SPESIAL: Lima Hal Yang Bisa Dipelajari Dari Kembali Bergulirnya Serie A Italia

Perjuangan Milan, putusan kontroversial yang menguntungkan Roma, pertahanan Juventus kembali digempur dan kejutan dalam persaingan di papan atas Serie A Italia.

OLEH YOSUA EKA PUTRA Ikuti di twitter
Kompetisi Serie A kembali bergulir usai jeda musim dingin dengan banyak topik pembicaraan yang berkembang di penjuru Italia.

Kejadian di markas Udinese dan Palermo melakukan pergerakan yang signifikan. Sementara performa Milan menukik, Lazio dan Napoli terus bersaing di zona Liga Champions. Di pertandingan lain, Mauro Icardi kembali menjadi mimpi buruk Juventus yang tak terbantu oleh sektor pertahanan sendiri.

Goal coba merangkum topik paling hangat usai kembali bergulirnya Serie A Italia, Selasa (6/1).

Kutukan gol hantu kembali meneror Serie A pada Selasa (6/1). Gol kemenangan AS Roma di kandang Udinese yang dicetak David Astori bisa menjadi salah satu iklan paling cocok untuk pengenalan teknologi garis gawang.

Saat mendapat balasan dari keputusan serupa yang menguntungkan Udinese pada laga kontra Milan bulan lalu, beberapa pihak yakin itu sebuah karma. Sudah saatnya ada banyak hal yang dilakukan untuk mendapat keputusan yang tepat.

"Jika wasit tambahan mengambil keputusan saat bola melewati gawang, kemudian ditolak oleh wasit utama, apa gunanya kehadiran mereka?" rutuk pelatih Zebrette, Andrea Stramaccioni usai laga. Itu pertanyaan yang sangat pantas dilayangkan.

GoalControl digunakan pada Piala Konfederasi 2013 dan Piala Dunia 2014 terbukti sukses, sedangkan Liga Primer Inggris telah menerapkan sistem Hawk-Eye sejak awal musim 2013-14. Waktu dan di pertandingan besar, tugas wasit dalam proses pengambilan keputusan terbantu dengan jam tangan yang didesain khusus yang bisa mengetahui lintasan bola.

Jadi, tidak ada alasan bagi kompetisi-kompetisi besar lain untuk tidak menerapkannya, khususnya kompetisi di Italia yang telah dinodai oleh berbagai macam kontroversi selama bertahun-tahun.

Setelah Gianluigi Buffon menghalau tembakan Sulley Muntari yang telah melewati garis gawang dalam laga Milan kontra Juventus pada 2012, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memutuskan bahwa penempatan dua wasit tambahan di sisi gawang sudah cukup. Kini, itu tidak diklaim cukup lagi.

Rudi Garcia pun mendukung pengenalan teknologi garis gawang setelah timnya menang dengan gol keberuntungan ke gawang Udinese dan ada beberapa pihak lain di Italia yang merasa itu tidak tepat bagi olahraga.

Musim yang mengecewakan bagi Milan semakin memburuk pada Selasa lalu saat takluk dari Sassuolo dengan dukungan para tifosi di kandang sendiri.

Setelah unggul cepat melalui gol Andrea Poli, Milan menampilkan permainan bertahan layaknya klub amatir yang ada di Terza Categoria, kasta kesembilan kompetisi sepak bola di Italia.

Rapuhnya lini belakang merupakan satu-satunya alasan, meski terpaut lima angka dari zona Liga Champions, mereka hanya meraih dua kemenangan dalam sepuluh laga terakhir di liga.

Tidak banyak yang mereka tunjukkan sebagai tim. Bukan hanya asyik menyerang, para pemain Milan kurang memberi dukungan satu sama lain dalam pergerakan tanpa bola. Selasa lalu, mereka kebobolan gol pertama karena tidak ada pemain yang mengantisipasi umpan dari lini tengah dan kemudian akibat tak satu pemain pun terlibat untuk bertahan dalam situasi bola mati.

Para pemain berpengalaman seperti Alex, Adil Rami, Michael Essien dan Riccardo Montolivo seharusnya memberi pengaruh, tetapi mereka kekurangan akal untuk membawa tim keluar dari keterpurukan.

Di luar lapangan, Milan adalah klub yang dilanda krisi. Di dalam lapangan, mereka bahkan lebih buruk. Pelatih Filippo Inzaghi hanya sebagian kecil dari pihak yang disalahkan atas rentetan hasil yang diraih Milan.

Satu tahun lalu, kekalahan dari Sassuolo menjadi akhir era Massimiliano Allegri di Milan. Dia lebih baik keluar dari itu.

Leonardo Bonucci tampil luar biasa dalam beberapa tahun terakhir bagi Juventus. Setelah mengalami kesulitan pada awal kariernya di Turin, bek tengah itu tampil lebih baik saat Antonio Conte mengubah sistem empat bek datar menjadi tiga bek tengah.

Dia paling cocok bermain sebagai orang terakhir, pola tiga bek memang tepat dengan karakter Bonucci. Itu bisa menutupi kelemahannya saat diinstruksikan untuk mengawal penyerang dan bereaksi lebih cepat terhadap pergerakan lawan.

Setelah tiga tahun bermain di bawah arahan Conte, Allegri kembali menjadikan Bonucci salah satu dari empat bek sejajar dan dia tidak berespon dengan baik.

