SPESIAL: Sepuluh Momen Tak Terlupakan Dalam Karier Thierry Henry

Mari menapaktilasi momen-momen emas King Henry selama 20 tahun karier sepakbolanya!

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter
Salah satu striker tersohor Liga Primer Inggris, bahkan Eropa, akhirnya menyudahi petualangan sepakbolanya di usia 37 tahun. Dialah sang legenda hidup Arsenal Thierry Henry.
Banyak memori hebat yang ditinggalkan Titi, terutama saat dia menggapai puncak supremasi kariernya bersama The Gunners. Di bawah komando Arsene Wenger, Henry mampu menghasilkan total 226 gol dari 368 penampilannya. Kepergian Henry ke Barcelona pun tetap harum setelah dia mewariskan serangkaian gelar domestik. Bahkan, berkat jasa-jasa besarnya bagi klub London Utara dia pun dibuatkan patung di halaman Emirates sebagai wujud penghormatan pada dirinya.
Secara keseluruhan, King Henry, begitu loyalis Arsenal menyebutnya, di level klub telah bermain di 627 laga dengan mengoleksi 343 gol, sedang di tingkat internasional dia sudah membuat 123 caps dengan torehan 51 gol. Tak berhenti di situ, gelar demi gelar dari kancah liga, Eropa hingga Piala Dunia menjadi bukti sahih jika Henry meninggalkan sepakbola dengan segudang pengalaman spektakuler.
Henry mengakhiri karier profesionalnya sebagai pemain New York Red Bulls, Selasa [16/12] kemarin, setelah kontraknya habis. Untuk mengenang sepak terjang sang legenda, Goal Indonesia mengajak Anda untuk mengilas balik momen-momen gemilang dan bersejarah yang pernah digoreskan King Henry dalam 20 tahun kariernya.

Setelah hilang arah di Juventus, Henry mendarat di Arsenal sebagai winger kiri, yang mana dia tak pernah membayangkan akan bagaimana karier dia dan akan jadi tipe pemain seperti apa dia di kemudian hari. Ini ditunjukkan di beberapa laga pertamanya dengam seragam The Gunners, namun dia mendapatkan reaksi dari koleganya dengan menyebut dia 'Perry Groves dari Prancis'.
Dia dipinggirkan setelah gagal mendulang gol di lima pertandingan perdananya, tapi setelah masuk sebagai pemain pengganti kontra Southampton, dia melepas sumbatan golnya lewat sebuah sepakan kencang dari tepi kotak penalti. Keran gol Henry memang tidak serta merta mengucur setelah itu, karena dia harus kembali melalui tujuh laga dengan kering gol.
Start buruknya di musim ini terdokumentasi dengan rapih, tapi di musim keduanya, Henry mulai menampakkan magisnya. Terhitung 24 gol dikoleksinya, termasuk sembilan gol yang dilakukan secara beruntun bagi klub dan negara ketika itu. Di sinilah orang-orang baru mulai mengatakan 'selamat datang Henry'.

Sikap arogan dalam sepakbola seringkali kita jumpai. Kadang kala hal-hal seperti ini memberikan warna hiburan tersendiri. Lihat saja pemain-pemain macam Eric Cantona, Cristiano Ronaldo atau Zlatan Ibrahimovic.
Henry dalam beberapa prilaku tertentu, berada di golongan ini. Sikap arogan dia terpancar ketika Arsenal bentrok dengan Wigan Athletic pada 2005. Henry mengambil tendangan bebas dari luar area wigan dengan cepat, tapi wasit Graham Poll menganulir sepakan bebas cepat itu dengan maksud itu dilakukan ketika para pemain dan peluit sang wasit semua sudah siap. Kejadian ini membuat pemain Prancis itu sedikit dongkol.
Ketika Poll menyatakan siap, apa yang terjadi? Henry akhirnya memilih mengeksekusi bola ke gawang lawan. Arahnya ke pojok dan mencium tiang gawang, yang lantas tak dapat dijangkau kiper lawan. Henry lalu kembali ke tim ofisial dan menyatkaan "Apa ini cukup?" sembari menunjukkan gerak bibir yang meremehkan. Kelas!

