SPESIAL: Lima Duel Historis Liverpool - Chelsea

Rivalitas Liverpool - Chelsea memang takkan pernah habis. Momen unik, heroik, dan kontroversial selalu mewarnai pertemuan keduanya, termasuk dalam lima duel historis ini.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Nanti malam (8/11), akan ada duel dahsyat di Liga Primer Inggris: Liverpool vs. Chelsea!

Chelsea tentu jadi unggulan mengingat pasukan Jose Mourinho sedang berada dalam kondisi puncaknya. Kehadiran Diego Costa dan Cesc Fabregas langsung jadi pujaan publik London Biru berkat sumbangsih nyata yang mendorong Chelsea ke puncak klasemen. Sementara itu, Liverpool yang jadi pesaing gelar musim lalu, justru loyo dan kini terdampar di papan tengah. Mereka jelas belum bisa melupakan Luis Suarez - yang menghadirkan prestasi dan kontroversi sepanjang masa baktinya.

Seperti biasanya, pertemuan Liverpool dan Chelsea selalu menarik untuk dibahas. Kedua klub Inggris ini memang sudah menjadi raksasa yang disegani di Eropa. Tak heran kalau setiap mata mengarah pada mereka jelang pertemuan keduanya. Belum lagi, kejadian unik, heroik, dan kontroversial yang tak pernah absen dalam duel Si Merah dan Si Biru turut menaikkan harga jual pertandingan ini.

Jelang pagelaran akbar di Anfield, Goal Indonesia menyajikan duel-duel historis antara Liverpool dan Chelsea. Sedikit kilas balik mengenai perjalanan kedua tim, yang mungkin bisa menjadi bekal untuk memprediksi dan menikmati malam Minggu nanti, di depan layar kaca.

Salah satu laga di mana Sang Legenda Bill Shankly menunjukkan permainan psikologis.

Saat itu, Chelsea – yang dinakhodai Tommy Docherty – jadi unggulan untuk meraih treble di Inggris. Wajar saja, mereka memiliki Ron Harris dan Peter Bonetti di era itu. Liverpool diprediksi akan kalah dari The Blues secara menyedihkan di semi-final Piala FA.

Namun Shanks punya kartu As yang belum ia tunjukkan. Sang manajer melakukan framing dan membuat Chelsea secara tidak langsung semakin percaya diri bisa mencapai final, lalu menggebrak ruang ganti dan memerintahkan timnya untuk menghajar ‘lawan yang sombong’ itu.

Strategi Shanks ternyata sukses berat. Timnya yang diprediksi kalah justru mendepak Chelsea dengan skor 2-0 dan melaju ke final. Sementara itu, Chelsea terserang secara psikologis dan mimpi untuk meraih treble pun sirna. Mereka hany amampu memenangkan Piala Liga.

Mungkin tak banyak orang yang mengingat laga ini, tapi kalau menyebut frasa kunci ‘gol hantu’ Luis Garcia, tentu para penggila sepakbola familiar dengannya.

Ya, dalam laga ini tercipta gol yang membuat Jose Mourinho berang dan tak mau mengakui gol tersebut (dan sang pencetak gol, Garcia, sempat meragukan golnya sendiri saat itu!). Gol hantu yang kontroversial ini selanjutnya membawa Liverpool ke semi-final Liga Champions .

Dengan kedudukan 0-0 di leg pertama, Garcia melambungkan bola melewati Petr Cech, namun William Gallas membuangnya tepat di mulut gawang. Siapa sangka, wasit Lubos Michel menilai bola telah melewati garis dan ia menunjuk lingkaran tengah lapangan.

Bahkan hingga hari ini, The Special One, akan mencibir kalau bicara tentang momen penentu itu. “Kami kalah karena gol yang sebenarnya bukan gol, tapi inilah sepakbola,” ujarnya.

