SPESIAL: Lima Laga Persib Bandung - Arema Cronus Yang Paling Diingat

Goal Indonesia kembali mengulas lima laga yang paling diingat dalam bentrok Maung Bandung - Singo Edan.

LIPUTAN AHSANI TAKWIM DARI MALANG
Arema Cronus yang menjadi runner-up grup K babak delapan besar Indonesia Super League [ISL] 2014 akan berhadapan dengan Persib Bandung yang menjadi juara grup K. Dua tim itu mempunyai rekor pertemuan yang hampir seimbang. Dari pertemuan pertama pada 2002 [tanpa menghitung kompetisi Piala Utama], hingga pertemuan terakhir pada Mei lalu, kedua tim sudah bentrok 22 kali.

Persib lebih unggul sedikit dengan meraih sepuluh kemenangan, sedangkan tim Singo Edan baru bisa menuai delapan kemenangan. Sisanya, kedua tim bermain imbang. Tentu saja, setiap pertemuan kedua tim selalu memunculkan laga bertensi tinggi penuh gengsi.

Menjelang edisi ke-23 pertemuan kedua tim di babak semi-final ISL, 4 November nanti, Goal Indonesia mencoba memilah lima laga yang paling diingat dari Persib kontra Arema. Berikut ulasannya:

Tidak banyak generasi sekarang yang mampu mengingat laga itu, karena pertandingan semi-final antara Persib melawan Arema ini ada di Piala Utama tahun 1992. Sebuah hajatan dari PSSI yang mempertemukan empat tim terbaik dari kompetisi Perserikatan dan Galatama. Masing-masing grup diisi oleh dua tim Perserikatan dan dua tim Galatama. Di tahun itu, Arema yang merupakan juara Galatama punya tekad yang kuat untuk mengalahkan Persib Bandung.

Alasannya yang pertama, pada dua tahun sebelumnya di ajang yang sama, Persib mengalahkan Arema dengan skor tipis 1-0 lewat gol Adjat Sudrajat. Bukan kekalahan yang jadi permasalahan Arema kala itu, tapi selebrasi Adjat yang mengacungkan jari tengah kepada kiper Arema terasa sulit untuk tidak diingat. Kedua, Arema ingin mengawinkan gelar juara Galatama dengan Piala Utama dalam laga yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, itu.

Persib yang berstatus sebagai peringkat keempat dan tim paling fair play di kompetisi Perserikatan tahun 1992 bermain menyerang dan enjoy. Justru Arema yang lebih diunggulkan malah tampak terbebani. Bahkan, selama 90 menit Singo Edan bermain dalam tekanan Maung Bandung. Meskipun sempat unggul di menit ke-51 melalui kecepatan Maryanto. Namun, gawang Arema tidak kuasa menahan tiga gol beruntun dari Kekey Zakaria di menit ke 61, dan dua gol dari Sutiono (64 dan 80). Di akhir cerita, Persib yang masuk ke final harus puas menjadi runner-up setelah kalah di partai pemungkas melawan Pelita Jaya dengan skor 2-0.

Satu hal yang menjadi hiburan dari tim kebanggaan warga Pasundan itu adalah, Sutiono menjadi top skor dengan raihan lima gol.

Arema datang ke Bandung dengan status sebagai peringkat pertama grup barat. Saat itu, tim Singo Edan mampu meraup 11 poin dari enam pertandingan yang sudah dilakukan. Sementara Persib memulai awal musim dengan start buruk. Mereka kalah dari PSIS Semarang, Persijap Jepara, PSMS Medan, PSDS Deli Serdang, dan hanya menang sekali melawan PSIM Yogyakarta di lima laga pembuka.

Meskipun kekuatan seperti tidak seimbang di atas kertas. Namun, performa Persib di lapangan mempu beberapa kali merepotkan pertahanan Arema. Setelah 0-0 di babak pertama, suporter Persib yang sedikit nakal melakukan lemparan air seni yang dimasukkan ke dalam plastik. Sasarannya adalah kiper Arema, Kurnia Sandi.

Akibatnya, sang kiper kurang konsentrasi hingga kebobolan di menit ke-56 melalui gol yang dicetak Redouane Barkaoui. Pengalaman itu sendiri diceritakan oleh Kurnia Sandi. "Laga melawan Persib selalu seru, saya pernah mendapatkan lemparan itu ketika Persib susah menjebol gawang Arema, hal yang tidak pernah saya lupakan," kata mantan penjaga gawang timnas Indonesia itu, seperti dikutip dari Wearemania.

