SPESIAL: Tiga Calon Pemain Bintang Dari Semen Padang

Ada tiga pemain yang disebut-sebut sebagai calon bintang Semen Padang di musim-musim mendatang. Siapa saja mereka?

LIPUTAN RIZAL MARAJO DARI PADANG

Jika ada yang iseng membuat polling, dengan pertanyaan tim tanpa bintang mana yang bisa bersaing di Indonesia Super League (ISL) 2014? Kemungkinan jawaban terbanyak yang masuk adalah Semen Padang FC.

Ya, tim kebanggaan masyarakat Sumatera Barat ini memang konsisten dengan sikapnya, yaitu lebih mengandalkan team work sebagai kekuatan tim, ketimbang bergantung pada skill individu pemain yang berlabel bintang.

Tak mengherankan, jika diperiksa daftar belanja Semen Padang dari tahun ke tahun, kebanyakan isinya adalah pemain-pemain yang tak punya nama besar atau selebritis lapangan hijau Indonesia. Selain itu, hanya ada pemain yang sedang redup sinarnya, atau pemain muda yang masih minim pengalaman.

Akan sulit mencari kalau-kalau ada menyelip nama beken, berharga mahal, berlabel pemain timnas, atau pemain asing yang berkategori bintang empat. Kalaupun ada, mungkin itu hanya anomali yang sangat langka terjadi.

Semen Padang sejak dulunya memang tercatat sebagai tim yang tak mau instan dalam meraih prestasi. Mereka lebih memilih mengasah pemain biasa-biasa saja jadi luar biasa, memoles pemain redup jadi bersinar lagi, dan mengorbitkan pemain muda binaan mereka menjadi pemain yang siap bersaing di kompetisi nasional.

Tak terkecuali musim ini, skuat yang kini ditukangi Jafri Sastra juga tak mentereng-menterang amat. Tapi kepintaran memaksimalkan pemain yang ada, membuat Semen Padang tetap diperhitungkan di kompetisi ISL tahun ini. Konsekuensi dari sikap tersebut, musim ini muncul beberapa pemain yang mulanya biasa-biasa saja, tapi menarik perhatian publik karena permainan yang terus meningkat. Sehingga layak disebut sebagai calon-calon bintang.

Berikut ini Goal Indonesia mencoba mengupas tiga pemain yang diorbitkan Semen Padang musim ini. Berikut ulasannya:

Ricky didatangkan Semen Padang dari Persih Tembilahan musim 2011/2012, ketika memutuskan berlaga di Indonesia Premier League (IPL). Kedatangan Ricky sempat disambut sinis banyak fans Semen Padang. Kalau hanya untuk jadi pemain cadangan, masih banyak putra daerah yang antre masuk tim, bahkan lebih bagus.

Tapi Nilmaizar yang memasuki periode keduanya sebagai pelatih, tak bergeming. Naluri kepelatihannya sudah mencium, pemain kelahiran Tulehu, Maluku ini punya sesuatu, dan layak bergabung dengan Semen Padang. Serbabisa, itulah kunci yang dipegang Nil tentang sosok Ricky. Bek sayap dan sayap murni, adalah posisi ideal Ricky, kiri dan kanan bisa sama baiknya.

Memang tak serta merta masuk tim inti, tapi Ricky tetap tekun menunggu kesempatan. Sempat masuk timnas Indonesia bersama Aji Santoso melawan Bahrain di kualifikasi Piala Asia yang berbuntut kekalahaan 10-0, tak membuat Ricky ikut tenggelam.

Kesempatan bermain di Semen Padang mulai didapat musim 2012/13, walau masih banyak sebagai pemain pengganti. Tak mudah memang bersaing dengan pemain yang lebih senior. Di bek kanan, masih sulit menggeser Hengki Ardiles, bek kiri sudah ada Novan Setya Sasongko, sayap kanan ada Ellie Aiboy. Winger kiri? Makin ngeri, karena itu milik Esteban Vizcarra.

Tapi musim ini, kesempatan Ricky makin terbuka, seiiring mulai menurunnya performa kapten tim Hengki. Sepanjang fase grup, Ricky kerap masuk menggantikan Hengki di pertengahan babak kedua. Nampaknya dia memang diplot sebagai calon suksesor Hengki, dan itu dilakoninya dengan baik.

Bahkan dua laga terakhir babak delapan besar, Ricky benar-benar sudah mampu menggantikan Hengki. Tampil starter melawan Persipura Jayapura dan Persela Lamongan, pemuda 167 cm ini unjuk kemampuan. Kuat bertahan dan bagus dalam menyerang, membuat Hengki harus rela "parkir" untuk sementara.

Ternyata menggantikan tugas kapten tim yang selama ini nyaris tak tergantikan, tak menjadi tekanan bagi Ricky. "Saya hanya ingin bermain semaksimal mungkin, starter atau pengganti sama saja, yang penting saya akan menjaga kepercayaan pelatih sebaik mungkin," tuturnya.

Ketika hendak direkrut Semen Padang musim 2011/2012, nama Saepulloh juga menjadi perdebatan. Bukan antara pelatih dengan fans, tapi antara Penasehat Teknik Suhatman Imam dan pelatih Nilmaizar.