"Bagi saya, hal terindah adalah membuat umpan ketika Anda berada di posisi diri Anda yang akan mencetak gol," ujar Henry dalam sebuah interviu. "Anda tahu Anda cukup berpeluang mencetak gol, tapi justru Anda membagi bola."
Empat tahun Henry di Amerika Serikat kadang-kadang terasa begitu panjang. Henry memang ajaib. Kadang-kadang pula membuat bingung para lawan dengan trik-trik permainannya, seperti umpan-umpannya, tendangannya, sampai backheel dia peragakan.
Ada sejumlah gol fantastis bersama Red Bulls, tapi mungkin kenangan terbaik selama di Liga Utama Amerika Serikat datang pada tahun ini ketika dia menyervis Bradley Wright-Phillips dengan sentuhan backheel. Yang spesial, Henry tahu dia berada di posisi mencetak gol, tapi dia justru mengumpankan bola. "Saya bisa dan akan melakukan apa pun yang saya suka."

Semua tim sepakat, bermain bertahan dengan tingkat tinggi menghadapi Arsenal di era 2004 adalah jawaban, tapi juga berisiko tinggi. Inilah yang dirasakan betul manajer Leeds Eddie Gray ketika melawat ke Highbury kala itu.
Benar saja, karena Henry akhirnya bisa dengan leluasa menari-nari di pertahanan Leeds. Empat gol dalam kemenangan lima gol tanpa jawab lahir berkat letupannya.
Setelah sebelumnya mencetak gol penalti ala Panenka, gol keempat Henry menunjukkan ketenangan dan ketepatan dalam berposisi. Dia menggiring bola dari tengah lapangan usai mengelabui Gary Kelly dan Dominic Matteo untuk menuju muka gawang. Dari sisi kanan gawang dia melepas tendangan super dingin untuk melewati Paul Robinson sembari terjatuh dengan elegan.
"Saya sudah banyak melihat berbagai hal selama 25 tahun, tapi saya tidak pernah melihat pemain mana pun seperti dia," ujar Andy Gray, sang komentator di laga itu.

Di era millenium, pelan-pelan karier muda internasionalnya mulai terbentuk seiring keberhasilan Prancis secara back-to-back mendulang Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. Tapi yang paling melejit, bahkan kemudian mendapat pengakuan sebagai striker terbaik Prancis adalah masa ketika negaranya melakoni ajang empat tahunan di edisi 2006, terutama saat berhadapan dengan Brasil di perempat-final.
Laga ini juga ditandai dengan peforma mengilap terakhir Zinedine Zidane, yang seolah menggambarkan inilah akumulasi dari karier mempesona dia sebelumnya. Menjelang satu jam pertandingan, Zidane mengayunkan umpan tendangan bebas dari sisi kiri. Bola melayang deras tanpa bisa dijangkau pertahanan Brasil dengan kepala dan ia menemui Henry, yang sempat sedikit menahan bola di udara untuk kemudian menghentakkan sepakan voli ke pojok gawang Selecao.
"Kami ingin membuktikan jika apa yang terjadi di 2002 tidak lantas menghancurkan kami," tukas Henry selepas pertandingan, merujuk pada keterpurukan Prancis di Piala Dunia 2002.

Mengesalkan! Setiap orang memang ada sisi gelapnya. Henry tentu menjadi orang yang paling dimusuhi di Irlandia setelah melakukan aksi curang dengan sangat mencolok di tahun 2009 lalu, yang lantas menyingkirkan anak-anak Irish di babak play-off menuju putara final Piala Dunia 2010. Momen ini pun disebut-sebut sebagai kejadian handball kedua paling terkenal dalam sejarah dunia sepakbola yang luput dari mata wasit.
Tentu saja kejadian seperti ini tidak bisa sepenuhnya mengambinghitamkan Henry atas kegagalan Irlandia. Seperti halnya handball Luis suarez menghadapi Ghana beberapa bulan kemudian, sebab aksi 'tangan tuhan' seperti ini didasari dari tindakan naluriah bahwa 90 persen para pemain akan mengendalikan dirinya sendiri dalam posisi menguntungkan ketimbang sempat berpikir untuk berbuat curang secara terencana.
"Saya akan jujur, tentu itu adalah handball," aku Henry selepas laga. "Tapi saya bukan wasit. Saya justru yang bermain, lalu wasit yang menentukan. Tanyakan saja pada dia."