Sebelum bentrok pada laga ini, Arema dan Persib masih sangat sulit untuk bisa menang di kandang lawannya masing-masing. Namun, rekor itu pecah saat laga digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang. Dalam laga yang digelar tanpa penonton, Persib tampil lebih mendominasi. Tim Maung Bandung mampu mencetak gol perdana melalui Hilton Moreira di menit ke-11. Gol itu mampu ditambahkan oleh Cristian Gonzales di menit ke-62. Gonzales sendiri kini sudah berganti kostum menjadi penggawa Arema.

Hasil itu membawa Persib mampu bersaing dengan Persiwa Wamena untuk berebut jatah Piala AFC. Namun, meski di akhir kompetisi kedua tim mempunyai nilai yang sama 66 poin, Persib kalah selisih gol dari Persiwa. Sehingga harus rela menyerahkan satu jatah Piala AFC ke Persiwa.

Arema datang ke Bandung sebagai juara bertahan dan sedang mengejar pemuncak klasemen Persipura yang semakin menjauh. Laga yang dihelat di Stadion Siliwangi, Bandung, itu berlangsung dalam kondisi "panas". Usai bermain 0-0 di babak pertama, Arema mampu unggul lebih dahulu di menit ke-60 melalui Roman Chmelo. Tetapi sebuah insiden antara Muhammad Ridhuan dan Wildansyah di area pertahanan Persib sebelah kanan pada menit ke-65, membuat pertandingan rusuh.

Wasit terlihat ragu mengambil keputusan karena hakim garis tidak melihat kejadian dengan jelas. Di ruang ganti, mendiang Miroslav Janu yang menjadi pelatih Arema ketika itu menyatakan, wasit tidak bagus dalam memimpin dan menguntungkan Persib. Janu mengatakan jika gol yang dibuat oleh Atep sudah lebih dulu off-side. "Saya yakin wasit hanya ingin membuat pertandingan tidak rusuh kembali dengan cara mengesahkan gol Persib, namun hal ini tidak baik bagi kami. Ini poin yang harusnya kami dapat karena kartu merah Ridhuan sangat misterius sementara gol mereka juga lebih dahulu off-side," kata Janu.

Hal senada juga dituturkan manajer Persib, Umuh Muchtar. Menurut Umuh, wasit tidak memimpin pertandingan dengan baik. Bahkan, dirinya sangat setuju dengan nyanyian 'pindah ke LPI [Liga Primer Indonesia]' yang disuarakan Bobotoh. Mengingat, ketika itu sudah muncul kompetisi tandingan LPI untuk menyaingi ISL yang targetnya adalah melengserkan kepemimpinan PSSI era Nurdin Halid.

"Kami mendapatkan perlakuan buruk usai di Palembang dan Samarinda, wasit tidak memimpin pertandingan dengan baik. Jika kemarin melawan Persisam wasit buruk, maka kali ini lebih kasar. Kalau sudah begini, terus terang saja wasit di LPI lebih baik," kata Umuh, ketika itu.

Sejak saat itu, wasit yang memimpin laga tersebut, Najamudin Aspiran masuk daftar hitam Persib. Imbasnya, Persib tak mau bertanding jika wasitnya Najamudin. Tetapi, ancaman Persib untuk mengikuti LPI tidak terbukti meski di tahun 2012 sempat membuka pertandingan IPL melawan Semen Padang.

Ini merupakan salah satu laga ISL 2014 yang penuh drama. Pertandingan diawali oleh tim tamu Arema yang mampu unggul dua gol di babak pertama. Dua gol tersebut dicetak oleh Samsul Arif dan sepakan pojok Gustavo Lopez yang langsung menggetarkan jala gawang tim Maung Bandung.

Namun setelah itu, Persib bukannya semakin terpuruk justru mampu bangkit di babak kedua. Skuat yang dilatih Djajang Nurjaman itu baru bisa memecahkan kebuntuan melalui gol Djibril Coulibaly pada menit ke-52. Sontak, gol tersebut melecut semangat para penggawa tim tuan rumah. Skor akhirnya bisa disamakan Firman Utina pada menit ke-78.

Petaka bagi Arema datang di menit ke-83, setelah Makan Konate berhasil membobol kembali gawang Kurnia Meiga. Skor akhir 3-2 untuk kemenangan tuan rumah, dan bobotoh pun kembali bersorak. Tidak hanya itu, kemenangan tersebut membuat Persib memuncaki klasemen sementara wilayah barat.(gk-48)

//

>
RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.