Saat itu, Nil ingin mengambil Ipul - panggilan akrab Saepulloh - sebagai pelapis Abdul Rahman sebagai bek tengah. Sementara Suhatman ingin memaksimalkan Zico Aipa, putra daerah yang baru saja dipromosikan dari Semen Padang U-21.

Nil berpendapat, tipikal Ipul lebih cocok dengan tim, bahkan dalam beberapa sisi lebih unggul dari Abdul Rahman. Jika ambil Ipul, tim memiliki dua bek tengah yang sama bagusnya sebagai pendamping David Pagbe. Sementara Suhatman beralasan Zico adalah putra daerah yang sudah layak diorbitkan.

Perdebatan nyaris tak berujung, akhirnya pihak yang berdebat sepakat setelah berkonsultasi dengan manajemen tim. Diputuskan memberi kesempatan bagi Ipul dan Zico untuk bersaing secara sehat. Pada perkembangannya, Ipul lebih menunjukan kemajuan yang lebih dibanding Zico.

Buktinya, ketika Nil tak lagi dalam tim menuju timnas Indonesia, nama Ipul tetap eksis sampai musim ini. Lelaki Bogor yang santun dan penyandang gelar akademik S1 ini, memang terkenal disiplin, gigih berduel, punya intersep bagus, dan selalu tampil dengan semangat juangnya yang tinggi.

Kelebihan sebagai bek tengah modern itulah yang membuat Zico, Abdul Rahman, Wahyu Wijiastanto, harus memberi ruang lebih besar pada Ipul untuk tampil. Sejak musim 2012/13, Ipul postif merebut posisi inti dan sulit tergantikan. Beberapa kali panggilan seleksi timnas pun didapatnya, walau hanya sebatas seleksi, tapi sesungguhnya dia sangat pantas memakai jersey Merah Putih.

Bahkan, musim ini Ipul boleh dikatakan sudah berada di puncak kematangannya. Catatan 20 kali tampil sebagai starter mengawal lini belakang, adalah bukti dia memang jendral di pertahanan Semen Padang saat ini. Walaupun dua laga kandang babak delapan besar dia diistirahatkan, tetapi itu semata karena kondisinya tak 100 persen.

Namanya memang singkat, hanya empat huruf saja. Sebagai tambahan nama tak resmi, rekan-rekannya menyebut Rudi sebagai Rudi Doang. Tapi apalah arti sebuah nama, kata penyair Shakespeare.

Rudi, satu dari sedikit putra daerah yang menghuni skuat Semen Padang musim ini. Sudah tergabung bersama tim senior Semen Padang sejak ISL musim 2010/11, bersama pelatih Nilmaizar. Mantan kapten tim PON 2008 Sumatera Barat dan jebolan PPLP Sumbar ini, dipandang sebagai gelandang yang potensial.

Cuma, walaupun sudah musim keempat di 'Kabau sirah', Rudi tak kunjung mendapat menit bermain yang banyak. Dari tahun ke tahun, ia kalah bersaing dengan gelandang-gelandang lain, seperti Yu hyun-ko, Vendry Mofu, Eka Ramdani, Jajang Paliama, atau M.Rizal. Akibatnya, membuat Rudi harus sabar menunggu kesempatan.

Kesabaran Rudi mulai membuahkan hasil musim ini. Pelatih, mulai memberi Rudi kesempatan lebih banyak dalam bermain. Pertama kali diturunkan sejak menit awal saat Semen Padang menjamu Persik Kediri. Sayangnya, Rudi grogi dan bermain buruk. Akibatnya ia sudah harus di ganti ketika babak pertama belum usai.

Tapi itu bukan akhir, potensi besar Rudi yang terletak pada visi bermain, skill yang unik, serta memiliki tendangan jarak jauh yang bagus, membuat Jafri tak serta merta mengabaikannya. Suntikan motivasi terus diberikan.

Tanpa diduga, saat melakoni laga kandang babak delapan besar melawan Persipura, nama Rudi muncul di starting line up. Bukan perjudian Jafri memberinya kesempatan melawan tim sekaliber Persipura, karena Jafri sepenuhnya percaya. Rudi menjawab tantangan dengan tampil hebat. Dia mampu memberi warna lapangan tengah Semen Padang, dan sukses membantu timnya menang 1-0.

Tak sampai di sana, di laga berikutnya melawan Persela, Rudi kembali starter. Kesempatan ini tidak di sia-siakannya. Bahkan ia sukses mencetak gol penyama melalui tendangan bebas yang cantik. Gol krusial yang mengangkat moral tim, sehingga akhirnya Kabau Sirah mampu membalikkan keadaan menang 4-2.

"Saya hanya ingin bertanggung jawab atas kepercayaan pelatih, dan berusaha menampilkan permainan terbaik setiap kesempatan yang diberikan," ucapnya, merendah tentang dua penampilan briliannya itu.

Jika bisa menjaga konsistensi pemainan, bahkan meningkatkan performanya, terbuka kesempatan untuk menjadi tulang punggung tim untuk beberapa tahun ke depan. Rudi punya segalanya untuk menjadi gelandang ideal. Yang dibutuhkannya sekarang adalah menit bermain yang lebih banyak. (gk-33)

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.