Sudah habiskah Henry? Kira-kira pertanyaan ini sedikit menggantung di benak para loyalis Arsenal ketika sang legenda kembali bergabung pada Januari 2012 dengan status pinjaman.
Namun para fans tak perlu khawatir. Hanya diperlukan waktu 10 menit untuk mengubur semua keraguan. Henry sendiri didatangkan untuk menutupi peran Gervinho dan Marouane Chamakh, di mana keduanya kedapatan tugas negara untuk tampil di Piala Afrika.
Dengan laga tersisa 12 menit lagi ketika Arsenal bentrok dengan Leeds di ronde ketiga Piala FA, Henry diperkenalkan. Emirates Stadium bergemuruh, setiap kali bola berada di kaki sang legenda para fans memberi sorakan hangat. Pertandingan beberapa saat lagi berakhir, Henry lalu mengambil posisi favoritnya, meminggir di sebelah kiri pertahanan lawan. Alex Song membelah pertahanan musuh dengan umpannya dan Henry melahapnyadengan gaya khas dia yang mengarahkan bola ke pojok gawang seperti yang telah dia lakukan untuk Arsenal selama bertahun-tahun.
Gol yang bisa kita sebut "Henry banget" datang di saat yang sempurna. Walau di waktu singkatnya dia tidak banyak memberi pengaruh, tapi satu momen di laga Leeds ini sudah cukup untuk kembali mengingatkan bahwa Sang Raja masih hidup!

Setelah menahbiskan diri sebagai striker mematikan di Liga Primer Inggris dan menjadi pemain kunci Arsenal, Henry melalui musim panas dengan memenangkan Kejuaraan Eropa bersama Prancis. Tentu saja dia pun comeback ke klub dengan kepercayaan diri tinggi.
Di musim ini rivalitas antara Arsenal dan Manchester United sedang mendidih dan seperti hanya melibatkan mereka berdua, sehingga ketika keduanya berjumpa segala sesuatunya meledak.
Sebelum laga ini Henry sejatinya sudah tak mencetak gol selama sebulan. Tapi sekali dia kembali berhasil mengoyak gawang, hanya ada satu yang tersisa: decak kagum. Ketika dia menerima sodoran dari luar kotak penalti dan dia membelakangi pertahanan lawan, orang-orang mengira bola akan ditahannya dulu untuk mencari ruang atau sekedar membagi kembali kepada rekan. Tapi tidak! Dengan hanya satu gerakan, dia mencutik sedikit bola lalu berputar dan... Tendangan voli indah dipertontonkan, yang membuat kiper terbaik dunia kala itu, Fabian Barthez, hanya melongo, melihat betapa presisinya lengkungan tendangan sang legenda.
"Saya tidak percaya! Anda akan mati kutu dengan gol seperti itu," sanjung Sir Alex Ferguson selepas pertandingan.

Dua kali Henry mengantar Barca juara liga, sekali Liga Champions, Copa del Rey dan tentu menjadi generasi terbaik klub tersebut. Bermain dengan nama-nama wahid sepeti Lionel Messi, Xavi, Andres Iniesta dan Samuel Eto'o bisa mengikis reputasi Henry. Tapi itu tidak terjadi, sang striker tetap mampu menarik perhatian tersendiri dengan penampilan-penampilan jeniusnya.
Pada medio 2008, Barcelona yang berada di puncak memegang keunggulan delapan poin dari peringkat kedua dan 12 angka meninggalkan Real Madrid di tempat kelima. Tapi setelahnya Real bangkit dan membabat 18 laga tanpa terkalahkan sebelum Barca berkunjung ke Santiago Bernabeu.
Jika Real menang, persaingan juara terbuka lebar, tapi pada akhirnya, angka 6-2 menjadi mimpi buruk bagi Los Blancos saat itu. Poin penting dari kemenangan ini adalah sepasang gol Henry yang memadamkan semangat juang Real, setelah Sergio Ramos sempat membuat gol pembuka.
Laga ini tidak hanya membuat Barca kemudian membuat gap tujuh poin, tapi benar-benar merusak spirit dan momentum juara Real di empat pertandingan tersisa pada musim itu.

Musim 2003/04 adalah pencapaian paling fenomenal Arsenal yang tak perlu diragukan lagi!
Kalau bukan karena Henry, mungkin sebutan era 'invincible' ini tidak akan pernah ada bagi Arsenal. Pasukan Gerarad Houllier memulai laga dengan sangat menjanjikan setelah memegang keunggulan dua gol: torehan Sami Hyypia dan Michael Owen.
Namun setelah itu, Anfield menjadi gelap, dan Henry bersinar! Mencetak gol yang menyamakan skor, setelah itu sepasang golnya lantas memastikan kemenangan 4-2 dan menjaga rekor mulus Arsenal. Gol-gol Henry di laga ini mengajarkan para penikmat sepakbola bagaimana membombardir petahanan lawan sekejap kilat.
Tanpa intervensi Henry di musim ini, rasanya jangan berharap ada kisah Arsenal era 'invincible'. Menjuarai liga memang mungkin, tapi goresan sejarah seperti ini akan abadi dikenang para fans.

//
//
//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics