SPESIAL: Klub Tak Bertabur Bintang, Melenggang Di Empat Besar

Bukan hanya tim yang bertabur bintang dan bermaterikan uang berlimpah yang bisa menghuni empat besar. Tapi juga ada tim semenjana yang menyusup di antaranya.

OLEH FARABI FIRDAUSY & HAMZAH ARFAH Ikuti di twitter
Putaran pertama kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014 menghadirkan beberapa pelajaran berharga bagi klub-klub pesertanya. Sehingga mereka berusaha untuk mengevaluasi kekurangan yang ada di putaran pertama, supaya lebih baik di putaran kedua.
Di samping itu, ada beberapa hal yang cukup mengejutkan di masing-masing wilayah. Terutama, soal penghuni empat besar teratas klasemen di barat dan timur. Bukan hanya tim yang memiliki uang dan bermaterikan pemain bintang yang bisa sukses menduduki papan atas. Tapi juga tim-tim semenjana dengan bermaterikan pemain tak mentereng.
Di wilayah barat, meski memiliki nama besar, skuat Persija Jakarta pada musim ini bisa dibilang tidak terlalu mengilap seperti Arema Cronus, Persib Bandung, maupun Semen Padang.
Praktis, hanya beberapa nama saja yang bisa disebut bintang seperti Andritany Ardhiyasa, Ramdani Lestaluhu, Rohit Chand, Ismed Sofyan, serta Fabiano Beltrame. Selebihnya, hanya dihuni para pemain senior level medioker dan pemain muda yang baru mulai berkembang.

Berkembang: Pemain muda Persija seperti Syahrizal Syahbuddin terus berkembang pada musim ini.
Beruntung, tim Macan Kemayoran dipegang pelatih sekaliber Benny Dolo. Pelatih yang akrab disapa Bendol itu tetap mampu meramu timnya dengan sangat baik di awal musim ini. Meski, pelatih asal Manado itu telah kehilangan beberapa pemain andalannya macam Robertino Pugliara dan Emmanuel 'Pacho' Kenmogne.
Mungkin, yang paling terasa saat ini bagi Persija adalah kehilangan sosok Pacho. Ya, pada musim ini lini depan tim ibu kota seperti kehilangan taringnya lantaran belum menemukan pengganti Pacho yang sepadan.
Pembelian dua striker asing, Ivan Bosnjak dan Zelimir Terkes tidak begitu mengilap ketimbang sang bomber Kamerun yang mampu mencetak 15 gol dari 14 penampilan pada musim lalu. Striker lokal yang ada seperti Rahmat Affandi dan Agung Supriyanto juga belum begitu produktif.
Imbasnya, Persija beberapa kali menang dengan skor identik, hanya unggul satu gol dari lawan. Namun daya juang Fabiano Beltrame dan kawan-kawan di lini pertahanan juga patut diapresiasi musim ini.
Tapi semuanya bisa berjalan sesuai jalur bagi Persija. Dengan modal pemain ala kadarnya dan permainan yang bisa dibilang tak begitu atraktif, Persija tetap mampu mengakhiri paruh musim di posisi ketiga wilayah barat. Bahkan, mereka sempat tak terkalahkan dalam enam laga beruntun awal musim ini. Raihan yang luar biasa dengan materi skuat yang beberapa merupakan hasil binaan sendiri.
Meski tidak memainkan sepakbola yang indah, namun Persija tahu bagaimana berjuang untuk musim ini. Menutup paruh musim dengan baik, Persija pun mengevaluasi kelemahan mereka. Manajemen dan pelatih sadar betul bahwa tim punya kemungkinan untuk berbicara lebih di ISL musim ini. Maka sektor yang paling lemah pun coba dipoles, agar Persija mampu lebih jauh dari sekadar posisi ketiga wilayah barat.
"Secara keseluruhan performa kami cukup baik bisa di posisi ketiga. Dengan raihan tiga seri, dua kalah, lima menang. Tentu harus ada perbaikan, target kami bisa ke delapan besar, syukur bisa masuk empat besar," kata Asher Siregar, manajer Persija kepada Goal Indonesia.
"Salah satu yang jadi perhatian adalah lini depan. Kami akan fokus mencari pemain istimewa di transfer paruh musim. Ini krusial karena akan lama kami tidak bisa menambah pemain lagi," jelas Asher.
Mungkin dengan masuknya pemain istimewa yang dibutuhkan Persija di lini depan, bisa membuat Persija benar-benar layak diperhitungkan untuk musim ini.