Juventus kemasukan delapan gol dari 11 laga terakhir sejak perubahan formasi, Bonucci tampak sedikit kalah cepat saat harus melaksanakan tanggung jawabnya.

Saat pertandingan Liga Champions kontra Olympiakos, dia tak mampu bereaksi cukup cepat untuk mengantisipasi bola kedua di tiang dekat dan Juventus kebobolan. Sama halnya saat dia keluar dari posisinya dan ketinggalan ketika Manolo Gabbiadini mencetak gol penyeimbang Sampdoria kala bertandang ke Turin.

Kemudian Bonucci mengabaikan Dries Mertens di Piala Super Italia, membuat dia kesulitan untuk menghentikan Gonzalo Higuain mencetak gol penyeimbang yang akhirnya dimenangi Napoli lewat adu penalti.

Selasa lalu, dia meninggalkan Mauro Icardi. Striker asal Argentina itu akhirnya menyamakan skor dan membuyarkan kemenangan Juventus.

Bonucci merupakan salah satu andalan timnas Italia dalam beberapa tahun terakhir dan tetap menjadi pilihan terbaik Conte dengan pola tiga bek. Tetapi, Juventus membiarkan dia digempur lawan. Respon dia dalam beberapa pekan dan bulan mendatang akan memberi tahu seberapa dalam kualitas yang dimilikinya.

Tahun baru diawali dengan kemenangan tiga gol Lazio dan Napoli yang sama-sama bersaing demi posisi ketiga klasemen.

I Biancoceleste secara mengejutkan mampu menghajar Sampdoria, tetapi anak asuh Rafa Benitez juga mengalahkan Cesena pada waktu yang sama.

Ini merupakan babak awal dari 22 pertandingan tersisa untuk memperebutkan play-off Liga Champions. Kenyataannya, ini seperti pertandingan kelas bantam dibanding kelas berat ketika anda melihatnya lebih jauh.

FC Internazionale, Milan dan Fiorentina tampil seperti klub medioker, jauh dari perkiraan banyak kalangan, mendorong Lazio dan Napoli ke dalam persaingan sehat, tetapi mereka tampak belum siap untuk tampil di Liga Champions.

Napoli boleh saja meraih kemenangan signifikan sebelum jeda musim dingin, tetapi lini belakang belum terlihat kokoh. Mereka bukan hanya butuh kedalaman tim, tetapi juga pemain berkualitas hampir di semua posisi.

Sementara itu, Lazio yang dilatih Stefano Pioli, sangat terbantu dengan performa Felipe Anderson. Tetapi saat menunjukkan kelincahan dalam menyerang, para bek mereka justru tampil inkonsisten. Mereka tim yang cukup kuat, tetapi seharusnya lebih baik untuk ukurang penhuni 3-Besar.

Siapapun yang finis di peringkat ketiga harus menambah amunisi pemain untuk menghadapi Liga Champions musim depan. Tetapi, kekuatan materi tidak dimiliki banyak klub Italia.

Jangan tertipu dengan perbedaan empat poin Cagliari dari zona aman. Gianfranco Zola mendapat pekerjaan berat untuk menyelamatkan Cagliari dari degradasi.

Jika hasil bisa berbicara tentang posisi sebuah tim, kekalahan 0-5 di kandang Palermo dalam Derby delle Isole mungkin bisa jadi tolak ukur. Tuan rumah memperpanjang rekor tak terkalahkan dalam sembilan laga terakhir dengan penyelesaian yang mematikan dan performa elegan, anak asuh Zola tampil sangat buruk seperti beberapa laga lain musm ini.

Selain dua kemenangan tandang melawan Inter dan Empoli, Cagliari tampil buruk sejak musim panas lalu. Cukup mengejutkan, Zdenek Zeman harus berhenti melatih hanya beberapa hari jelang Natal.

Apa yang dia tinggalkan adalah kekacauan, dan mantan pemain Napoli, Chelsea dan timnas Italia, Zola kini memiliki pekerjaan rumah yang berat.

Wajar jika menunjukkan optimisme, Zola mencoba untuk menempatkan mental kuat setelah pertandingan.

"Kami tidak memulai 2015 dengan baik. Kami tidak perlu mengasihani diri sendiri," tutur Zola kepada Sky Sport.

"Kami harus melakukan sesuatu di bursa transfer, tetapi performa ini tidak mencerminkan kualitas Cagliari. Serie A adalah kompetisi yang sulit dan kami harus bekerja lebih keras. Kami tidak bisa membiarkan kesalahan seperti ini," imbuhnya.

Realitanya, banyak hal yang harus dikerjakan. Tim besutan Zola kurang pemain bernaluri mencetak gol dan yang memiliki teknik saat menguasai bola. Selain itu, Albin Ekdal, salah satu top skorer mereka, hanya mencetak satu gol di luar hat-trick yang dibuatnya ke gawang Inter.

Cagliari telah banyak mengalami banyak masalah internal dalam beberapa tahun terakhir, membuat mereka harus melakoni partai kandang lebih jauh dari seharusnya dan tidak pernah tampil seburuk saat ini sejak 2008 lalu.

Mereka tampil luar biasa pada paruh kedua musim itu meski mendapat pengurangan tiga poin. Kenyataannya, butuh keajaiban lain untuk mengangkat mereka dari keterpurukan.

Selamat datang kembali, Gianfranco!

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics