebanyak dua kali. Yaitu pada periode 2000-2001 dan 2008-2010. Namun, hanya satu gelar juara yang pernah ditorehkannya bersama tim Garuda, yakni juara Piala Kemerdekaan 2008. Itu pun masih dibumbui dengan kontroversi di laga final. Goal Indonesia mencoba mengulik kembali kiprah pelatih Sriwijaya FC itu saat menukangi timnas Indonesia. 

Berikut ulasannya:

Pada era ini, Bendol tidak berhasil membawa timnas Indonesia meraih gelar apapun. Meneruskan tugas Nandar Iskandar, Bendol yang sebelum ditunjuk masih menukangi Persma Manado dibebankan tugas menukangi timnas di ajang Pra Piala Dunia 2002.

Langkah tim Garuda langsung terhenti di babak pertama kualifikasi. Tergabung di grup 9 bersama Tiongkok, Maladewa, dan Kamboja, Indonesia hanya bisa finis di urutan kedua klasemen. Tiongkok yang menjadi juara grup langsung lolos ke babak kedua, dan kemudian lolos ke Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.

Cukup sukses bersama Persita Tangerang, Bendol kembali ditunjuk menjadi pelatih timnas Indonesia pada 2008. Dia menggantikan posisi Ivan Kolev yang gagal di putaran final Piala Asia 2007 dan kualifikasi Piala Dunia 2010.

Tugas pertama Bendol ketika itu menukangi timnas untuk ajang Piala Kemerdekaan 2008 di Jakarta. Pada ajang ini, bertindak sebagai tuan rumah langkah Indonesia terbilang mulus di fase grup. Indonesia mampu membungkam lawan-lawan mereka di grup B yaitu Kamboja (7-0) dan Myanmar (4-0).

Melangkah ke babak semi-final dengan status juara grup, Indonesia menghadapi Indonesia U-21. Timnas Indonesia yang ketika itu masih diperkuat Charis Yulianto, Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, serta Ponaryo Astaman berhasil menang tipis 1-0 atas junior mereka.

Di babak final, skuat Garuda berjumpa Libya U-23. Di fase ini lah terjadi sebuah kontroversi. Di mana Indonesia yang sempat tertinggal 1-0, lewat gol Abdallah Mohamed, hingga akhir babak pertama tetap meraih juara. Menyusul, Libya U-23 memilih walk over (WO) sebelum babak kedua dimulai.

Indonesia akhirnya dinyatakan sebagai pemenang dengan skor 3-1. Sikap Libya U-23 itu dipicu tindakan tidak sportif dari kubu tuan rumah. Pelatih Libya Gamal Adeen Nowara dipukul oleh pelatih kiper timnas Indonesia saat menuju ruang ganti usai babak pertama.

Alhasil, Libya U-23 meminta jaminan keamanan dari panitia pertandingan. Usai turun minum, timnas Indonesia sudah siap melanjutkan pertandingan dan menempati lapangan. Namun, setelah menunggu 15 menit, tak ada satu pun ofisial maupun pemain Libya U-23 yang keluar dari ruang ganti.

Hal ini sangat disayangkan, mengingat Piala Kemerdekaan kembali hadir setelah delapan tahun absen. Sayangnya lagi, di partai puncak ini justru Libya U-23 menolak melanjutkan pertandingan di saat unggul satu gol.

Sehingga prestasi juara buat timnas Indonesia tidak terlalu membanggakan. Setelah itu, Bendol hanya mampu membawa timnas Indonesia melangkah ke babak semifinal Piala AFF 2008, serta gagal lolos ke putaran final Piala Asia 2011 Qatar.

Itu setelah, mereka gagal di fase kualifikasi grup B. Saat itu, timnas Indonesia menjadi juru kunci di bawah Australia, Kuwait, dan Oman. Ini untuk pertama kalinya bagi Indonesia gagal lolos ke putaran final Piala Asia, setelah sebelumnya empat kali berturut-turut selalu berpartisipasi pada 1996, 2000, 2004, dan 2007.