SPESIAL: Lima Hal Yang Harus Dihindari Liestiadi

Debut manis sebagai pelatih kepala Persiba tak boleh membuat Liestiadi terlena.

LIPUTAN ABRAHAM JOHAN DARI BALIKPAPAN
Liestiadi berhasil mengawali debutnya sebagai pelatih Persiba Balikpapan dengan manis. Ya, dia berhasil membawa tim Beruang Madu menuai kemenangan di laga resmi pertamanya sebagai pelatih kepala, usai menumbangkan Putra Samarinda dengan skor tipis 1-0.
Namun begitu, kemenangan tersebut tak boleh membuat Liestiadi terlena. Mantan asisten pelatih timnas Indonesia era Wim Rijsbergen ini harus belajar banyak dari kegagalan yang dilakukan pelatih sebelumnya Jaya Hartono.
Jaya sendiri saat ini ditempatkan sebagai Direktur Teknik Persiba, setelah sebelumnya sempat berpamitan pada pertengahan pekan lalu. Jaya yang pada awal musim begitu optimistis bisa mengangkat prestasi Persiba, justru gagal memenuhi target manajemen untuk berada di posisi papan tengah klasemen.
Saat Persiba ditinggalkannya, tim asal Balikpapan ini masih berada di posisi kesepuluh klasemen wilayah timur alias zona degradasi. Goal Indonesia mencoba merangkum lima hal yang harus dihindari Liestiadi dalam menukangi Patrice Nzekou dan kawan-kawan. Berikut ulasannya:

Ketika Jaya datang, skuat Persiba memang sudah terbentuk sekitar 65 persen. Itu adalah hasil mempertahankan para penggawa musim lalu berdasarkan rekomendasi pelatih sebelumnya Herry Kiswanto. Sehingga mantan pelatih Persiram Raja Ampat itu hanya sedikit memilih pemain untuk melengkapi skuat.
Dari sedikitnya pilihan itu, Jaya mendatangkan tiga pemain asing pilihannya. Mereka adalah Ansu Toure, Carlos Ozuna, dan Fernando Gaston Soler. Bahkan, Soler direkrut tanpa melalui proses seleksi lebih dulu. Itu berdasarkan pengamatan pelatih berusia 50 tahun itu pada penampilan Soler saat berkostum Persebaya 1927 yang berkompetisi di Indonesia Premier League (IPL).
Ketika memperkuat Persebaya, penyerang asal Argentina itu memang cukup produktif dengan mengemas 16 gol. Tapi, ketika turun dengan kostum Persiba penampilannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Soler seperti kehabisan tenaga.
Sementara Ozuna hanya mampu menghasilkan satu gol. Kini, hanya tersisa Toure yang masih dipertahankan pada putaran kedua ini. Imbasnya, manajemen Beruang Madu saat ini sudah menggamit kembali dua pemain asing anyar. Adalah Pape Latyr Ndiaye, yang pada putaran pertama lalu gagal tampil apik bersama Gresik United, dan Patrice Nzekou yang dibuang Persebaya Surabaya.
Menarik untuk ditunggu, apakah Nzekou dan Pape Latyr bisa menjawab kepercayaan yang diberikan?

Sejak awal menukangi Persiba Jaya Hartono tidak memiliki skema permainan yang tetap, karena beberapa kali melakukan perubahan formasi. Khususnya ketika tim gagal meraih hasil positif. Di awal menukangi Persiba, Jaya selalu menyebut formasi idealnya adalah 4-4-2.
Namun belakangan, ketika Persiba gagal meraih hasil positif, Jaya kemudian kerap melakukan perubahan formasi mulai dari 4-3-3, 3-5-2, dan kembali lagi ke 4-4-2. Formasi yang berubah-ubah itu dilakukan hingga pertandingan ke-13 yang dilakoninya.

Jaya sendiri menjelaskan perubahan formasi itu merupakan kebutuhan strategi dan taktik yang diterapkannya. Khususnya menyesuaikan lawan yang akan dihadapi. Sehingga kerap terjadi perubahan susunan pemain.

Sejak awal, ketika melakoni debutnya di pentas ISL bersama Persiba, Jaya seperti tidak memiliki the winning team. Meski sebenarnya, dia memiliki waktu yang cukup untuk menentukan pemain-pemain utama dalam skuatnya.
Dari beberapa kali pertandingan, lini belakang dan lini tengah selalu terjadi beberapa kali perombakkan. Meski Jaya selalu mengatakan hanya memasang pemain yang mau berlatih keras dan mau menunjukkan permainan terbaik.
Namun nyatanya, perombakkan pemain yang kerap dilakukan justru membuat permainan Persiba angin-anginan dan terkesan monoton, baik di kandang maupun tandang. Buntutnya, hasil buruk yang dituai Persiba hingga berada di zona degradasi, sebelum kemenangan atas Pusam hari ini.

Saat ditunjuk manajemen untuk menjadi pelatih kepala, Liestiadi dibebankan target hanya finis di papan tengah klasemen akhir wilayah timur. Artinya, tidak terdegradasi pada musim depan.
Namun salah satu hal yang harus diperbaiki guna mewujudkan hal itu adalah dengan memperbaiki catatan tandang mereka. Tercatat, dari 14 laga yang telah dijalani Yudi Khoirudin dan kawan-kawan, mereka hanya bisa meraih satu kali kemenangan, dua kali imbang, dan empat kali menderita kekalahan.
Di samping itu, tim Beruang Madu juga harus memaksimalkan laga kandang mereka di putaran kedua ini. Modal bagus sudah didapatkan setelah menumbangkan Pusam hari ini. Tersisa tiga laga kandang yang harus dimenangkan Persiba. Jika berhasil disapu bersih, peluang Persiba untuk bertahan di papan tengah semakin terbuka.
Meski lawan yang akan dihadapi dalam tiga laga kandang terakhir adalah tiga wakil Papua, Persipura, Persiram, dan Perseru.

Kemenangan atas Pusam memang patut disyukuri. Tapi, kemenangan itu juga tak boleh membuat seluruh elemen di Persiba cepat berpuas diri.
Pasalnya, perjalanan yang harus dihadapi untuk bertahan di ISL musim depan masih cukup panjang dan berat. Tersisa tiga laga tandang dan tiga kandang yang harus dilalui Persiba pada putaran kedua ini.
Jika berhasil mengatasi PSM Makassar di laga selanjutnya, 8 Juni nanti, itu akan semakin menambah motivasi para penggawa Persiba. Liestiadi pun harus berperan sebagai motivator ulung sekaligus penetralisir di dalam timnya yang sedang dalam kepercayaan diri tinggi, usai kemenangan atas Pusam.(gk-54)

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.