Usai laga, Garcia menyampaikan keraguannya, “Saya mulai meragukannya karena untuk beberapa detik, tak ada rekan yang dekat dengan saya. Saya mulai berpikir, ‘Ya Tuhan, mungkin itu bukan [gol], tapi saya berbalik dan melihat wasit serta hakim garis kembali ke posisi tengah. Saya langsung berteriak.”

Ini adalah laga perempat-final Liga Champions yang sudah dimenangkan Chelsea di leg pertama. Mungkin begitulah pikir orang-orang setelah melihat kemenangan 3-1 The Blues di Anfield. Laga tanpa gol untuk menjaga keunggulan jadi prediksi; The Reds harus bermain tanpa Steven Gerrard saat itu.

Namun, apa yang tersaji justru di luar bayangan, laga berjalan seru, tensi dan tempo begitu tinggi, membuat para fan Chelsea berdebar-debar setiap detiknya. Tanpa beban dan dilabeli sebagai kuda hitam, Liverpool bermain lepas, mencetak dua gol di paruh pertema dan menghapus keunggulan Chelsea.

Kegelisahan berkoar di Stamford Bridge, manajer Guus Hiddink menanggapinya dengan memasukkan Nicolas Anelka dan menyaksikan kubunya mencetak tiga gol balasan…lalu kembali kehilangan arah saat Lucas Leiva menyamakan kedudukan, disusul Dirk Kuyt yang mencetak gol di sisa delapan menit.

Untung saja, maskot dan legenda Chelsea Frank Lampard mampu menyamakan kedudukan, sekaligus mengakhiri senam jantung fan Chelsea dengan meraih agregat 7-5.

Lupakan skor yang imbang saat itu. Laga tersebut akan diingat bukan karena pertandingan yang ketat, melainkan karena kejadian sureal yang terjadi di menit ke-66: Luis Suarez – mesin gol Liverpool – menancapkan giginya di lengan bek Chelsea, Branislav Ivanovic. Api pertandingan pun semakin besar saat Suarez menyamakan kedudukan di menit tambahan.

Kejadian ini luput dari pandangan wasit saat itu. Ivanovic bahkan menunjukkan bekas gigitan Suarez kepada wasit, tapi tidak ada keputusan langsung yang diberikan. Malang bagi Suarez, FA justru memberikan larangan bermain di 10 pertandingan baginya.

Momen ini kembali terulang di Piala Dunia 2014, saat Uruguay menghadapi Italia, dan Giorgio Chiellini jadi korbannya.

Ini merupakan pertemuan terakhir antara Chelsea dan Liverpool, baru terjadi di musim lalu, tapi membicarakan momen ini takkan ada habisnya.

Momen yang takkan bisa dilupakan oleh para Kopites ini tentu akan tercatat dalam sejarah dan diceritakan sebagai dongeng tentang (sekali lagi) kegagalan Liverpool meraih gelar Liga Primer Inggris. Hanya saja, dongeng ini semakin mewah karena Steven Gerrard – yang selalu dielu-elukan - terpeleset dan memberikan ‘assist’ pada gol Demba Ba. Perburuan gelar mereka ada di ujung tanduk dan semua semakin parah saat Chelsea mencetak gol kedua mereka.

Selama 90 menit, Chelsea bertahan tanpa henti, mereka melulu membuang waktu, membuat Brendan Rodgers kocar-kacir karena strateginya tak berfungsi. Sementara itu, strategi Mourinho – yang ia namai strategi parkir bus di depan gawang – menjadi taktik yang menghempaskan asa juara Liverpool.

Usai laga, Brendan Rodgers yang sempat berguru pada Mourinho menyampaikan keluh-kesahnya di konferensi pers, “Jose senang bekerja dan bermain seperti itu, dan ia mungkin akan memperpanjang CV-nya dan mengatakan itu berhasil.”

“Tapi itu bukan gaya bermain saya. Saya suka mengambil inisiatif dalam laga dan membiarkan para pemain berekspresi. Kami melakukan segala yang kami bisa, tapi permainan kami ditentukan oleh kreativitas penyerangan kami dan kami tak pernah berhenti.”

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.