Sementara di wilayah timur, tak bisa dimungkiri Persela tampil menjadi tim Kuda Hitam paling berbahaya di wilayah ini. Bagaimana tidak, Laskar Joko Tingkir mampu menyusup di antara klub-klub bertabur bintang dan materi berlimpah seperti Mitra Kukar, Persebaya Surabaya, dan juara bertahan Persipura Jayapura.
Padahal, menyambut bergulirnya ISL 2014, LA Mania, kelompok suporter Persela, sempat dibuat khawatir oleh kebijakan yang ditempuh manajemen Persela. Salah satunya, melepas sang kapten dan juga ikon tim Gustavo Lopez dan Samsul Arif Munip menuju ke Arema Cronus.
Sebagai gantinya, tim pelatih dan manajemen memilih mendatangkan Srdjan Lopicic. Gelandang berkebangsaan Montenegro, yang sebelumnya hanya membela Persebaya Surabaya di pentas Divisi Utama.
Terlebih, musim ini Persela banyak mengandalkan para pemain muda yang dipromosikan dari tim U-21. Bahkan, ada enam pemain dari Persela U-21 yang dipromosikan musim ini, mulai dari Mario Rohmanto, Rudy Santoso, Radikal Idealis, Eky Taufik, Bangkit Sabili, dan Bimantara.
Bisa dibilang, Kolaborasi pemain senior dan junior, cukup berjalan mulus selama putaran pertama. Choirul Huda, Taufiq Kasrun, Zaenal Arifin, Lopicic, serta Addison Alves, mampu memberikan contoh baik sekaligus dukungan kepada para pemain muda.

Kombinasi apik: Kombinasi apik senior dan junior di skuat Persela berhasil diracik dengan baik oleh Eduard Tjong.
Namun begitu, LA Mania pun sempat dibuat mengerutkan dahi, saat tim pujaannya dihajar Persipura Jayapura 3-0 saat mengunjungi Stadion Mandala, di laga pembuka putaran pertama. Perlahan tapi pasti, Taufiq Kasrun dan kawan-kawan berhasil memupus keraguan para pendukungnya tersebut, dengan menorehkan hasil seri 0-0 di markas Perseru Serui, di laga selanjutnya.
Tren terus meningkat, kala menjalani laga kandang perdana musim ini. Bermain di Stadion Surajaya, Lamongan, skuad asuhan Eduard Tjong tersebut berhasil menghantam salah satu kandidat juara, Persebaya Surabaya, skor 3-0, 10 Februari lalu. Hingga akhirnya, Persela menyapu bersih semua poin di kandang sendiri selama putaran pertama. Catatan itu, membawa Persela bertengger di posisi kedua wilayah timur dengan 19 poin dari sepuluh laga.

Meski dalam perjalanan menapaki putaran pertama, pertahanan Laskar Joko Tingkir juga tak bisa dibilang istimewa, karena gawang Huda sudah kebobolan 13 kali. Dari jumlah tersebut, 11 gol di antaranya dirasakan saat melakoni laga tandang.
"Persela itu tim pinggiran, tak ada pemain bintang di musim ini. Kami membangun tim dengan kebersamaan. Kami selalu mengandalkan kekompakkan dan kerja sama. Kalau yang memuncaki klasemen Persebaya, Persipura, atau Mitra, itu wajar, karena mereka pemainnya mahal-mahal. Tapi kalau Persela? Ini yang luar biasa," ucap Didik Ludiyanto, asisten pelatih Persela dengan bangga.
Patut ditunggu sejauh apa kedua tim bisa berbicara di putaran kedua nanti. Bukan hanya strategi yang tepat di atas lapangan yang dibutuhkan, tapi strategi dalam pembelian pemain yang efektif pun akan menjadi kunci keberhasilan kedua tim agar bisa melenggang lebih jauh. (gk-43)

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.